VCT atau voluntary counselling and testing diartikan sebagai konseling dan tes HIV secara sukarela (KTS). Layanan ini bertujuan untuk membantu pencegahan, perawatan, dan pengobatan bagi penderita HIV/AIDS. VCT bisa dilakukan di puskesmas atau rumah sakit maupun klinik penyedia layanan VCT.

HIV/AIDS masih menjadi persoalan kesehatan global yang signifikan, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. WHO memperkirakan terdapat sekitar 35 juta orang di seluruh dunia yang menderita HIV dan kurang lebih 19 juta di antaranya tidak tahu bahwa mereka terinfeksi HIV.

Pentingnya VCT Sebagai Langkah Penanganan HIV - Alodokter

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan dan WHO, pada tahun 2018 diperkirakan terdapat sekitar 640 ribu penderita HIV dengan sedikitnya 46 ribu kasus baru HIV di Indonesia.

Oleh karena itu, adanya program VCT sangat berperan dalam mencegah penyebaran penyakit tersebut.

Tahapan dan Proses dalam VCT

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan panduan VCT yang berguna dalam mendeteksi dan menangani HIV secara global. Pedoman tersebut kemudian diterapkan di berbagai negara, khususnya negara berkembang.

Pada prinsipnya, VCT bersifat rahasia dan dilakukan secara sukarela. Artinya, hanya dilakukan atas inisiatif dan persetujuan pihak yang datang ke penyedia layanan VCT untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan yang dilakukan selama VCT pun terjaga kerahasiaannya.

Setelah menandatangani persetujuan tertulis, VCT dapat segera dilakukan. Adapun proses utama dalam penanganan HIV/AIDS melalui VCT adalah sebagai berikut:

Tahap Konseling Sebelum Tes

Saat memberikan konseling, konselor akan memberikan informasi kepada klien seputar HIV dan AIDS. Selama konseling berlangsung, konselor juga akan menanyakan beberapa pertanyaan kepada klien.

Klien dihimbau untuk jujur dan terbuka kepada konselor dalam menceritakan riwayat kebiasaan atau aktivitas sebelumnya yang dicurigai dapat berisiko terpapar virus HIV, misalnya riwayat pekerjaan atau kegiatan sehari-hari, aktivitas seksual, dan penggunaan narkoba dengan suntikan.

Di sesi konseling, konselor juga mungkin akan menanyakan riwayat penyakit atau pengobatan terdahulu yang pernah dialami klien, misalnya riwayat infeksi menular seksual atau transfusi darah.

Tes HIV

Setelah klien mendapatkan informasi yang jelas melalui konseling, konselor akan menjelaskan mengenai pemeriksaan yang bisa dilakukan dan meminta persetujuan klien untuk dilakukan tes HIV.

Setelah mendapat persetujuan tertulis, tes HIV dapat dilakukan. Bila hasil tes sudah tersedia, klien akan diberi kabar dan diminta untuk datang kembali ke fasilitas penyedia layanan VCT agar konselor dapat memberitahu hasil yang telah dilakukan.

Tahapan Konseling Setelah Tes

Setelah menerima hasil tes, klien akan menjalani tahapan pascakonseling. Apabila hasil tes negatif, konselor tetap akan memberi pemahaman mengenai pentingnya menekan risiko HIV/AIDS. Misalnya, mengedukasi klien untuk melakukan hubungan seksual dengan lebih aman dan menggunakan kondom.

Namun, bila hasil tes positif, konselor akan memberikan dukungan emosional agar penderita tidak patah semangat. Konselor juga akan memberikan informasi tentang langkah berikutnya yang dapat diambil, seperti penanganan dan pengobatan yang perlu dijalani.

Konselor juga akan memberi petunjuk agar klien dapat senantiasa menjalani pola hidup sehat dan melakukan beberapa langkah pencegahan HIV agar tidak menularkannya kepada orang lain.

Pada tahapan berikutnya, peran konselor adalah untuk lebih mendukung dan membangun mental para penderita HIV agar mereka tetap semangat dalam menjalani aktivitas dan hidup sehari-hari serta memastikan penderita HIV tetap mendapatkan pengobatan secara teratur.

Beberapa Manfaat Melakukan VCT

Infeksi HIV/AIDS harus diwaspadai karena infeksi HIV tidak memiliki gejala awal yang jelas. Tanpa pengetahuan yang cukup, penyebaran HIV akan semakin sulit dihindari.

Oleh karena itu, VCT perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk mendapat informasi mengenai HIV sehingga penderita HIV bisa segera melakukan deteksi sedini mungkin dan mendapat pengobatan yang dibutuhkan.

Cara ini sangat membantu sebagai langkah pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS. Kendati belum terdapat pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS secara tuntas, pengobatan antiretroviral (ARV) yang digunakan untuk mengobati HIV saat ini dapat menekan perkembangan virus HIV dalam tubuh penderita.

Dengan demikian, penderita HIV/AIDS (ODHA) mampu meningkatkan kualitas hidup dan daya tahan tubuh mereka. Dengan mendapatkan pengobatan ARV secara teratur seumur hidup, para ODHA tetap bisa bekerja, sekolah, dan berkarya.

Mayoritas orang yang mengalami HIV/AIDS adalah anak-anak muda. Dengan berbagai penyebab utama, seperti perilaku seksual berisiko, misalnya sering berganti pasangan seksual dan tidak menggunakan kondom sebagai pengaman, membuat tindikan atau tato, serta menggunakan narkoba melalui jarum suntik.

Namun, tidak hanya anak-anak muda, siapa saja bisa menjalani konseling HIV dan tidak perlu takut untuk menjalani VCT. Langkah ini justru dapat membantu meningkatkan pengetahuan setiap orang tentang pencegahan dan penanganan HIV/AIDS.

Dengan berbekal pengetahuan yang baik, VCT tidak hanya mampu mencegah penularan HIV, namun juga mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).