Perbedaan hipoksia dan hipoksemia sering membingungkan karena keduanya sama-sama berkaitan dengan kekurangan oksigen dalam tubuh. Padahal, masing-masing kondisi memiliki penyebab, gejala, dan risiko yang berbeda.
Kekurangan oksigen, baik dalam darah maupun jaringan tubuh, dapat menimbulkan dampak serius jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, memahami perbedaan hipoksia dan hipoksemia penting agar penanganan yang diberikan dapat tepat dan sesuai kondisi.

Perbedaan Hipoksia dan Hipoksemia
Agar tidak tertukar, berikut ini perbedaan hipoksia dan hipoksemia yang perlu Anda ketahui:
1. Definisi
Hipoksemia adalah kondisi ketika kadar oksigen dalam darah berada di bawah batas normal. Kondisi ini umumnya diukur menggunakan alat pulse oximeter atau melalui analisis gas darah.
Sementara itu, hipoksia merupakan keadaan ketika jaringan atau organ tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup untuk berfungsi secara optimal. Pada beberapa kasus, hipoksia bahkan dapat terjadi meski kadar oksigen dalam darah masih tergolong normal.
2. Penyebab utama
Hipoksemia umumnya disebabkan oleh gangguan pada paru-paru, seperti asma, pneumonia, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau masalah dalam proses pertukaran gas di paru. Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi saat berada di ketinggian ekstrem.
Sementara itu, hipoksia dapat terjadi sebagai akibat dari hipoksemia, tetapi juga bisa dipicu oleh faktor lain. Beberapa di antaranya adalah gangguan aliran darah (misalnya pada serangan jantung atau stroke), kelainan pada darah, seperti anemia berat, serta keracunan karbon monoksida yang menghambat pemanfaatan oksigen oleh jaringan tubuh.
3. Gejala
Pada hipoksemia, gejala yang muncul dapat berupa kulit atau bibir tampak kebiruan (sianosis), sesak napas, napas cepat, gelisah, hingga kebingungan.
Di sisi lain, gejala hipoksia umumnya berkaitan dengan terganggunya fungsi organ. Kondisi ini dapat ditandai dengan lemas berat, penurunan kesadaran, tubuh terasa sangat lemah, hingga berisiko menyebabkan gagal organ.
4. Pemeriksaan
Hipoksemia dapat dideteksi melalui pemeriksaan saturasi oksigen (SpO₂) menggunakan pulse oximeter atau melalui analisis gas darah.
Sementara itu, hipoksia umumnya memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menilai fungsi organ dan jaringan. Pemeriksaan yang dilakukan dapat meliputi penilaian fungsi jantung, otak, maupun ginjal, sesuai dengan kondisi yang dicurigai.
Risiko dan Dampak Kekurangan Oksigen
Baik hipoksia maupun hipoksemia, jika tidak segera ditangani, dapat meningkatkan risiko kerusakan organ vital, seperti otak, jantung, dan ginjal, bahkan berpotensi mengancam jiwa. Beberapa kelompok, seperti penderita penyakit paru atau jantung serta lansia, lebih rentan mengalami kondisi ini.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejalanya dan segera mencari pertolongan medis jika Anda atau orang di sekitar mengalami tanda-tanda, seperti sesak napas berat, bicara tidak jelas, bibir kebiruan, atau penurunan kesadaran.
Jika muncul gejala berat, seperti sesak napas hebat, bibir tampak membiru, atau tidak sadarkan diri, segera bawa ke IGD rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan secepatnya.
Sementara itu, untuk gejala yang lebih ringan atau jika Anda masih ragu, Anda dapat berkonsultasi melalui fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER guna mendapatkan saran medis yang tepat. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah dampak hipoksia dan hipoksemia menjadi lebih serius.