Maltitol banyak digunakan sebagai pengganti gula dalam berbagai produk makanan yang diklaim lebih sehat. Pemanis ini bisa memberikan rasa manis yang hampir sama seperti gula, tetapi dengan kalori yang lebih sedikit. Meski begitu, penting untuk mengenal lebih jauh manfaat, risiko, serta takaran maltitol yang dianjurkan.

Maltitol adalah pemanis alkohol yang umumnya berasal dari jagung, gandum, atau kentang. Terlepas dari namanya, karbohidrat ini tidak mengandung gula maupun alkohol. Proses pembuatannya melibatkan pengolahan pati menjadi maltosa, lalu diubah melalui proses hidrogenasi hingga menghasilkan maltitol.

Maltitol, Bahan Pemanis di Balik Produk Bebas Gula - Alodokter

Karena berasal dari pati nabati, maltitol sering digunakan sebagai pengganti gula dalam berbagai produk berlabel “rendah gula” atau “bebas gula”, seperti cokelat dan permen. Meski maltitol dianggap lebih ramah terhadap kadar gula darah dibandingkan gula pasir, banyak orang yang masih mempertanyakan efeknya bagi kesehatan.

Keunggulan Maltitol dan Takaran yang Dianjurkan

Maltitol memberikan tingkat kemanisan sekitar 75–90% dari gula pasir, tetapi hanya mengandung sekitar setengah kalori per gramnya, sehingga dapat membantu mengurangi total asupan energi dari gula.

Selain itu, pemanis ini diserap lebih lambat oleh tubuh, sehingga kenaikan kadar gula darah dan insulin setelah mengonsumsinya cenderung lebih rendah dibandingkan gula biasa. Karena alasan ini, maltitol sering dianggap lebih ramah bagi penderita diabetes.

Keunggulan lainnya, maltitol tidak mudah dimetabolisme oleh bakteri di mulut, sehingga risikonya terhadap kerusakan gigi lebih kecil dibandingkan dengan gula.

Meskipun kerap disebut “lebih sehat” dan sering digunakan sebagai pengganti gula, maltitol tetap termasuk karbohidrat yang mengandung kalori dan ada batasan konsumsi harian yang dianjurkan untuk menjaga kesehatan pencernaan.

Para ahli umumnya menyarankan konsumsi maltitol disesuaikan dengan toleransi tubuh. Pada banyak orang, asupan sekitar 10–15 gram per hari masih relatif aman, sementara konsumsi di atas 20–30 gram dapat memicu efek samping.

Efek Samping Konsumsi Maltitol

Meskipun maltitol tergolong aman dikonsumsi, ada beberapa risiko efek samping yang perlu diperhatikan. Konsumsi maltitol secara berlebihan dapat memicu efek pencahar, seperti diare atau perut kembung. Pasalnya, pemanis ini tidak sepenuhnya dicerna oleh saluran pencernaan.

Pada sebagian orang yang lebih sensitif, bahkan dosis sedang pun dapat menyebabkan rasa tidak nyaman di lambung atau perut kembung. Oleh karena itu, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan gangguan pencernaan disarankan untuk tidak mengonsumsi maltitol secara berlebihan tanpa rekomendasi dari dokter.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengonsumsi Maltitol

Maltitol dapat menjadi opsi yang lebih aman untuk mengurangi asupan gula, terutama bagi penderita diabetes atau Anda yang sedang menjaga berat badan. Namun, mengonsumsinya secara berlebihan tetap bisa memicu masalah pencernaan.

Sebelum memilih maltitol atau produk berbasis pemanis alternatif, selalu periksa label kandungan dan patuhi anjuran porsi. 

Jika Anda memiliki riwayat gangguan pencernaan, diabetes, atau kondisi kesehatan tertentu, atau mengalami keluhan setelah mengonsumsi produk yang mengandung maltitol, segera konsultasikan keluhan Anda dengan dokter untuk mendapatkan saran yang sesuai kebutuhan.

Anda dapat memanfaatkan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk berkonsultasi secara praktis, kapan saja dan dimana saja, tanpa perlu datang langsung ke fasilitas kesehatan. Melalui layanan ini, dokter dapat membantu menilai kondisi Anda serta memberikan rekomendasi konsumsi yang tepat sesuai kondisi kesehatan Anda.