Kudis adalah kondisi yang ditandai dengan gatal di kulit, terutama di malam hari. Gatal ini disertai dengan kemunculan ruam berbintik yang menyerupai jerawat atau lepuhan kecil bersisik. Kondisi ini terjadi akibat tungau yang hidup dan bersarang di kulit.

Kudis atau scabies merupakan penyakit yang mudah menular, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Penyakit ini sangat mudah menyebar, terutama jika ada kontak dekat antarmanusia di suatu lingkungan.

alodokter-kudis

Di Indonesia, kudis banyak ditemukan di wilayah padat penduduk, area kumuh, dan pondok pesantren. Karena mudah menular, penanganan scabies perlu dilakukan secara menyeluruh pada kelompok yang terpapar penyakit ini.

Penyebab Kudis

Kudis disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Tungau ini mengeluarkan air liur, telur, dan kotoran. Hal tersebut memicu respons dari sistem kekebalan tubuh sehingga menimbulkan gatal.

Siklus perkembangan parasit tungau dimulai ketika tungau betina masuk ke kulit manusia, kemudian membuat lubang yang menyerupai terowongan untuk dijadikan sarang. Selanjutnya, tungau jantan akan memasuki sarang tersebut untuk kawin dengan tungau betina.

Setelah kawin, tungau jantan akan mati dan tungau betina akan mulai bertelur di sarang tersebut. Telur akan menetas 3–4 hari setelahnya. Setelah menetas, tungau muda akan keluar ke permukaan kulit selama 1–2 minggu ke depan sampai mereka tumbuh menjadi tungau dewasa.

Setelah dewasa, tungau jantan akan menetap di permukaan kulit. Sementara tungau betina akan masuk lagi ke dalam kulit untuk membuat sarang baru dan mengulang siklus yang sama.

Perlu diketahui, tungau kudis adalah parasit yang tinggal di lapisan kulit yang dalam. Hal ini membuatnya kebal terhadap sabun dan air panas, serta tidak akan hilang jika kulit hanya digosok-gosokkan. Tanpa penanganan yang tepat, tungau akan terus berkembang biak dan siklus perkembangan tungau akan terus berlanjut.

Tungau Sarcoptes scabiei tidak bisa terbang atau melompat sehingga penularannya hanya dapat terjadi melalui dua cara, yakni:

Kontak langsung

Tungau dapat menular dengan mudah melalui kontak langsung dengan penderita kudis, seperti pegangan tangan dalam waktu yang lama atau hubungan seksual. Namun, kontak fisik yang singkat, seperti berjabat tangan atau berpelukan, hanya berpotensi kecil menularkan tungau.

Kontak tidak langsung

Meski jarang, tungau juga bisa menular melalui kontak tidak langsung, misalnya ketika berbagi penggunaan pakaian, handuk, atau tempat tidur dengan penderita kudis. Hal ini dapat terjadi karena tungau bisa menetap selama 2–3 hari di benda tertentu.

Scabies juga dapat menyerang hewan, seperti anjing dan kucing. Namun, parasit kudis dari hewan tidak dapat menular ke manusia karena perbedaan jenis tungau antara keduanya. Tungau dari hewan tidak bisa berkembang di kulit manusia dan hanya akan menimbulkan gejala ringan di kulit.

Semua orang dapat tertular kudis. Namun, ada beberapa kelompok yang memiliki risiko tinggi untuk tertular penyakit ini, yaitu:

  • Orang yang tinggal di lingkungan padat penduduk
  • Bayi dan anak-anak
  • Orang lanjut usia, terutama yang tinggal di panti jompo
  • Orang dewasa yang aktif secara seksual
  • Seseorang yang tengah menjalani rawat inap
  • Petugas kesehatan yang merawat pasien dengan kudis
  • Seseorang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS atau kanker

Gejala Kudis

Gejala kudis atau scabies pertama kali muncul 4–6 minggu setelah kulit terpapar tungau. Namun, pada orang yang sebelumnya pernah terkena kudis, gejala biasanya berkembang lebih cepat, yakni sekitar 1–2 hari setelah paparan tungau.

Kudis ditandai dengan rasa gatal hebat di kulit, terutama di malam hari sehingga membuat penderitanya terbangun di malam hari. Selain itu, akan timbul ruam bintik-bintik menyerupai jerawat yang membentuk garis, atau juga dapat berupa lepuhan kecil dan bersisik.

Pada orang dewasa, ruam paling sering ditemukan di sela-sela jari, pergelangan tangan, ketiak, payudara dan puting, serta bokong. Selain itu, ruam juga dapat muncul di area:

  • Siku
  • Penis
  • Pinggang
  • Lutut

Sedangkan pada bayi dan balita, gejala dapat muncul di area:

  • Kepala
  • Wajah
  • Leher
  • Telapak tangan
  • Telapak kaki

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami keluhan di kulit yang diduga sebagai tanda penyakit kudis. Selain kudis, keluhan tersebut juga bisa disebabkan oleh kondisi kulit lain. Maka dari itu, dokter akan membantu menemukan penyebab pasti sekaligus menentukan penanganan yang tepat untuk Anda.

Jika Anda telah melakukan kontak erat dengan penderita scabies, periksakan diri ke dokter meski belum ada gejala yang muncul di kulit. Pemeriksaan dan penanganan lebih awal dapat membantu meredakan gejala yang mungkin muncul di kemudian hari.

Diagnosis Kudis

Dokter akan terlebih dahulu menanyakan riwayat munculnya gejala dan faktor yang diduga menyebabkan pasien tertular kudis. Selanjutnya, dokter akan menjalankan pemeriksaan fisik.

Setelah itu, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan gejala disebabkan oleh kondisi lain, seperti alergi obat, eksim, dan dermatitis. Beberapa pemeriksaan tersebut adalah:

Uji tinta

Tes ini dilakukan dengan mengoleskan tinta khusus di area kulit yang bermasalah. Setelah itu, kulit akan dibasuh dengan kapas yang mengandung alkohol. Jika ada sarang tungau, tinta akan tertinggal di kulit dan membentuk garis-garis kecil.

Pemeriksaan mikroskopis

Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengikis sebagian kecil area kulit yang bermasalah, untuk diperiksa di bawah mikroskop. Tujuannya adalah untuk mendeteksi tungau yang tidak terlihat secara kasat mata.

Pengobatan Kudis

Penanganan scabies bertujuan untuk membasmi tungau, meredakan gatal dan peradangan, serta mengatasi infeksi sekunder, seperti dijelaskan di bawah ini:

Membasmi tungau

Untuk membasmi tungau dan telurnya, dokter akan meresepkan obat scabies yang biasa dioleskan saat malam hari. Obat oles yang diresepkan dokter antara lain:

  • Krim permethrin 5%
  • Krim krotamiton 10%
  • Losion benzil benzoate 25%
  • Sulfur presipitatum (5–10%)
  • Losion indane (1%)

Mengurangi gatal dan peradangan

Dokter akan meresepkan krim steroid ringan yang dapat meredakan gatal dan peradangan di kulit pasien. Pasien juga dapat diberikan antihistamin oral, yang dapat mengurangi gatal sekaligus memperbaiki kualitas tidur pasien.

Mengatasi infeksi sekunder

Gatal akibat kudis bisa mendorong pasien untuk menggaruk kulit sehingga berisiko menimbulkan luka terbuka. Hal ini dapat menyebabkan infeksi bakteri di kulit. Pada kondisi tersebut, dokter akan meresepkan antibiotik, misalnya mupirocin.

Melakukan penanganan mandiri

Pasien juga dapat melakukan perawatan sederhana di rumah guna mengurangi rasa gatal yang timbul akibat scabies, di antaranya:

  • Berendam di air dingin atau menempelkan kain basah pada area kulit yang bermasalah, untuk mengurangi rasa gatal
  • Mengoleskan losion kalamin untuk mengurangi rasa sakit dan gatal, dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter

Membersihkan lingkungan sekitar

Karena penyebaran scabies sangat cepat, rumah dan lingkungan sekitar perlu dibersihkan. Tujuannya adalah untuk membunuh tungau yang mungkin terdapat pada benda-benda di sekitar pasien. Upaya yang perlu dilakukan antara lain:

  • Membersihkan barang-barang di rumah, seperti mainan, boneka, lantai, dan pakaian dengan disinfektan
  • Mencuci baju, sprei dan sarung bantal dengan air panas
  • Membersihkan karpet dan alas kaki
  • Merendam tungau yang masih hidup ke wadah tertutup yang berisi alkohol
  • Membungkus pakaian, selimut, sprei, dan bantal ke dalam plastik kedap udara bila tidak digunakan

Komplikasi Kudis

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat kudis, terutama bila tidak ditangani dengan tepat, adalah:

Infeksi bakteri

Rasa gatal yang hebat akibat scabies akan menyebabkan penderitanya sulit menahan diri untuk tidak menggaruk kulitnya. Namun, terlalu sering menggaruk area kulit yang gatal dapat menimbulkan luka terbuka. Hal ini dapat memudahkan bakteri masuk ke lapisan kulit dan menimbulkan infeksi, seperti impetigo.

Kudis berkrusta (Norwegian scabies)

Orang yang menderita scabies umumnya hanya memiliki 10–15 tungau di tubuhnya. Sedangkan pada kudis berkrusta, tungau di tubuh penderita dapat mencapai jutaan.

Kondisi ini ditandai dengan kulit keras dan bersisik, serta penyebaran ruam scabies ke bagian tubuh lain. Jika kudis telah berkembang hingga tahap ini, penanganannya akan menjadi lebih sulit.

Pencegahan Kudis

Cara paling ampuh untuk mencegah kudis adalah dengan menjaga diri agar tidak terpapar tungau Sarcoptes scabiei, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Jika Anda baru kontak dekat dengan penderita kudis, sebaiknya lakukan pemeriksaan agar segera mendapat penanganan.

Sedangkan bagi penderita kudis, upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari penyebaran scabies pada orang lain adalah:

  • Bersihkan sprei, pakaian, handuk, dan barang pribadi lainnya menggunakan sabun dan air hangat, kemudian keringkan di udara yang panas.
  • Bungkus barang yang berpotensi terpapar tungau tetapi tidak bisa dicuci dengan plastik, kemudian letakkan di tempat yang jauh dari jangkauan.
  • Jangan berhubungan seksual atau melakukan kontak fisik erat dengan orang lain sampai perawatan scabies tuntas.
  • Hindari berbagi tempat tidur, pakaian, dan handuk dengan orang lain.
  • Bersihkan lantai, karpet, sofa, dan alas kaki dengan alat penyedot debu dan disinfektan secara rutin.