Tingginya curah hujan di sejumlah daerah di Indonesia sering kali menyebabkan banjir. Hal ini dapat menjadi pemicu munculnya sejumlah penyakit, salah satunya adalah leptospirosis.

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini dapat menyerang manusia maupun hewan. Jika tidak diobati, leptospirosis dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti gagal ginjal atau hati, meningitis, kesulitan bernapas, dan perdarahan.

Leptospirosis, Penyakit di Kala Banjir - Alodokter

Kasus leptospirosis biasanya meningkat setelah banjir atau di musim hujan. Karena pada musim tersebut, masyarakat lebih banyak mengalami kontak dengan air kotor yang berpotensi terkontaminasi oleh urine hewan yang mengandung kuman penyebab leptospirosis.

Cara Penularan Leptospirosis

Seseorang dapat tertular leptospirosis ketika mereka bersentuhan dengan air atau tanah yang mengandung cairan tubuh, misalnya urine atau darah, dari hewan yang terinfeksi bakteri Leptospira. Hewan-hewan yang dapat menyebarkan leptospirosis adalah tikus, anjing, dan hewan ternak, seperti sapi atau babi.

Saat terjadi hujan lebat, urine hewan di tanah dan permukaan lainnya dapat larut dalam genangan air atau banjir. Orang yang terpapar air tersebut, misalnya saat berjalan menerobos banjir, berisiko terkena leptospirosis.

Tanda dan Gejala Leptospirosis

Gejala leptospirosis biasanya baru muncul pada hari ke-5 hingga hari ke-14 setelah penderitanya terpapar bakteri Leptospira. Meski begitu, gejala bisa saja muncul lebih cepat, yaitu sejak hari ke-2, atau justru muncul lebih lambat, hingga hari ke-30 setelah terpapar bakteri. Gejala awal leptospirosis meliputi:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Mata merah
  • Muntah
  • Diare
  • Nyeri perut
  • Penyakit kuning (kulit dan mata menguning)
  • Ruam kulit
  • Batuk

Kelompok yang Berisiko Terserang Leptospirosis

Selain penduduk di daerah banjir, leptospirosis juga sering menyerang orang yang bekerja di luar ruangan atau memiliki kontak rutin dengan hewan. Selain itu, penyakit ini juga dapat menyerang orang-orang dengan kegiatan yang melibatkan air atau tanah, seperti berenang, mendayung, atau berkebun.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terjangkit infeksi leptospirosis adalah:

  • Minum dari sumber air yang berpotensi terkontaminasi, seperti air banjir, air sungai, atau air ledeng yang tidak bersih.
  • Mengonsumsi makanan yang telah terkena air yang terkontaminasi.
  • Mandi atau berendam dalam air banjir atau air tawar yang terkontaminasi, terutama ketika menyelam atau jika memiliki luka terbuka saat kontak dengan air.

Langkah Pencegahan dan Pengobatan Leptospirosis

Cara terpenting untuk mencegah penularan leptospirosis adalah menghindari kontak atau konsumsi air yang mungkin terkontaminasi. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, Anda dapat mengikuti langkah-langkah berikut ini untuk mengurangi risiko infeksi leptospirosis:

  • Pastikan air aman untuk diminum dengan cara merebus air hingga matang, terutama jika air diambil dari sumber yang dapat terkontaminasi urine hewan atau limpahan air banjir.
  • Tutup luka atau lecet pada kulit Anda dengan perban atau penutup lain yang kedap air.
  • Hindari menelan, berenang atau, mandi di air banjir atau sumber air apa pun yang mungkin terkontaminasi urine hewan atau limpahan air banjir.
  • Kenakan pakaian pelindung air atau sepatu bot di area banjir atau tanah yang mungkin terkontaminasi kencing hewan.
  • Cegah serangan hewan pengerat dengan menyimpan makanan, air, dan sampah di wadah tertutup.
  • Hindari mengonsumsi makanan yang mungkin sudah bersentuhan dengan tikus.

Jika Anda merasa memiliki gejala leptospirosis, segera periksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan tes penunjang, seperti tes darah dan urine, untuk memastikan diagnosis leptospirosis.

Jika benar terdiagnosis leptospirosis, dokter akan memberikan pengobatan dengan antibiotik. Sedangkan untuk kasus leptospirosis berat, penderita mungkin perlu dirawat inap di rumah sakit dan dievaluasi ketat oleh dokter dan perawat.

Ditulis oleh:

dr. Nadhira Nuraini Afifa