Saat mengatasi muntah pada anak, terkadang orang tua merasa panik, kebingungan, dan sangat khawatir, apalagi jika anak baru pertama kali mengalaminya. Padahal, penting bagi orang tua untuk bersikap tenang dan bijaksana dalam menyikapi kondisi ini.

Dalam menangani muntah pada anak, orang tua perlu mengerti terlebih dahulu apa saja hal yang mungkin menyebabkan muntah. Dengan begitu, rasa panik bisa diminimalkan. Selain itu, penting juga untuk mengetahui tanda bahaya yang harus diwaspadai agar anak bisa segera dibawa ke rumah sakit.

Mengatasi Muntah pada Anak dengan Bijaksana - Alodokter

Kenali Penyebab Muntah pada Anak

Berikut adalah penyebab umum muntah pada anak:

1. Flu perut atau gastroenteritis

Flu perut atau gastroenteritis sering kali terjadi akibat infeksi virus atau bakteri pada sistem pencernaan. Gejalanya bisa mulai dirasakan 12–48 jam setelah anak terinfeksi. Tak hanya muntah, anak juga mungkin akan mengalami diare, mual, dan kram perut. Kondisi ini biasanya tidak berlangsung lama dan tidak berbahaya.

2. Keracunan makanan

Keracunan makanan umumnya terjadi akibat infeksi dari bakteri yang mengontaminasi makanan. Anak bisa mengalaminya jika mengonsumsi makanan, seperti daging, seafood, atau telur, yang pengolahannya tidak higienis, tidak dimasak hingga matang, atau tidak disimpan dengan benar.

3. Alergi makanan

Muntah pada anak juga bisa menjadi pertanda bahwa ia alergi terhadap makanan tertentu, misalnya kacang-kacangan, ikan, kerang, udang, telur, susu sapi, gandum, atau kedelai. Selain muntah, alergi makanan bisa disertai dengan bengkak pada bibir, gatal-gatal, atau kesulitan bernapas.

4. Radang usus buntu

Radang usus buntu atau apendisitis dapat menyebabkan muntah, demam, dan nyeri perut ulu hati. Rasa sakit ini biasanya akan bertambah parah dan berpindah ke perut bagian kanan bawah. Radang usus buntu termasuk kondisi darurat dan memerlukan perawatan medis.

Selain kondisi-kondisi di atas, muntah pada anak juga bisa disebabkan oleh infeksi telinga, pneumonia, migrain pada anak, meningitis atau radang selaput otak, serta stres atau cemas.

Cara Mengatasi Muntah pada Anak di Rumah

Saat anak muntah, hal pertama dan terpenting yang perlu dilakukan orang tua adalah menenangkannya. Setelah itu, pastikan bahwa anak tidak mengalami dehidrasi akibat muntah.

Berikut adalah beberapa cara mengatasi muntah pada anak yang bisa dilakukan di rumah:

  • Jaga posisi anak agar tetap tegak atau berbaring tengkurap atau miring agar ia tidak menghirup muntahan ke saluran pernapasan dan paru-paru.
  • Berikan anak cairan, seperti air putih, oralit, ASI, atau air madu, secara perlahan dan bertahap ketika perutnya sudah tenang selama sekitar setengah jam atau lebih.
  • Jangan memaksa anak untuk minum apa pun ketika ia masih muntah setiap 5–10 menit.
  • Berikan anak minuman pereda mual dan muntah, seperti teh atau jahe yang hangat. Hindari minuman berkarbonasi atau minuman yang tinggi gula.
  • Hindari makanan padat selama 24 jam pertama atau setelah kondisi anak normal kembali.
  • Berikan anak minum yang banyak dan makanan padat yang sehat, seperti roti, sereal, nasi, sup kaldu, buah-buahan, dan sayuran saat kondisinya sudah normal dan nafsu makannya kembali.
  • Hindari makanan yang sulit dicerna, seperti makanan berlemak.
  • Jangan sembarang memberikan anak obat pereda rasa mual yang dijual bebas, terlebih obat yang mengandung aspirin.

Pemberian obat-obatan untuk meredakan muntah pada anak perlu disesuaikan dengan kondisi anak dan penyebabnya, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.

Tanda-Tanda Muntah pada Anak yang Harus Diwaspadai

Segera periksakan ke dokter atau bawa anak ke rumah sakit, jika muntahnya disertai dengan beberapa kondisi berikut:

Adanya darah pada muntahan

Jika ada darah sedikit pada muntahan anak, sebenarnya Anda tidak perlu terlalu khawatir. Namun, jika muntah darah semakin banyak atau darah pada muntahannya mulai berwarna kehitaman, langsung bawa anak ke IGD rumah sakit terdekat agar bisa diberikan penanganan secepat mungkin.

Disertai sakit perut yang hebat

Anda juga patut waspda jika anak mengalami muntah disertai dengan sakit perut yang hebat. Kondisi ini bisa menjadi gejala usus buntu, terutama jika sakit perut di sebelah kanan.

Selain itu, perhatikan juga jika anak mulai terlihat lemas dan timbul tanda penyakit kuning. Sakit kuning yang menyertai sakit perut sebelah kanan atas bisa jadi merupakan tanda-tanda hepatitis.

Muntah terjadi secara terus-menerus

Apabila anak terus memuntahkan makanan atau minuman apa pun yang ditelannya, tubuhnya akan kehilangan banyak cairan dan nutrisi yang dibutuhkan. Pada kondisi ini, anak bisa mengalami dehidrasi dan membutuhkan pertolongan medis untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Anak yang mengalami dehidrasi bisa ditandai dengan berkurangnya buang air kecil, bibir dan mulut kering, lesu, urine berwarna kuning pekat, mata cekung, kedinginan, dan terlihat mengantuk.

Secara umum, muntah pada anak tidaklah berbahaya. Namun, segera periksakan ke dokter jika anak terus-menerus muntah lebih dari 24 jam atau mengalami tanda bahaya yang telah disebutkan di atas. Dengan begitu, penanganan dapat segera diberikan untuk mencegah komplikasi yang bisa saja terjadi.