Metabolisme protein adalah proses yang memungkinkan tubuh memecah, menyerap, dan menggunakan protein dari makanan untuk mendukung fungsi organ, otot, serta sistem imun. Proses ini penting dalam pembentukan otot, keseimbangan hormon dan enzim, serta pemulihan jaringan setelah sakit.

Agar organ vital tetap berfungsi optimal, tubuh memerlukan asupan protein harian yang cukup. Setiap sumber protein, seperti daging, telur, tempe, dan kacang-kacangan, melalui proses metabolisme yang cukup kompleks sebelum benar-benar dimanfaatkan tubuh.

Metabolisme Protein, Inilah Tahapan, Faktor yang Memengaruhi, serta Gangguan yang Mungkin Terjadi - Alodokter

Gangguan pada salah satu tahapan metabolisme protein bisa berdampak luas, mulai dari berkurangnya energi hingga terganggunya pertumbuhan dan sistem kekebalan tubuh.

Proses Lengkap Metabolisme Protein

Metabolisme protein adalah rangkaian proses biokimia yang terjadi sejak protein masuk ke tubuh hingga diolah dan dimanfaatkan oleh sel-sel tubuh. Berikut penjelasan lebih rinci dari setiap tahapannya:

1. Pencernaan protein di saluran cerna

Proses metabolisme protein dimulai di saluran pencernaan, tepatnya di lambung. Di sini, protein yang Anda konsumsi mulai dipecah oleh asam lambung dan enzim pepsin. Enzim ini bekerja optimal pada lingkungan asam dan memotong rantai protein besar menjadi potongan-potongan yang lebih kecil bernama peptida. 

Proses pencernaan protein ini bersifat mekanik (oleh gerakan peristaltik lambung) sekaligus kimiawi (oleh enzim). Setelah dari lambung, makanan bergerak ke usus halus, tempat pencernaan lanjutan berlangsung dengan bantuan enzim lain dari pankreas.

2. Penyerapan asam amino

Setelah dipecah menjadi peptida pendek di lambung, makanan masuk ke usus halus. Di sini, enzim seperti tripsin dan kimotripsin yang dihasilkan pankreas melanjutkan pemecahan peptida menjadi molekul yang lebih kecil, yaitu asam amino. 

Dinding usus halus yang dipenuhi vili (tonjolan kecil untuk memperluas area penyerapan) kemudian menyerap asam amino tersebut. Asam amino akan memasuki aliran darah dan dibawa ke berbagai organ serta jaringan tubuh. Penyerapan ini sangat efisien, sehingga hanya sedikit asam amino yang terbuang ke feses.

3. Pemanfaatan asam amino

Asam amino yang sudah berada di aliran darah akan didistribusikan ke jaringan tubuh sesuai kebutuhan. Di dalam sel, asam amino digunakan untuk membangun protein baru yang penting untuk pembentukan otot, enzim, hormon, dan struktur tubuh lainnya. 

Selain itu, asam amino juga berperan dalam proses perbaikan dan regenerasi jaringan yang rusak, serta pembentukan senyawa lain seperti neurotransmitter dan komponen sistem imun. 

Tubuh tidak dapat menyimpan kelebihan asam amino dalam waktu lama. Jika asupan protein harian melebihi kebutuhan, sisanya akan diubah menjadi energi atau lemak. Lalu, sisa limbahnya dibuang melalui ginjal dalam bentuk urea. 

Ketidakseimbangan metabolisme protein, baik akibat kekurangan atau kelebihan, dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Fungsi Penting Metabolisme Protein bagi Kesehatan

Metabolisme protein berperan dalam banyak fungsi vital tubuh, seperti:

  • Memelihara dan membangun jaringan tubuh, seperti kulit, otot, dan organ
  • Membentuk hormon dan enzim, contohnya insulin
  • Mengatur keseimbangan cairan dan pH darah
  • Membangun antibodi sistem imun
  • Mendukung penyembuhan luka dan pertumbuhan sel baru

Perlu diketahui bahwa kebutuhan protein harian setiap orang berbeda, tergantung pada usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, dan aktivitas fisik. Namun, rata-rata orang dewasa memerlukan setidaknya 0,8 gram protein per kilogram berat badan per hari. Kebutuhan ini bisa bertambah pada anak, ibu hamil, atlet, atau penderita penyakit tertentu.

Faktor yang Memengaruhi Metabolisme Protein

Proses metabolisme protein di tubuh dapat berjalan dengan optimal atau justru terhambat, tergantung pada beberapa faktor berikut ini:

1. Kualitas dan kuantitas makanan berprotein

Tidak semua sumber protein memiliki komposisi asam amino esensial yang lengkap. Protein hewani, seperti ikan, daging, telur, dan susu, umumnya mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh dalam proporsi seimbang. Sebaliknya, beberapa protein nabati, misalnya dari tempe, tahu, atau kacang-kacangan, terkadang kekurangan satu atau dua jenis asam amino esensial. 

Jika pola makan Anda didominasi protein nabati, penting untuk mengkombinasikan berbagai sumber nabati agar asupan asam amino tetap lengkap. Selain kualitas, jumlah protein yang dikonsumsi juga berpengaruh. Kekurangan asupan protein akan menyulitkan tubuh memperbaiki jaringan, sedangkan kelebihan protein justru dapat membebani kerja ginjal.

2. Ketersediaan enzim pencernaan

Enzim pencernaan adalah protein khusus yang bertugas memecah rantai protein besar menjadi molekul asam amino yang mudah diserap. Enzim-enzim utama, seperti pepsin di lambung, serta tripsin dan kimotripsin di usus halus, sangat penting bagi kelancaran metabolisme protein. 

Jika terjadi gangguan di lambung, pankreas, atau usus, produksi dan kerja enzim pencernaan bisa berkurang. Akibatnya, pemecahan dan penyerapan protein jadi tidak optimal, sehingga tubuh berisiko kekurangan asupan asam amino, meskipun makanan yang dikonsumsi sudah mengandung cukup protein.

3. Kesehatan hati dan ginjal

Hati dan ginjal merupakan organ utama yang berperan dalam metabolisme serta pembuangan sisa protein. Hati mengolah asam amino untuk membentuk protein tubuh, enzim, dan hormon, serta mengubah amonia, yakni hasil sisa pemecahan asam amino yang bersifat toksik, menjadi urea yang aman. 

Ginjal kemudian bertugas membuang urea dan sisa hasil metabolisme protein melalui urin. Jika hati atau ginjal terganggu, limbah metabolisme dapat menumpuk di darah dan meningkatkan risiko kerusakan organ atau gangguan kesehatan serius.

4. Status gizi dan kondisi medis

Gizi buruk, terutama kekurangan protein dan mikronutrien tertentu, seperti vitamin B6 dan zat besi, dapat menurunkan efisiensi metabolisme protein di dalam tubuh. 

Infeksi kronis, peradangan, atau penyakit metabolik, seperti diabetes dan gangguan tiroid, juga dapat memengaruhi cara tubuh memecah, menggunakan, dan membuang protein. Selain itu, beberapa obat atau terapi medis tertentu juga dapat mengganggu keseimbangan metabolisme protein.

Gangguan Metabolisme Protein

Gangguan metabolisme protein dapat terjadi akibat faktor genetik maupun faktor yang diperoleh. Beberapa kondisi yang bisa terjadi meliputi:

  • Fenilketonuria, yaitu gangguan bawaan yang menyebabkan penumpukan fenilalanin, asam amino yang bisa beracun bagi otak
  • Maple syrup urine disease, yaitu penyakit genetik yang membuat tubuh tidak mampu memecah asam amino tertentu
  • Homosistinuria, yaitu gangguan metabolisme asam amino metionin, yang berisiko memicu gangguan saraf dan pembuluh darah
  • Gangguan hati atau gagal ginjal, yaitu kondisi yang menyebabkan gangguan proses pembuangan hasil metabolisme protein
  • Pankreatitis, yaitu peradangan pada pankreas yang membuat produksi enzim pencerna protein terganggu

Segera konsultasikan dengan dokter jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala seperti kelelahan berkepanjangan, gangguan tumbuh kembang, atau perubahan perilaku tanpa sebab yang jelas. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

Nah, agar metabolisme protein tetap berjalan baik, lakukan beberapa langkah berikut ini:

  • Konsumsi protein berkualitas dari sumber hewani dan nabati secara seimbang.
  • Jaga pola makan bergizi lengkap, termasuk karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral.
  • Lakukan aktivitas fisik secara rutin.
  • Hindari konsumsi protein berlebihan yang dapat membebani kerja ginjal.
  • Jika dibutuhkan, konsultasi dengan dokter terkait konsumsi suplemen atau pengaturan diet khusus.

Jika  ingin memastikan apakah konsumsi protein harian sudah sesuai kebutuhan dan apakah metabolisme protein tubuh dalam kondisi baik, manfaatkan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi untuk berkonsultasi secara online.