Kaolin adalah sejenis mineral yang kerap dijadikan obat-obatan. Secara alami, kaolin berwujud seperti tanah liat. Setelah dicuci untuk menghilangkan pasir dan kotoran lainnya, material ini digunakan untuk mengatasi diare sejak bertahun-tahun lalu.

Meski begitu, penelitian medis menyatakan bahwa efektivitas kaolin dalam menangani diare belum terbukti sepenuhnya. Menurut US Food and Drug Administration (BPOM Amerika Serikat), manfaat kaolin yang selama ini dipercaya dapat mengatasi diare belum cukup bukti dari segi ilmiah. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kemanjurannya. Tapi, BPOM RI masih mengizinkan obat diare yang mengandung kaolin untuk dijual di pasaran, dan umumnya dapat dikonsumsi sebagai obat bebas.

Mau Coba Atasi Diare dengan Kaolin? - Alodokter

Diare sendiri adalah kondisi encernya tinja saat buang air besar (BAB) atau frekuensi BAB yang lebih sering dibandingkan biasanya. Diare pada umumnya terjadi akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi virus, bakteri, atau parasit.

Dalam mengatasi diare, kaolin bekerja dengan cara menyerap racun dan zat-zat lain dari usus. Kaolin juga membantu membentuk atau memadatkan tinja yang cair dalam 1-2 hari. Namun, kaolin tidak bisa mengurangi jumlah cairan yang kerap hilang saat diare.

Kaolin tidak memiliki kemampuan untuk melawan bakteri, sehingga tidak dianjurkan digunakan sebagai satu-satunya pengobatan untuk menangani diare akibat bakteri.

Perhatikan Hal Berikut Ini Sebelum Mengonsumsi Kaolin

Kaolin sepertinya aman dikonsumsi, namun tetap saja ada efek samping yang mungkin timbul. Konstipasi bisa timbul, khususnya jika kaolin dikonsumsi oleh anak-anak atau orang tua. Berhati-hatilah memberikan kaolin kepada mereka. Kaolin juga tidak disarankan untuk diberikan pada anak-anak di bawah usia 3 tahun.

Selain itu, efek samping yang berpotensi timbul akibat mengonsumsi kaolin adalah reaksi alergi, seperti kesulitan bernapas, gatal-gatal, ruam, dada menjadi sesak, mengalami pembengkakan pada lidah, bibir, mulut, atau wajah.

Zat yang terdapat dalam obat olahan kaolin tidak diserap plasenta sehingga kemungkinan kaolin aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Meski begitu, penelitian pada hewan menunjukkan adanya hubungan antara kaolin dengan anemia dan hipokalemia pada kehamilan. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, lebih baik ibu hamil menghindari atau berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter jika ingin mengonsumsi kaolin.

Pemakaian kaolin juga perlu berhati-hati jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti digoxin, quinidine, clindamycin, atau trimethoprim. Karena kandungan kaolin bisa memengaruhi kinerja obat-obat tersebut. Berhati-hati pula jika Anda sedang mengonsumsi obat herba, suplemen diet, atau alergi terhadap makanan atau obat-obatan tertentu.

Ketika mengonsumsi kaolin, disarankan untuk banyak mengonsumsi air putih. Minumlah kaolin sesuai dosis yang tertera pada kemasan atau sesuai anjuran dokter.

Jika setelah mengonsumsi kaolin selama dua hari, Anda merasa tidak ada perubahan atau diare Anda bertambah parah, hentikan penggunaannya. Temui dokter secepatnya untuk mendapat penanganan lebih lanjut.