Proses penyembuhan luka yang dialami setiap orang berbeda-beda. Luka ringan umumnya dapat sembuh dengan sendirinya melalui perawatan luka yang baik. Namun, pada kasus tertentu, luka bisa sulit sembuh akibat cedera hebat atau penyakit tertentu.

Setiap orang pasti pernah mengalami luka, baik dalam bentuk goresan, sayatan, tusukan, luka bakar, atau bekas jahitan operasi.

Memahami Proses Penyembuhan Luka - Alodokter

Luka biasanya menimbulkan rasa sakit akibat rusaknya jaringan tubuh. Namun, berat atau ringannya rasa sakit yang muncul dan lamanya proses penyembuhan tergantung pada lokasi, jenis luka, dan tingkat keparahannya.

Bagaimana Proses Penyembuhan Luka?

Saat Anda terluka, ada beberapa tahap dalam proses penyembuhan luka, di antaranya:

Tahap hemostasis (pembekuan darah)

Tahap pertama dalam proses penyembuhan luka adalah tahap pembekuan darah. Darah biasanya akan keluar saat kulit tersayat, tergores, atau tertusuk.

Beberapa detik atau menit setelah mengalami luka, darah akan menggumpal untuk menutup dan menyembuhkan luka, serta mencegah tubuh kehilangan darah terlalu banyak. Gumpalan darah ini kemudian akan berubah menjadi keropeng saat mengering.

Tahap inflamasi (peradangan)

Setelah perdarahan berhenti, pembuluh darah akan melebar untuk mengalirkan darah segar ke area tubuh yang terluka. Darah segar dibutuhkan untuk membantu proses penyembuhan luka. Inilah alasan mengapa luka bisa terasa hangat, membengkak, dan kemerahan selama beberapa waktu.

Pada tahap inflamasi, sel darah putih akan menghancurkan kuman di area luka. Hal ini merupakan mekanisme alami tubuh untuk mencegah infeksi. Sel darah putih juga memproduksi senyawa kimia yang dapat memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Selanjutnya, sel-sel kulit baru akan tumbuh dan menutup area luka.

Tahap proliferatif (pembentukan jaringan baru)

Tahap ini merupakan tahap pembentukan jaringan parut setelah luka. Pada tahap ini, kolagen mulai tumbuh di dalam luka. Kolagen merupakan serat protein yang memberikan kekuatan dan tekstur yang elastis pada kulit.

Keberadaan kolagen mendorong tepi luka untuk menyusut dan menutup. Selanjutnya, pembuluh darah kecil atau kapiler terbentuk di luka untuk memberi asupan darah pada kulit yang baru terbentuk.

Tahap pematangan atau penguatan jaringan

Proses pematangan jaringan bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Inilah alasan mengapa semakin lama usia bekas luka, akan semakin memudar pula tampilannya.

Setelah jaringan yang rusak benar-benar pulih, kulit akan menjadi sama kuatnya seperti sebelum mengalami luka.

Meski demikian, penampilan bekas luka mungkin akan berbeda dengan kulit normal. Hal ini karena kulit tersusun dari dua protein, yaitu kolagen yang memberi kekuatan kulit dan elastin yang memberi kelenturan kulit.

Pada bekas luka, kulit tidak dapat memproduksi elastin baru sehingga bekas luka seluruhnya terbuat dari kolagen. Kulit baru yang terbentuk pada bekas luka ini kuat, tetapi kurang lentur dibandingkan kulit di sekitarnya.

Berbagai Kondisi yang Menyebabkan Luka Sulit Sembuh

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan luka sulit sembuh, di antaranya:

1. Infeksi

Infeksi dapat menyebabkan luka semakin melebar atau membesar, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Infeksi dapat terjadi bila luka tidak dirawat dengan baik.

2. Aliran darah tidak lancar

Darah mengandung oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk proses penyembuhan luka. Oleh karena itu, aliran darah yang tidak lancar dapat menghambat proses penyembuhan luka. Gangguan pada aliran darah dapat disebabkan oleh penyumbatan atau varises.

3. Usia

Proses penyembuhan luka pada lansia umumnya berlangsung lebih lama. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya aliran darah kurang lancar, berkurangnya jumlah kolagen akibat proses penuaan, atau penyakit kronis, seperti diabetes.

4. Stres

Stres dapat menyebabkan nafsu makan hilang dan kurang tidur. Bahkan, sebagian orang mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebih sebagai cara untuk melepas stres. Berbagai kondisi tersebut dapat mengganggu proses penyembuhan luka.

5. Efek samping obat-obatan

Proses penyembuhan luka bisa terganggu akibat konsumsi obat-obatan tertentu, misalnya kortikosteroid, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dan obat kemoterapi. Namun, untuk mengurangi rasa nyeri akibat luka, penggunaan obat paracetamol dalam jangka pendek, masih aman bagi proses penyembuhan luka.

6. Kekurangan nutrisi

Kekurangan nutrisi seperti vitamin A dan C, protein, zinc, serta zat besi, dapat menghambat proses penyembuhan luka. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk mencukupi asupan nutrisi dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang guna mendukung pemulihan luka.

7. Merokok

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa proses penyembuhan luka pada perokok aktif berlangsung lebih lama dan tidak sempurna dibandingkan orang yang tidak merokok. Hal ini diduga berkaitan dengan efek merokok yang dapat mengganggu aliran darah dan kinerja sel darah putih, serta tingginya kadar racun dalam darah.

8. Menderita penyakit tertentu

Penyakit tertentu, misalnya diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan gangguan pembuluh darah, juga dapat memperlambat proses penyembuhan luka. Ini dikarenakan penyakit tersebut dapat mengganggu kelancaran aliran darah yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka.

Waktu yang dibutuhkan luka untuk benar-benar pulih tergantung pada kondisi luka. Semakin besar dan dalam kondisi luka, semakin lama pula proses penyembuhan luka. Untuk mendukung proses penyembuhan luka, Anda juga perlu merawat luka dengan baik, banyak beristirahat, dan mengonsumsi makanan bergizi, misalnya makanan yang mengandung asam amino.

Ada riset yang menyebutkan bahwa pemakaian bahan alami, seperti madu, lidah buaya, daun pegagan, atau argan oil dapat membantu mendukung proses penyembuhan luka. Namun, hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

Jika mengalami luka serius atau perdarahan yang tak kunjung berhenti, Anda disarankan untuk segera ke dokter atau rumah sakit terdekat agar penanganan yang tepat dapat dilakukan.