Hypophrenia adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan rasa sedih, kehilangan semangat, atau emosi yang terasa datar tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini dapat membuat seseorang kurang berenergi, sulit merasakan kebahagiaan, dan tidak mampu mengekspresikan emosinya secara normal.

Hypophrenia merupakan istilah yang mungkin masih terdengar asing, karena tidak sepopuler istilah depresi atau gangguan kecemasan. Meski begitu, kondisi ini bisa membuat penderitanya sulit merasakan kebahagiaan, kehilangan motivasi, hingga mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi secara normal.

Hypophrenia, Kondisi Ketika Seseorang Merasa Sedih Tanpa Alasan - Alodokter

Dengan memahami hypophrenia, Anda bisa lebih peka terhadap gejala yang muncul pada diri sendiri maupun orang terdekat.

Gejala Hypophrenia yang Perlu Diwaspadai

Gejala hypophrenia sering kali dianggap sebagai masalah suasana hati biasa, sehingga jarang disadari oleh penderitanya. Berikut ini adalah beberapa tanda yang bisa muncul pada penderita hypophrenia:

  • Kehilangan minat atau kesenangan pada aktivitas sehari-hari
  • Emosi datar atau tumpul
  • Mudah merasa sedih tanpa alasan jelas
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Mudah lupa
  • Sulit tidur atau tidur berlebihan
  • Nafsu makan menurun atau meningkat drastis

Pada sebagian kasus, hypophrenia muncul sebagai bagian dari kondisi lain, seperti skizofrenia, depresi berat, atau efek samping obat-obatan tertentu. Oleh karena itu, gejalanya dapat disertai keluhan fisik atau psikologis lain yang lebih spesifik.

Penyebab Hypophrenia

Penyebab hypophrenia hingga saat ini belum sepenuhnya dipahami. Namun, ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya hypophrenia, di antaranya:

1. Stres

Stres yang berlangsung lama, seperti tekanan dalam belajar, konflik keluarga, kehilangan orang yang dicintai, atau masalah ekonomi, dapat menjadi pemicu munculnya hypophrenia. Kondisi-kondisi tersebut membuat seseorang lebih rentan mengalami perubahan suasana hati hingga akhirnya kesulitan mengekspresikan emosi dengan wajar.

Jika stres atau beban emosi tidak segera diatasi, lama-kelamaan bisa berdampak pada kesehatan mental. Hal ini dapat membuat seseorang kehilangan semangat, mudah sedih, bahkan sulit merasakan kebahagiaan, sehingga menyebabkan hypophrenia.

2. Gangguan neurologis

Gangguan pada otak juga berperan sebagai salah satu penyebab hypophrenia. Penyakit seperti skizofrenia, demensia, atau stroke dapat memengaruhi kemampuan otak dalam mengolah dan mengekspresikan emosi, sehingga muncul gejala hypophrenia.

Seseorang yang mengalami cedera kepala atau kondisi medis yang menyerang sistem saraf juga bisa mengalami perubahan emosi yang cukup signifikan. Gejala hypophrenia biasanya muncul seiring dengan gangguan fungsi otak tersebut.

3. Efek samping obat-obatan

Beberapa obat tertentu, terutama obat penenang atau antipsikotik, dapat memberikan efek samping berupa penurunan kemampuan mengekspresikan emosi. Penggunaan obat ini dalam waktu lama bisa memicu munculnya hypophrenia.

Jika terjadi perubahan emosi atau muncul rasa hampa setelah mengonsumsi obat-obatan tertentu, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Hal ini penting agar penyesuaian obat bisa dilakukan, sehingga efek samping tersebut tidak berlanjut.

4. Riwayat gangguan mental

Orang yang punya riwayat gangguan mental, seperti depresi, gangguan bipolar, atau gangguan kecemasan, cenderung lebih berisiko mengalami hypophrenia. Hal ini karena gangguan mental bisa memengaruhi cara seseorang mengolah dan mengekspresikan emosi.

Selain itu, bila keluarga dekat juga memiliki riwayat gangguan kejiwaan, risiko mengalami hypophrenia bisa semakin tinggi. Oleh sebab itu, penting untuk lebih peka terhadap perubahan suasana hati atau ekspresi emosi, terutama bila punya riwayat masalah serupa.

5. Pola hidup tidak sehat

Pola hidup tidak sehat, seperti kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, serta jarang berolahraga, juga dapat meningkatkan risiko hypophrenia. Hal ini karena gaya hidup tidak sehat bisa berpengaruh terhadap kesehatan otak dan suasana hati.

Jika dibiarkan, kondisi tersebut lama-kelamaan bisa menyebabkan energi menurun dan perasaan mudah lelah, sehingga memengaruhi ekspresi emosi sehari-hari.

Penanganan Hypophrenia

Penanganan hypophrenia bisa berbeda-beda, tergantung pada penyebab, tingkat keparahan gejala, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Berikut beberapa langkah penanganan yang umumnya disarankan:

  • Konseling dengan psikolog atau psikiater. Hal ini dapat membantu mengatasi stres, mengenali emosi, dan melatih cara mengekspresikan perasaan secara sehat.
  • Pengobatan medis dengan antidepresan atau antipsikotik.
  • Penyesuaian atau penghentian obat tertentu jika disebabkan oleh efek samping obat.
  • Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar. Hal ini bertujuan untuk membantu pemulihan emosi dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
  • Perubahan gaya hidup sehat, seperti tidur cukup, konsumsi makanan bergizi, olahraga secara rutin, kelola stres.
  • Rehabilitasi medis atau terapi khusus jika terkait gangguan otak.

Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan tanda-tanda hypophrenia, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Layanan Chat Bersama Dokter melalui aplikasi ALODOKTER bisa menjadi langkah awal yang mudah dan aman untuk memahami kondisi serta menentukan penanganan yang tepat. 

Namun, jika gejala semakin berat atau disertai pikiran menyakiti diri, segera lakukan konsultasi tatap muka dengan psikolog agar penanganan bisa diberikan sedini mungkin.