Pubertas merupakan masa di mana seorang anak mengalami perubahan yang ditandai dengan mulai aktifnya organ seksual di tubuhnya. Proses ini terjadi karena perubahan hormon, dan umumnya mulai terjadi saat anak memasuki usia remaja.

Normalnya, pubertas terjadi pada kisaran usia 10 hingga 15 tahun untuk anak laki-laki. Sedangkan pada perempuan pubertas terjadi lebih cepat, yaitu pada usia 9 hingga 14 tahun. Meski begitu, pubertas juga bisa terjadi terlambat atau bahkan lebih awal.

Ini Akibatnya Jika Anak Anda Mengalami Pubertas Dini - Alodokter

Pubertas yang terjadi lebih awal atau pubertas dini dimulai pada usia 9 tahun untuk anak lelaki dan 8 tahun bagi anak perempuan. Terkadang, hal ini dapat memengaruhi kondisi emosi anak. Anak mungkin merasa tidak siap dengan perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan menjadi berbeda dengan teman-teman sebayanya. Demikian juga dengan orang tua, yang dapat merasa khawatir dengan perubahan dini yang terjadi pada anaknya.

Ini yang Berubah Saat Anak Pubertas Dini

Pubertas dini ternyata tidak hanya memengaruhi fisik dan/atau emosi anak pada saat itu saja, namun juga bisa memengaruhi perubahan diri anak di kemudian hari. Berikut ini adalah beberapa hal yang terjadi saat pubertas:

  • Fisik
    Anak perempuan akan mulai mengalami pembesaran pada payudaranya, muncul jerawat, mengalami menstruasi, bulu ketiak dan rambut kemaluan mulai tumbuh, serta aroma badan yang mulai berubah. Sedangkan pada laki-laki, suara akan menjadi lebih berat, aroma tubuh mulai berubah, muncul jerawat, organ reproduksi mulai membesar, pertumbuhan tinggi badan melesat.
  • Emosi
    Pubertas dini yang mengubah bentuk fisik anak lebih cepat dibandingkan dengan teman sebayanya dapat memengaruhi emosi anak. Misalnya saja, pada anak perempuan yang mengalami menstruasi dini, ia dapat mengalami depresi dan cemas, karena kebingungan atas perubahan yang terjadi pada dirinya. Bisa  juga terjadi penurunan rasa percaya diri akibat perubahan yang ia alami.
  • Postur tubuh
    Durasi terjadinya pubertas dini tidak sama dengan pubertas normal. Hal ini berarti masa berlangsung pubertas dini lebih pendek. Akibatnya, ketika pubertas dini berhenti lebih awal, maka pertumbuhan tinggi badan anak juga akan berhenti lebih awal.
    Jika demikian, anak tidak akan mengalami pertumbuhan tinggi badan lagi karena pertumbuhan tulang sudah berhenti dan rangka tubuh anak sudah matang. Sehingga ketika dewasa, anak yang mengalami pubertas dini cenderung berpostur lebih pendek dibandingkan dengan teman sebayanya.
  • Perilaku
    Tidak hanya emosi yang dapat terpengaruh oleh pubertas dini, tapi juga perilaku anak. Misalnya saja, sebagian anak laki-laki yang mengalami pubertas dini dapat memiliki hasrat seks yang lebih untuk anak seusianya. Sedangkan anak perempuan dapat menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, dan emosinya bisa naik turun. Meski begitu, kondisi ini masih memerlukan lebih banyak penelitian.
  • Risiko penyakit
    Selain dapat memengaruhi perkembangan psikologi dan perilaku anak, pubertas dini juga diperkirakan dapat menimbulkan risiko penyakit di kemudian hari. Salah satunya adalah risiko kanker payudara pada perempuan, obesitas, dan tumor otak. Namun, hal ini masih diperlukan penelitian lebih mendalam guna membuktikan bahwa memang ada kaitannya antara pubertas dini dan penyakit-penyakit tersebut.

Pubertas dini adalah kondisi yang perlu dikonsultasikan ke dokter anak, agar dapat diberikan penanganan bila dibutuhkan. Mengalami pubertas dini tentu bukanlah hal yang mudah bagi anak. Sebagai orang tua, pada saat seperti ini ada baiknya Anda lebih mendekatkan diri dengan anak. Berikan penjelasan secara jelas tentang apa yang sedang terjadi dalam dirinya dan bagaimana cara menghadapinya.

Sekalipun pubertas dini dapat memengaruhi kondisi anak di kemudian hari, namun sebenarnya tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Jadi, tetap dampingi anak Anda dengan tenang.