Darah yang keluar saat haid sering dianggap sebagai darah kotor oleh masyarakat. Selain itu, darah kotor juga kerap dikaitkan sebagai penyebab bisul dan jerawat. Sebenarnya, kondisi-kondisi tersebut tidak terkait dengan darah kotor.

Berbeda dengan anggapan darah kotor pada masyarakat, secara medis yang disebut darah kotor adalah darah yang mengandung zat sisa metabolisme dari jaringan tubuh, salah satunya adalah karbondioksida. Darah bersih mengandung tinggi oksigen, sedangkan darah kotor tidak lagi mengandung oksigen (deoxygenated blood). Darah tersebut mengalir dari seluruh tubuh ke jantung, dan dari jantung menuju paru-paru untuk memperoleh oksigen. Kemudian, kembali dialirkan ke jantung dan ke seluruh tubuh. Gangguan terhadap proses ini umumnya berkaitan dengan kelainan jantung.

Meluruskan Mitos Darah Kotor - Alodokter

Kondisi Medis Dikaitkan dengan Darah Kotor

Tidak ada bukti medis yang menyatakan bahwa darah kotor menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Berikut adalah kondisi kesehatan yang sering dikatikan dengan darah kotor:

  • Haid
    Wanita yang sedang haid tidaklah dalam kondisi “kotor”, dan darah haid juga bukan darah kotor dinilai dari definisi medis di atas. Darah haid tidak kotor ataupun berbahaya. Darah dan jaringan yang keluar pada saat menstruasi berasal dari penebalan lapisan dalam rahim yang diperlukan untuk proses kehamilan. Ketika seorang wanita tidak hamil, maka penebalan rahim dan sel telur yang tidak dibuahi akan luruh berupa darah menstruasi. Kekentalan ataupun warna darah menstruasi dapat berubah berdasarkan hitungan hari masa haid dan tingkat hormon.
  • Jerawat
    Timbulnya jerawat tidak dapat dikaitkan dengan darah kotor. Ada empat faktor utama penyebab jerawat yaitu produksi minyak, sel kulit mati, pori-pori tersumbat, dan bakteri di kulit. Jerawat timbul ketika pori-pori pada kulit tersumbat dengan minyak dan sel kulit mati. Kondisi tersebut dapat membuat bakteri berkembang, sehingga terjadilah peradangan yang sering disebut jerawat. Jerawat biasa muncul di sekitar wajah, dada, bahu, dan punggung. Timbulnya jerawat juga dapat dipengaruhi oleh faktor hormonal.
  • Bisul
    Berbeda dengan anggapan masyarakat, bisul juga tidak disebabkan oleh darah kotor. Bisul terjadi ketika bakteri menginfeksi folikel rambut pada kulit, sehingga terjadi peradangan. Bisul umumnya muncul sebagai benjolan merah dan lunak. Benjolan itu akan semakin besar karena terisi nanah. Bisul bisa dimulai dari ukuran kecil, kemudian menjadi lebih besar dan menyebabkan rasa sakit. Bisul bisa timbul secara bersamaan di area tubuh tertentu, seperti wajah, leher, paha, ketiak, atau bokong. Kondisi ini disebabkan infeksi yang terjadi di bawah kulit pada area tersebut. Jangan pernah memencet atau memecahkan bisul sendiri karena dapat membuat infeksi menyebar. Konsultasikan pada dokter, jika bisul diiringi demam dan terjadi selama lebih dari dua minggu.
  • Alergi
    Alergi biasa dikaitkan dengan darah kotor, padahal penyebab alergi bukanlah demikian. Alergi merupakan respons sistem imunitas tubuh yang berlebihan terhadap zat-zat asing. Gejala yang muncul akibat reaksi alergi bisa berbeda pada setiap orang, mulai dari hidung tersumbat dan gatal, bersin, mata merah dan berair disertai gatal, kulit gatal, bengkak, hingga serangan asma. Alergen atau pemicu alergi, berbeda pada tiap orang. Beberapa pemicu yang umum adalah serbuk sari, debu, jamur, makanan atau minuman tertentu, atau obat-obatan. Kadang rangsangan dari luar tubuh seperti suhu dingin juga bisa memunculkan gejala alergi.

Anggapan bahwa darah kotor dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, yang masih dipercaya oleh sebagian orang, tidak terbukti secara medis. Jika Anda mengalami gangguan kesehatan berupa empat kondisi di atas, berkonsultasilah ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.