Latuda adalah antipsikotik untuk mengatasi skizofrenia. Latuda juga bermanfaat sebagai terapi tunggal maupun kombinasi dengan obat lain untuk mengobati fase depresi pada gangguan bipolar. Obat ini berbahan aktif lurasidone hidroklorida.

Lurasidone hidroklorida dalam Latuda bekerja dengan cara menyeimbangkan zat kimia di otak yang berperan penting dalam mengatur suasana hati, pikiran, dan perilaku. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet dan hanya boleh digunakan berdasarkan resep dokter.

Latuda

Produk Latuda

Latuda tersedia dalam bentuk tablet dengan kekuatan dosis yang bervariasi, yaitu:

  • Latuda 40 mg tablet, yang mengandung 40 mg lurasidone hidroklorida tiap tablet
  • Latuda 20 mg tablet, dengan bahan aktif lurasidone hidroklorida sebanyak 20 mg per tablet
  • Latuda 80 mg tablet, dengan kandungan 80 mg lurasidone hidroklorida per tablet

Apa Itu Latuda

Bahan aktif Lurasidone hidroklorida
Golongan Obat resep
Kategori Antipsikotik
Manfaat Mengobati skizofrenia dan fase depresi pada gangguan bipolar
Digunakan oleh Dewasa dan anak usia ≥10 tahun
Latuda untuk ibu hamil Kategori C: Belum ada cukup bukti dari studi pada binatang percobaan maupun manusia yang menjelaskan keamanan obat terhadap ibu hamil maupun janin. Oleh karena itu, obat ini sebaiknya tidak dikonsumsi oleh ibu hamil, kecuali jika dokter menyarankan.
Bayi yang terpapar obat antipsikotik pada trimester tiga berisiko mengalami gangguan gerakan (ekstrapiramidal) atau gejala putus obat setelah lahir.
Latuda untuk ibu menyusui Latuda tidak boleh digunakan oleh ibu menyusui, terutama bila bayi lahir prematur atau belum genap berusia 1 bulan. 
Bentuk obat Tablet salut selaput

Peringatan sebelum Menggunakan Latuda

Latuda merupakan obat resep yang harus digunakan sesuai arahan dokter. Sebelum menjalani pengobatan dengan Latuda, perhatikan beberapa hal berikut:

  • Sampaikan ke dokter seputar riwayat alergi yang Anda miliki. Latuda tidak boleh digunakan oleh individu yang alergi terhadap lurasidone hidroklorida.
  • Diskusikan dengan dokter mengenai penggunaan Latuda pada lansia dengan psikosis yang terkait dengan demensia. Obat ini tidak boleh diberikan kepada pasien dengan kondisi tersebut karena bisa berakibat fatal.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang mengalami penyakit jantung, stroke, hipertensi, tekanan darah rendah (hipotensi), kolesterol atau trigliserida tinggi, penyakit hati, diabetes, atau penyakit ginjal.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang mengalami kadar sel darah putih rendah, kejang, penyakit tiroid, gangguan kelenjar pituitari, atau kanker payudara.
  • Bicarakan dengan dokter mengenai konsumsi Latuda bila Anda pernah memiliki pikiran untuk melakukan percobaan bunuh diri.
  • Konsultasikan dengan dokter mengenai semua obat yang sedang Anda konsumsi, termasuk suplemen dan produk herbal. Hal ini untuk menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan.
  • Diskusikan dengan dokter perihal penggunaan Latuda jika Anda direncanakan untuk menjalani tindakan medis apa pun, termasuk operasi.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, mungkin hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Segera sampaikan ke dokter jika Anda mengalami reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah menggunakan Latuda.

Dosis dan Aturan Pakai Latuda

Dosis dan lama penggunaan Latuda akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan usia pasien. Secara umum, dosis pemberian Latuda antara lain: 

Kondisi: Depresi pada gangguan bipolar

  • Dewasa: Dosis awal 20 mg, 1 kali sehari. Dosis bisa ditingkatkan hingga maksimal 120 mg per hari.
  • Anak usia 10–17 tahun: Dosis awal 20 mg, 1 kali sehari. Dosis maksimal 80 mg per hari.

Kondisi: Skizofrenia

  • Dewasa: Dosis awal 40 mg, 1 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan sesuai respons pasien, dengan dosis maksimal 160 mg per hari.
  • Anak usia 13–17 tahun: Dosis awal 40 mg, 1 kali sehari. Dosis maksimal 80 mg per hari.

Cara Menggunakan Latuda dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan pastikan untuk membaca petunjuk pada kemasan sebelum mengonsumsi Latuda. Jangan menambah atau mengurangi dosis obat tanpa persetujuan dokter. 

Untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal, ikuti cara mengonsumsi Latuda berikut:

  • Latuda dapat dikonsumsi bersama makanan. Telan tablet Latuda secara utuh dengan bantuan air putih.
  • Apabila lupa mengonsumsi Latuda, segera minum obat ini begitu teringat. Namun, bila sudah mendekati jadwal berikutnya, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis selanjutnya.
  • Jangan menghentikan pengobatan dengan Latuda secara tiba-tiba tanpa arahan dokter meskipun sudah merasa lebih baik. 
  • Pastikan untuk banyak minum air putih selama mengonsumsi Latuda, terutama ketika cuaca panas dan saat sedang berolahraga. Hal ini karena konsumsi obat tersebut bisa membuat tubuh mudah kepanasan dan dehidrasi.
  • Simpan Latuda di tempat bersuhu ruangan, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Latuda dengan Obat Lain

Berikut ini adalah sejumlah efek interaksi antarobat yang dapat terjadi jika Latuda digunakan bersama dengan obat lain:

  • Penurunan efektivitas Latuda bila dipakai dengan efavirenz, etravirine, rifampicin, atau modafinil
  • Peningkatan risiko terjadinya efek samping Latuda jika digunakan bersama diltiazem, verapamil, ketoconazole, atau ritonavir
  • Peningkatan risiko terjadinya sindrom serotonin bila dipakai dengan obat opioid, SSRI, atau SNRI
  • Peningkatan risiko terjadi efek samping berupa pusing, kantuk, linglung, atau kesulitan berkonsentrasi jika digunakan bersama midazolam

Agar aman, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter bila hendak menggunakan Latuda bersama obat, suplemen, atau produk herbal tertentu.

Efek Samping dan Bahaya Latuda 

Ada efek samping yang mungkin terjadi setelah minum Latuda, yaitu:

  • Mual dan muntah
  • Hidung berair
  • Kantuk
  • Berat badan naik
  • Gelisah atau tidak bisa diam
  • Tremor, otot kaku, atau gerakan lambat
  • Insomnia

Konsultasikan ke dokter secara online lewat chat bila efek samping di atas tidak kunjung membaik atau bertambah parah. Dokter dapat memberikan solusi untuk menangani keluhan tersebut.

Latuda juga dapat menyebabkan reaksi alergi obat atau efek samping serius, seperti:

  • Perubahan suasana hati atau perilaku, gangguan kecemasan, serangan panik, sulit tidur, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri
  • Episode mania, seperti pikiran sangat cepat, energi meningkat, jarang tidur, serta mudah gelisah atau banyak bicara
  • Gerakan otot yang tidak normal atau tidak dapat dikendalikan
  • Pusing berat seperti akan pingsan
  • Pembesaran payudara atau impotensi
  • Kesulitan menelan
  • Kejang
  • Haid tidak teratur, perubahan pada payudara atau vagina, dan keluar cairan dari puting
  • Gejala neuroleptic malignant syndrome, seperti otot sangat kaku, demam tinggi, linglung, detak jantung cepat atau tidak teratur, serta tremor
  • Kadar gula darah tinggi, dengan gejala haus berlebih, sering buang air kecil, mudah lapar, mulut kering, atau napas berbau buah
  • Jumlah sel darah putih rendah, yang ditandai dengan demam, menggigil, sariawan, luka pada kulit, sakit tenggorokan, batuk, atau sesak napas

Jika mengalami efek samping serius tersebut, segeralah ke IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis secepatnya.