Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengatasi gejala depresi sedang hingga berat. SSRIs merupakan jenis obat antidepresan yang paling sering digunakan karena memiliki risiko efek samping yang lebih rendah.

SSRIs bekerja dengan cara meningkatkan kadar serotonin, yaitu zat kimia pembawa pesan di otak yang berperan penting dalam mengatur suasana hati, tidur, dan nafsu makan. SSRIs mencegah serotonin terserap kembali ke dalam sel saraf, sehingga kadar serotonin dalam otak meningkat dan gejala depresi dapat berkurang.

Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs)

Selain untuk mengatasi depresi, obat-obat yang termasuk ke dalam kelompok antidepresan SSRIs juga dapat digunakan untuk kondisi lain, seperti gangguan kecemasan dan kleptomania.

Peringatan Sebelum Menggunakan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs)

Ikuti anjuran dan saran dokter selama menjalani pengobatan dengan SSRIs Sebelum menggunakan obat ini, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. SSRIs tidak boleh digunakan oleh pasien yang alergi terhadap obat ini.
  • Beri tahu dokter jika dalam 14 hari terakhir Anda baru saja menjalani pengobatan dengan obat golongan MAOI, seperti isocarboxazid. SSRIs tidak boleh dikonsumsi oleh pasien yang baru saja menjalani pengobatan dengan obat tersebut.
  • Penggunaan SSRIs tidak dianjurkan untuk pasien di bawah usia 25 tahun, karena dapat meningkatkan risiko munculnya pikiran atau perilaku untuk bunuh diri. Diskusikan penggunaan obat ini dengan dokter terlebih dahulu.
  • SSRIs dapat menimbulkan sindrom serotonin jika digunakan bersama obat lain yang juga meningkatkan serotonin, seperti dextromethorphan atau tramadol.
  • Beri tahu dokter jika Anda mengalami gangguan pembekuan darah, sedang mengalami gastritis, atau sedang menjalani pengobatan dengan obat pengencer darah, seperti warfarin. SSRIs dapat meningkatkan risiko perdarahan.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita epilepsi, penyakit ginjal, atau diabetes.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat, suplemen, atau produk herbal tertentu.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, berencana untuk hamil, atau sedang menyusui.
  • Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah menggunakan SSRIs.

Efek Samping dan Bahaya Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs)

Efek samping dari penggunaan SSRIs bisa berbeda, tergantung jenis obat, dosis, dan respons pasien terhadap pengobatan. Namun, beberapa efek samping yang mungkin timbul setelah menggunakan SSRIs adalah:

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika efek samping yang Anda alami tidak kunjung mereda atau semakin memberat. Anda juga harus segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi setelah menggunakan SSRIs.

Jenis, Merek Dagang, dan Dosis Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs)

Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) hanya boleh digunakan berdasarkan resep dokter. Berikut adalah penjelasan dan pembagian jenis SSRIs:

1. Escitalopram

Bentuk obat: Tablet

Merek dagang: Cipralex, Depram, Elxion, Escitalopram Oxalate

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat escitalopram.

2. Fluoxetine

Bentuk obat: Kapsul, kaplet

Merek dagang: Antiprestin, Elizac, Foransi, Fluoxetine HCL, Nopres, Prestin, Sactine

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat fluoxetine.

3. Fluvoxamine

Bentuk obat: Tablet

Merek dagang: Luvox

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat fluvoxamine.

4. Sertraline

Bentuk obat: Tablet

Merek dagang: Deptral, Fatral, Fridep 50, Iglodep, Nudep, Serlof, Sernade, Sertraline HCL, Zerlin, Zoloft

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat sertraline.

5. Citalopram

Bentuk obat: Tablet, solusi

Merek dagang: -

Kondisi: Depresi, fase depresi dari gangguan bipolar

  • Dewasa: Dosis awal 20 mg per hari. Dosis dapat ditingkatkan hingga maksimal 40 mg per hari setelah 1 minggu.
  • Lansia: 10 mg per hari. Dosis maksimal 20 mg per hari.

Kondisi: Gangguan panik

  • Dewasa: Dosis awal 10 mg per hari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 20 mg per hari setelah 1 minggu.
  • Lansia: 10 mg per hari. Dosis maksimal 20 mg per hari.

6. Paroxetine

Bentuk obat: Tablet, kapsul, suspensi

Merek dagang: -

Kondisi: Depresi, posttraumatic stress disorder, atau gangguan kecemasan umum

  • Dewasa: Dosis awal 20 mg per hari. Dosis maksimal 50 mg per hari.
  • Lansia: Dosis awal 10 mg per hari. Dosis maksimal 40 mg per hari.

Kondisi: Gangguan kecemasan sosial atau obsessive compulsive disorder

  • Dewasa: Dosis awal 20 mg per hari. Dosis maksimal 60 mg per hari.
  • Lansia: Dosis awal 10 mg per hari. Dosis maksimal 40 mg per hari.

Kondisi: Gangguan panik

  • Dewasa: Dosis awal 10 mg per hari. Dosis maksimal 60 mg per hari.
  • Lansia: Dosis awal 10 mg per hari. Dosis maksimal 40 mg per hari.

Kondisi: Premenstrual dysphoric disorder

  • Dewasa: Dosis awal 12,5 mg sekali sehari. Jika diperlukan, dosis dapat ditingkatkan menjadi 25 mg sekali sehari setelah 1 minggu.

Kondisi: Gejala pascamenopause

  • Dewasa: 7,5 mg sekali sehari.

7. Vortioxetine

Bentuk obat: Tablet

Merek dagang: Brintellix

Kondisi: Depresi

  • Dewasa: Dosis awal 10 mg sekali sehari. Dosis dapat ditingkatkan hingga 20 mg atau diturunkan menjadi 5 mg, sesuai respons pasien terhadap obat.
  • Lansia: Dosis awal 5 mg sekali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 10 mg sekali sehari jika diperlukan.

8. Vilazodone

Bentuk obat: Tablet

Merek dagang: -

Kondisi: Depresi

  • Dewasa: Dosis awal 10 mg sekali sehari selama 7 hari, lalu dilanjutkan dengan dosis 20 mg sekali sehari selama 7 hari berikutnya.