Meski sudah hampir 40 tahun sejak pertama kalinya penyakit ini ditemukan, masih banyak mitos seputar HIV/AIDS yang beredar di masyarakat dan perlu diluruskan. Dengan mengetahui fakta di balik mitos-mitos tersebut, kita bisa lebih bijak menyikapi penyakit ini.

Virus HIV menyerang sel limfosit dan sel makrofag dalam tubuh manusia. Kedua jenis sel ini berfungsi sebagai pertahanan tubuh. Ketika keduanya rusak karena infeksi virus HIV, daya tahan tubuh akan menjadi sangat lemah, sehingga bakteri, jamur, dan virus lainnya dapat dengan mudah menyerang.

Membedakan Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS - Alodokter

HIV Belum Tentu AIDS?

Pada awalnya, penderita HIV tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Gejala awal HIV bisa berupa demam ringan, ruam kulit, nyeri sendi, dan pembesaran kelenjar getah bening. Setelah itu, penderita HIV biasanya tidak menunjukkan gejala apa-apa sampai daya tahan tubuhnya menjadi sangat lemah.

Kondisi serius di mana seseorang yang telah terinfeksi HIV mulai mengalami berbagai penyakit infeksi akibat lemahnya daya tahan tubuh disebut AIDS (acquired immunodeficienty syndrome).

Bila penderita HIV tidak menjalani pengobatan, infeksi virus HIV dapat berkembang menjadi AIDS dalam waktu 10-15 tahun. Penderita AIDS biasanya mengalami penurunan berat badan yang signifikan, demam dan diare berkepanjangan, serta berbagai gejala infeksi berat lainnya.

Mitos yang Keliru tentang HIV/AIDS

Banyak sekali mitos HIV/AIDS yang tidak sepenuhnya benar, bahkan sangat keliru. Hal ini bisa menyebabkan pencegahan HIV/AIDS menjadi kurang efektif, serta membuat penderitanya mendapat stigma buruk dan dikucilkan.

Beberapa mitos keliru yang banyak beredar di masyarakat tentang HIV/AIDS adalah:

1. Seseorang dapat tertular virus HIV bila berdekatan dengan penderita HIV/AIDS

Kenyataannya, virus HIV tidak ditularkan hanya karena seseorang berada dalam jarak dekat atau bernapas di ruang yang sama dengan penderita HIV/AIDS.

Virus HIV tidak ditularkan melalui sentuhan kulit, misalnya saat berjabat tangan atau berpelukan; melalui cipratan ludah, misalnya saat penderita bersin atau batuk; maupun melalui keringat. Virus HIV juga tidak menular melalui kolam renang, toilet umum, alat makan, atau gigitan nyamuk.

Virus HIV hanya ditularkan melalui hubungan seksual tanpa kondom, darah (biasanya akibat penggunaan jarum suntik bersama), dan air susu ibu. Penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, maupun saat menyusui.

2. Seks oral tidak menyebarkan virus HIV

Seks oral memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk menyebarkan virus HIV dibandingkan dengan seks anal maupun vaginal. Namun, seks oral yang tidak dilindungi kondom tetap berisiko menularkan virus HIV. Risiko penularannya akan meningkat bila pelaku seks oral sedang memiliki luka atau sariawan di mulut, atau bila penerima seks oral sedang memiliki luka di alat kelamin.

3. Pasangan heteroseksual tidak perlu mengkhawatirkan penularan HIV

Seks anal antarpria homoseksual memang memiliki risiko yang paling tinggi untuk menularkan virus HIV. Namun, bukan berarti pasangan heteroseksual tidak berisiko tertular HIV melalui hubungan seks. Seks tanpa kondom dapat tetap menularkan virus HIV. Risiko penularan ini dapat meningkat bila salah satu dari pasangan tersebut memiliki infeksi menular seksual lainnya.

4. HIV adalah vonis mati dan penderita HIV pasti akan mengalami AIDS

Saat ini memang belum ada obat yang dapat sepenuhnya membunuh virus HIV. Namun, sudah ada beberapa obat antiretroviral yang dapat memperlambat replikasi (perkembangbiakan) virus HIV.

Penderita HIV yang secara rutin menjalani pengobatan memiliki jumlah virus (viral load) yang sangat rendah dan bahkan tidak terdeteksi lagi dalam darah. Semakin sedikit jumlah virus, semakin baik pula ketahanan tubuh penderitanya. Penderita HIV yang rutin menjalani pengobatan dapat menjalani hidup yang sehat dalam waktu yang lama dan tidak mengalami AIDS.

5. Penderita HIV tidak dapat memiliki anak

Bila seorang pria menderita HIV namun rutin menjalani pengobatan hingga viral load dalam darahnya sangat rendah, maka risiko pria tersebut untuk menularkan HIV ke istri dan anaknya juga menjadi sangat rendah atau mendekati nol.

Hal yang sama juga berlaku untuk wanita yang memiliki virus HIV. Konsumsi obat antiretroviral secara teratur dapat menurunkan risiko virus menular kepada bayinya saat wanita tersebut melahirkan atau menyusui.

6. Orang yang memiliki hasil tes HIV negatif dapat berhubungan tanpa proteksi

Tes HIV bekerja dengan cara mendeteksi antibodi khusus yang dihasilkan oleh sel darah putih untuk melawan virus HIV. Bila hasil tes HIV seseorang negatif, artinya ia tidak memiliki antibodi terhadap HIV. Namun, bukan berarti orang tersebut pasti tidak memiliki virus HIV.

Kadang diperlukan waktu 1-3 bulan sebelum antibodi HIV yang diproduksi oleh tubuh dapat terdeteksi. Oleh karena itu, penggunaan kondom saat melakukan hubungan seks tetap disarankan untuk menghindari penularan virus HIV dari orang yang hasil tes HIV-nya negatif sekalipun.

7. Orang yang tidak mengalami gejala HIV/AIDS tidak memiliki virus HIV

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, virus HIV dapat menginfeksi seseorang tanpa menimbulkan gejala selama 10-15 tahun. Orang yang tidak memiliki tanda atau gejala apa-apa belum tentu tidak memiliki virus HIV di dalam tubuhnya.

8. Bila pasangan sama-sama positif HIV, maka tidak perlu menggunakan kondom saat berhubungan seks

Meskipun kedua pihak sama-sama memiliki virus HIV, penggunaan kondom saat berhubungan seks tetap disarankan untuk mencegah penularan virus HIV yang berbeda tipe (strain) atau yang kebal terhadap obat antiretroviral.

Itulah fakta di balik beragam mitos HIV/AIDS yang keliru. Ada dua hal penting yang perlu Anda ingat. Pertama, virus HIV hanya ditularkan melalui hubungan seks tanpa kondom, darah, atau air susu ibu. Jadi, orang yang terinfeksi HIV tetap bisa beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain seperti biasa.

Kedua, tidak mengalami gejala apa pun bukan berarti tidak terinfeksi virus HIV. Berkonsultasilah dengan dokter untuk menjalani tes HIV, terutama bila Anda berisiko tertular virus ini, misalnya karena melakukan hubungan seks tanpa kondom atau menggunakan jarum suntik bekas orang lain.

Ketiga, infeksi virus HIV dapat dikendalikan dengan konsumsi obat antiretroviral secara teratur, sehingga penyakit tidak berkembang menjadi AIDS. Oleh karena itu, bila Anda mengalami infeksi virus HIV, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan.

Ditulis oleh:

dr. Irene Cindy Sunur