Tes HIV adalah prosedur pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi HIV di dalam tubuh seseorang. Tes ini perlu dilakukan secara rutin, baik bagi yang berisiko maupun tidak, agar infeksi HIV dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.

HIV atau human immunodeficiency virus adalah virus yang merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari serangan penyakit. Maka ketika jumlah sel-sel tersebut berkurang akibat rusak, tubuh akan mudah terkena infeksi dan penyakit lainnya.

Tes HIV dan Hal-hal Penting yang Ada di Dalamnya - Alodokter

Infeksi HIV merupakan penyakit yang berbahaya bahkan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, tes HIV dianjurkan untuk dilakukan secara rutin oleh setiap orang, terutama yang berisiko terkena penyakit ini.

Dengan dilakukannya tes HIV secara berkala, infeksi HIV dapat terdeteksi lebih dini, sehingga seseorang yang terdiagnosis menderita HIV bisa segera memulai pengobatan dan melakukan perubahan perilaku serta gaya hidup. Semakin cepat infeksi HIV ditangani, semakin baik pula pengendalian virus tersebut di dalam tubuh.

Indikasi Tes HIV

Tes HIV sebaiknya dilakukan oleh setiap individu, terutama yang berusia antara 13–64 tahun, perlu melakukan tes HIV sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan secara rutin. Selain sebagai pemeriksaan rutin, dokter juga dapat menganjurkan tes HIV pada seseorang dengan kondisi sebagai berikut:

  • Memiliki tanda atau gejala yang mengarah kepada infeksi HIV, seperti infeksi oportunistik
  • Terdiagnosis dengan gangguan kesehatan tertentu, seperti penyakit menular seksual, hepatitis B atau C, tuberkulosis, atau limfoma
  • Sering berganti pasangan, melakukan seks bebas, dan melakukan hubungan seksual tanpa kondom
  • Berhubungan seksual dengan sesama jenis
  • Menggunakan NAPZA melalui suntik atau infus, dan berbagi alat suntik
  • Sedang hamil
  • Bayi yang dilahirkan oleh wanita penderita HIV
  • Menerima transfusi darah secara rutin, misalnya akibat menderita thalasemia

Dokter juga menganjurkan tes HIV dilakukan lebih rutin setiap 3 atau 6 bulan sekali pada orang yang berisiko tinggi terpapar virus HIV, seperti pasangan penderita HIV, homoseksual yang aktif secara seksual, dan pekerja seks komersial.

Peringatan Tes HIV

Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi hasil tes HIV, yaitu:

  • Menjalani tes ketika masih berada di masa jendela (window period), yaitu ketika antibodi terhadap HIV belum terbentuk
  • Menderita gangguan kesehatan, seperti penyakit autoimun, leukemia, atau sifilis
  • Menjalani vaksinasi baru-baru ini
  • Mengonsumsi obat kortikosteroid
  • Mengonsumsi terlalu banyak alkohol

Kondisi di atas dapat membuat hasil tes HIV positif walaupun pasien tidak terinfeksi HIV (positif palsu), atau sebaliknya, hasil tes negatif padahal pasien terinfeksi HIV (negatif palsu).

Sebelum Tes HIV

Umumnya, pasien tidak memerlukan persiapan khusus untuk menjalani tes HIV. Akan tetapi, dokter dapat melakukan sesi konseling sebelum dan setelah tes untuk membahas beberapa hal di bawah ini:

  • Prosedur tes HIV yang akan dilakukan, interpretasi hasil tes, dan tes jenis lain yang mungkin dilakukan
  • Diagnosis infeksi HIV yang dapat memengaruhi pandangan sosial, emosional, profesional, dan finansial pasien
  • Berbagai manfaat diagnosis dan pengobatan sejak dini

Penting untuk memberi tahu dokter bagaimana dan di mana dokter dapat menghubungi pasien ketika hasil tes keluar.

Selain itu, ada beberapa kondisi yang perlu pasien informasikan ke dokter sebelum menjalani tes HIV jika memilikinya. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya efek samping setelah tes. Kondisi-kondisi tersebut adalah:

  • Mudah memar
  • Gangguan perdarahan, seperti hemofilia

Di luar dua kondisi di atas, pasien juga harus memberi tahu dokter sebelum menjalani tes HIV jika sedang mengonsumsi obat pengencer darah atau antikoagulan, seperti aspirin dan warfarin.

Jenis Tes HIV

Terdapat beragam jenis tes HIV. Meski begitu, tidak ada tes HIV yang sempurna. Oleh karena itu, terkadang perlu dilakukan beberapa tes atau pengulangan tes untuk memastikan diagnosis.

Secara umum, ada tiga jenis utama tes HIV, yaitu:

Tes antibodi

Tes HIV jenis ini dilakukan untuk mendeteksi antibodi HIV dalam darah. Antibodi HIV adalah protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap infeksi HIV, biasanya 1–3 bulan setelah terinfeksi. Umumnya, tes ini digunakan untuk skrining awal.

Tes antibodi terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

  • ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay)
    ELISA dilakukan dengan memasukkan sampel darah ke dalam wadah yang berisi antigen HIV. Jika darah mengandung antibodi HIV, warna darah akan mengalami perubahan.
  • Rapid HIV test
    Secara prosedur, rapid HIV test hampir sama dengan ELISA. Bahkan, tes ini cenderung lebih mudah dilakukan. Hasil tes pun dapat keluar pada hari yang sama. Hanya saja, meski prosesnya mudah dan hasilnya cepat keluar, rapid HIV test memiliki tingkat akurasi yang rendah, sehingga memerlukan tes lanjutan.

Umumnya, tes HIV yang mendeteksi antibodi HIV memerlukan tes lanjutan untuk memperkuat hasil tes. Tes lanjutan tersebut dinamakan confirmatory assay.

Confirmatory assay dilakukan dengan menggunakan metode pemisahan protein antibodi yang diekstrak dari sel darah. Selain untuk mengonfirmasi hasil tes, confirmatory assay juga dilakukan untuk membedakan jenis virus HIV, apakah HIV-1 atau HIV-2.

Tes PCR (polymerase chain reaction)

Tes PCR digunakan untuk mendeteksi materi genetik (RNA atau DNA) HIV dalam darah. Sama seperti tes antibodi, tes ini dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk kemudian diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Tes PCR adalah tes HIV yang paling akurat. Tes ini bahkan dapat mendeteksi infeksi HIV walaupun sistem kekebalan tubuh belum memproduksi antibodi terhadap virus tersebut. Namun sayangnya, tes ini jarang digunakan karena membutuhkan biaya yang cukup besar dan waktu serta tenaga yang banyak.

Tes kombinasi antibodi-antigen (Ab-Ag test)

Ab-Ag test dilakukan untuk mendeteksi antigen HIV yang dikenal dengan p24 dan/atau antibodi HIV-1 atau HIV-2. Antigen bisa didapatkan dalam darah lebih cepat daripada antibodi. Oleh karena itu, tes ini dapat digunakan untuk mendeteksi HIV sekitar 2–6 minggu setelah waktu perkiraan infeksi.

Prosedur Tes HIV

Tes HIV umumnya dilakukan melalui prosedur pengambilan sampel darah, yang hanya memakan waktu kurang dari 5 menit. Pengambilan sampel darah ini biasanya dilakukan di lipatan siku. Berikut ini adalah langkah-langkah pengambilan sampel darah:

  • Dokter akan mengikat lengan atas pasien dengan tali elastis untuk membendung aliran darah, sehingga pembuluh darah di sekitar ikatan lebih terlihat dan mudah untuk ditusuk.
  • Dokter akan membersihkan area kulit yang akan ditusuk jarum dengan alkohol.
  • Usai kulit dibersihkan, dokter akan menusukkan jarum yang terhubung dengan tabung penampung darah ke pembuluh darah vena pasien.
  • Setelah jumlah darah yang diambil cukup, dokter akan melepaskan tali elastis dari lengan pasien.
  • Ketika jarum dilepas, pasien perlu menekan area suntikan dengan kapas atau kain kasa beralkohol agar perdarahan berhenti.
  • Kemudian, dokter akan menutup area suntikan dengan perban atau plester luka.

Hasil Tes HIV dan Setelah Tes HIV

Sampel darah yang telah diambil akan dianalisis di laboratorium. Tergantung pada jenis tes yang dilakukan, hasil tes HIV bisa keluar dalam beberapa hari hingga beberapa minggu.

Hasil tes HIV bisa berupa negatif, positif, atau tidak dapat ditentukan. Berikut penjelasannya:

  • Negatif
    Hasil tes HIV dapat dikatakan negatif jika tidak ditemukan antibodi, antigen, atau materi genetik HIV di dalam darah pasien.
  • Positif
    Sebaliknya dari hasil negatif, hasil tes HIV dapat dikatakan positif jika ditemukan antibodi, antigen, atau materi genetik HIV di dalam darah pasien.
  • Tidak dapat ditentukan (indeterminate result)
    Pada beberapa kasus, hasil tes HIV tidak secara jelas menunjukkan pasien terinfeksi HIV atau tidak. Kondisi ini dapat terjadi ketika antibodi HIV belum berkembang atau ketika jenis antibodi lain mengganggu hasil tes.
    Jika ini terjadi, tes PCR dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis. Pasien yang tetap memiliki hasil tes tidak tentu selama 6 bulan atau lebih disebut stable indeterminate dan dianggap tidak terinfeksi HIV.

Jika hasil tes HIV negatif, bukan berarti pasien tidak terinfeksi HIV. Pasien mungkin masih dalam masa inkubasi virus atau di dalam masa jendela (window period). Dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani tes ulang 3 bulan setelah tes pertama, terutama jika pasien termasuk yang berisiko terinfeksi HIV.

Jika tes HIV ulang tetap menunjukkan hasil negatif, pasien dinyatakan tidak terinfeksi HIV. Namun, dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan HIV secara berkala untuk mendeteksi dini jika terdapat infeksi HIV.

Jika pasien dinyatakan positif terinfeksi HIV, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti:

  • Pemeriksaan CD4, yaitu pemeriksaan untuk menghitung jumlah sel kekebalan tubuh bernama CD4 yang dapat menurun akibat infeksi HIV
  • Viral load, yaitu pemeriksaan untuk menghitung jumlah virus yang terdapat di dalam tubuh

Dengan kedua pemeriksaan lanjutan tersebut, dokter dapat menentukan dan merencanakan langkah serta jenis pengobatan yang tepat bagi pasien.

Selain itu, ada beberapa langkah awal yang akan dianjurkan oleh dokter setelah pasien terdiagnosis HIV, yaitu:

  • Berdiskusi dengan sesama penderita HIV untuk membantu beradaptasi dengan kondisi
  • Mengonsumsi obat antiretroviral (ART) untuk menghambat perkembangan HIV, melindungi sistem imun tubuh, dan menekan risiko penularan kepada orang lain
  • Menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi dan mencegah kemungkinan adanya infeksi menular seksual lain
  • Meminta pasangan untuk menjalani tes HIV
  • Menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan

Efek Samping Tes HIV

Prosedur pengambilan darah untuk tes HIV umumnya aman dan jarang menimbulkan efek samping. Apabila ada, pasien mungkin hanya mengalami efek samping ringan, seperti:

  • Pusing atau sakit kepala
  • Muncul memar kecil (hematoma) di area suntikan
  • Lengan terasa nyeri dan lemas
  • Infeksi pada area suntikan