Ada beberapa gejala dan tanda HIV pada anak yang penting untuk diketahui, mulai dari gejala yang bersifat ringan hingga gejala infeksi parah yang sering kambuh. Gejala ini perlu diantisipasi agar dapat dikendalikan dan diberikan penanganan yang tepat sedini mungkin.

Gejala dan tanda infeksi HIV pada anak bisa muncul di usia berapa pun, tetapi paling sering dialami anak yang berusia 4 tahun ke atas. Sebagian besar anak yang terinfeksi HIV biasanya tertular dari ibunya saat hamil, selama persalinan, atau melalui ASI.

5 Tanda HIV pada Anak dan Cara Mendeteksinya - Alodokter

Penularan juga bisa terjadi melalui penggunaan jarum yang terkontaminasi, transfusi darah, atau hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi HIV. Namun, penularan HIV pada anak akibat hal tersebut cenderung jarang terjadi.

Kabar baiknya, anak yang terinfeksi HIV dan mendapatkan pengobatan antiretroviral (ART) secara teratur sejak dini tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan baik hingga dewasa. Oleh karena itu, penting bagi para orang tua untuk mengenali tanda HIV pada anak agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.

Mengenal Tanda dan Gejala HIV pada Anak

Gejala dan tanda HIV pada anak sebenarnya sulit dikenali pada tahap awal terinfeksi. Namun, gejalanya bisa muncul beberapa tahun kemudian. Misalnya, anak yang terinfeksi HIV sejak lahir, bisa saja baru mengalami gejalanya saat berusia 3 atau 4 tahun.

HIV pada anak juga cukup sulit terdeteksi karena gejalanya mirip dengan infeksi virus biasa, misalnya flu. Meski begitu, ada beberapa gejala yang dapat dicurigai sebagai tanda HIV pada anak, di antaranya:

1. Berat badan sulit bertambah

Tanda HIV pada anak yang cukup jelas adalah berat badan yang sulit bertambah. Idealnya, berat badan anak usia 1 tahun bisa mencapai tiga kali berat badannya saat lahir. Namun, anak yang terinfeksi HIV akan tampak kurus karena berat badannya tak kunjung bertambah.

2. Gangguan tumbuh kembang

Anak yang terinfeksi HIV dan tidak segera diobati berpotensi mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lambat. Hal ini dapat dilihat dari kondisi anak yang terlambat duduk, berdiri, berjalan, atau bicara, serta perilaku anak yang cenderung diam dan tidak seperti anak-anak lain seusianya.

Selain itu, saat tumbuh lebih besar, beberapa anak yang terinfeksi HIV juga bisa mengalami lumpuh di sebagian kakinya dan sulit menjaga keseimbangan tubuhnya.

3. Mudah sakit

Sistem kekebalan tubuh anak umumnya memang masih berkembang. Namun, seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuhnya akan semakin kuat sehingga anak dapat terlindungi dari berbagai penyakit.

Orang tua perlu waspada jika anak sering mengalami demam, batuk, pilek, sakit perut, diare, sariawan, ruam popok, atau infeksi telinga yang berlangsung lama, meski telah diobati. Bisa jadi hal tersebut menjadi tanda adanya kelemahan sistem imunitas dan salah satunya disebabkan oleh infeksi HIV.

4. Mudah terkena infeksi

Salah satu tanda HIV pada anak yang paling spesifik adalah anak sering mengalami infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit akibat sistem kekebalan tubuhnya lemah. Infeksi pada anak atau orang dewasa yang menderita HIV disebut juga infeksi oportunistik. Infeksi ini bisa berupa:

  • Infeksi saluran pernapasan, seperti pneumonia, tuberkulosis, bronkitis, dan bronkiolitis
  • Infeksi jamur di mulut dan tenggorokan berupa sariawan yang biasanya berangsung lama, jumlahnya banyak, dan berkembang hingga ke bagian tenggorokan
  • Infeksi saluran cerna, seperti diare kronis serta infeksi pada organ hati dan limpa yang sering kambuh atau terjadi berulang
  • Infeksi cytomegalovirus yang dapat memicu kerusakan pada mata, saluran cerna, paru-paru, dan otak

5. Masalah pada kulit

Anak-anak yang menderita infeksi HIV juga bisa lebih sering mengalami masalah pada kulit. Keluhan-keluhan ini bisa berupa munculnya ruam yang tak kunjung membaik, kulit terkelupas, dan gatal-gatal di kulit yang cepat meluas.

Gangguan pada kulit ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti infeksi kulit akibat kuman atau dermatitis.

Cara Mendeteksi HIV pada Anak dan Pengobatannya

Setiap anak dengan infeksi HIV bisa saja mengalami gejala yang berbeda atau bahkan tidak mengalami gejala sama sekali. Munculnya tanda HIV pada anak di atas juga bukan berarti anak pasti terinfeksi HIV.

Tanda tersebut bisa saja muncul karena melemahnya daya tahan tubuh akibat penyebab lain, seperti gizi buruk atau efek samping pengobatan.

Namun, jika Si Kecil menunjukkan gejala yang dicurigai HIV atau Anda memiliki riwayat penyakit tersebut, bawa ia ke dokter untuk menjalani pemeriksaan lengkap, termasuk pemeriksaan fisik dan tes HIV.

Jika hasil tes menunjukkan anak positif HIV, dokter akan segera memberikan obat antiretroviral untuk mengurangi jumlah virus HIV dan memperkuat daya tahan tubuhnya.

Infeksi HIV memang belum dapat disembuhkan, tetapi dengan rutin mendapatkan pengobatan dan menjalani evaluasi kesehatan secara berkala, anak dengan HIV bisa hidup dengan sehat dan normal.

Sebagai bentuk pencegahan, anak yang terinfeksi virus HIV juga perlu mendapatkan imunisasi. Namun, tidak semua jenis vaksin cocok diberikan kepada anak dengan penyakit HIV.

Untuk mengetahui lebih jauh seputar gejala dan tanda HIV pada anak beserta langkah pencegahannya, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter.