Deteksi HIV sejak dini merupakan langkah penting untuk mengurangi penularannya dan meningkatkan keberhasilan pengobatan HIV. Semakin cepat HIV terdeteksi, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan, sehingga infeksi ini dapat dikendalikan dan tidak berkembang menjadi AIDS.

Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2018, diperkirakan terdapat sekitar 640 ribu orang yang menderita infeksi HIV di Indonesia dan 46 ribu di antaranya merupakan kasus HIV baru. Selain itu, angka kematian akibat HIV pun cukup tinggi, yaitu mencapai 38 ribu kasus.

Pentingnya Deteksi HIV Sejak Dini - Alodokter

Meski angka kasus HIV terbilang tinggi, banyak orang yang masih merasa enggan untuk melakukan tes HIV karena stigma negatif yang melekat pada penyakit ini.

Padahal, semakin cepat penyakit infeksi HIV terdeteksi, semakin efektif pula pengobatan HIV yang dilakukan. Pengobatan dini tersebut juga bisa menurunkan risiko penderita infeksi HIV (ODHA) mengalami AIDS.

Selain itu, dengan mengetahui status HIV, penerapan langkah-langkah pencegahan penyebaran virus pun dapat dilakukan sebaik mungkin.

Siapa Saja yang Perlu Menjalani Deteksi HIV?

Penularan HIV dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, seperti air mani, darah, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Perlu diketahui, HIV tidak ditularkan melalui air liur, keringat, air mata, kontak fisik, dan berbagi makanan atau minuman dengan ODHA.

Virus HIV bisa menginfeksi siapa saja, tetapi ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terinfeksi virus HIV, yaitu:

  • Sering berganti-ganti pasangan seksual
  • Melakukan hubungan seksual tanpa pengaman, seperti kondom
  • Menderita penyakit menular seksual
  • Berhubungan seksual dengan pengguna narkoba atau pekerja seks komersial
  • Berbagi penggunaan jarum suntik dengan orang lain
  • Pernah menerima transfusi darah, meskipun penularan melalui cara ini jarang terjadi

Selain beberapa kondisi di atas, ada pula kelompok orang yang dikategorikan berisiko tinggi terinfeksi HIV, yaitu:

  • Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif
  • Pria yang tidak disunat
  • Pria yang berhubungan seksual dengan sesama pria
  • Petugas medis yang sering bersentuhan dengan darah, misalnya petugas laboratorium

Pemeriksaan HIV sejak dini pada kelompok orang berisiko terinfeksi HIV bisa menjadi salah satu kunci utama untuk mengurangi penyebaran infeksi virus ini. Selain itu, dengan mengetahui status HIV sejak dini, keberhasilan pengobatan dan langkah pencegahan penyakit pun bisa menjadi lebih efektif.

Beberapa Jenis Tes Deteksi HIV

Tes deteksi HIV bisa dilakukan siapa saja, terlebih bila Anda dan pasangan termasuk dalam kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi HIV. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter di klinik, puskesmas, atau rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan tes tersebut.

Berikut ini adalah beberapa jenis tes untuk mendeteksi HIV:

1, Tes Antibodi

Tes ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan antibodi dalam darah sebagai respons tubuh untuk melawan infeksi HIV. Hasil tes antibodi bisa langsung diketahui dalam waktu singkat, yaitu sekitar 30 menit.

Namun, tes antibodi bisa saja menunjukkan hasil negatif meski orang yang menjalani tes sebenarnya telah terinfeksi virus HIV. Hal ini karena diperlukan waktu sekitar 3–12 minggu bagi seseorang yang terpapar virus agar jumlah antibodi dalam tubuhnya cukup tinggi dan dapat terdeteksi saat pemeriksaan.

2. Tes kombinasi antibodi-antigen

Tes kombinasi ini dilakukan untuk mendeteksi antibodi dan antigen HIV dalam darah yang dikenal dengan antigen p24. Antigen p24 umumnya diproduksi tubuh dalam waktu 2–6 minggu setelah terpapar virus HIV.

Dengan mengidentifikasi antigen p24, keberadaan virus HIV pun dapat terdeteksi sejak dini, sehingga pengobatan dan pencegahan penyebaran HIV dapat dilakukan dengan lebih cepat.

3. Tes NAT

Nucleic acid testing (NAT) atau tes asam nukleat dapat mendeteksi keberadaan virus HIV dalam darah dengan cepat, yaitu dalam waktu 10–33 hari setelah seseorang terinfeksi virus ini.

Sayangnya, pemeriksaan jenis ini tergolong mahal dan tidak rutin dilakukan sebagai tes skrining HIV, kecuali jika seseorang berisiko tinggi terpapar HIV atau menunjukkan gejala awal infeksi HIV.

4. Tes VCT

VCT (voluntary counseling and testing) merupakan program tes dan konseling HIV yang dilakukan secara sukarela. Layanan ini tidak hanya bertujuan untuk mendeteksi virus, tetapi juga merawat dan mengobati penderita HIV.

VCT diawali dengan sesi konseling oleh dokter atau konselor. Saat konseling, Anda akan diberi pertanyaan dan informasi terkait HIV/AIDS. Selanjutnya, konselor akan meminta persetujuan tertulis (informed consent) sebelum melakukan tes deteksi HIV.

Jika termasuk dalam kategori orang berisiko terkena HIV, Anda tidak perlu ragu untuk melakukan tes HIV, sebab hasil tes dijamin kerahasiannya dan hanya diketahui oleh Anda dan tenaga medis yang melakukan pemeriksaan.

Untuk menjalani tes deteksi HIV, Anda bisa pergi ke puskesmas, rumah sakit, atau lembaga kesehatan yang menyediakan layanan tes HIV. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula penanganan dan pengobatan HIV yang dapat dilakukan.

Bila Anda memiliki pertanyaan seputar HIV/AIDS atau ingin menjalani pemeriksaan untuk deteksi HIV, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.