Parenting VOC kerap dikaitkan dengan pola asuh disiplin keras yang menuntut kepatuhan mutlak dari anak kepada orang tua. Meski terkesan mampu menjaga ketertiban di rumah, parenting VOC justru menyimpan risiko bagi tumbuh kembang si Kecil, terutama dalam hal kesehatan mental dan emosional.

Parenting VOC sering dipahami sebagai pola asuh yang menempatkan otoritas orang tua secara absolut dan tidak boleh diganggu gugat. Dalam praktiknya, pendekatan ini menekankan hukuman fisik maupun verbal, perintah satu arah, serta minim ruang diskusi bagi anak.

Parenting VOC, Kenali Ciri-Ciri dan Dampaknya bagi Anak - Alodokter

Akibatnya, anak dapat tumbuh dalam suasana penuh tekanan, merasa takut berpendapat, dan kesulitan mengenali serta mengekspresikan emosinya sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memengaruhi kepercayaan diri dan kemampuan anak membangun hubungan yang sehat.

Ciri-Ciri Parenting VOC

Berikut adalah sejumlah tanda utama parenting VOC yang masih sering dijumpai:

1. Hukuman fisik atau verbal pada anak

Pada parenting VOC, orang tua lebih mengandalkan bentakan, ancaman, sindiran tajam, atau hukuman fisik sebagai cara utama untuk mendisiplinkan anak. Anak dituntut patuh karena takut pada konsekuensi, bukan karena memahami alasan di balik aturan.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat membuat anak merasa tidak aman, rendah diri, atau kesulitan membangun kedekatan emosional dengan orang tua.

2. Minim komunikasi dua arah

Salah satu ciri parenting VOC adalah komunikasi yang berjalan satu arah, yang di mana anak tidak diberi ruang untuk bertanya, menyampaikan pendapat, atau mengungkapkan perasaan. Kondisi ini dapat menghambat perkembangan kemampuan anak dalam berkomunikasi secara sehat dan menurunkan rasa percaya diri saat menyampaikan opini.

3. Tekanan untuk selalu menuruti orang tua

Parenting VOC menekankan prinsip anak harus selalu menurut tanpa ruang diskusi atau kompromi. Peraturan berlaku kaku dan sering kali tidak disertai alasan yang dapat dipahami anak. Akibatnya, anak mungkin patuh di depan orang tua, tetapi menyimpan kebingungan, ketakutan, atau bahkan perlawanan secara diam-diam.

4. Pengambilan keputusan sepihak

Dalam pola parenting VOC, hampir seluruh keputusan terkait kehidupan anak, mulai dari pilihan teman, kegiatan, hingga pendidikan, ditentukan sepenuhnya oleh orang tua. Anak jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, sehingga kesempatan untuk belajar bertanggung jawab dan mengenali minat pribadinya menjadi terbatas.

5. Menerapkan standar tinggi tanpa toleransi kesalahan

Parenting VOC sering menetapkan standar yang sangat tinggi tanpa memberikan ruang bagi anak untuk melakukan kesalahan. Kekeliruan kecil dapat dianggap sebagai bentuk pembangkangan atau kegagalan, lalu langsung direspons dengan hukuman atau kritik keras. 

Padahal, proses belajar dan tumbuh kembang anak secara alami melibatkan kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran.

Dampak Parenting VOC terhadap Kesehatan Mental Anak

Ada beberapa dampak psikologis pada anak akibat pola asuh parenting VOC, di antaranya:

1. Anak tumbuh penuh rasa takut dan cemas

Dalam parenting VOC, disiplin yang berbasis ancaman atau hukuman dapat membuat anak lebih patuh karena takut, bukan karena memahami aturan. Kondisi ini berisiko menimbulkan rasa cemas berlebihan, terutama saat anak melakukan kesalahan atau mencoba hal baru. 

Jika berlangsung lama, anak bisa menjadi ragu mengambil keputusan dan kurang percaya diri.

2. Berisiko mengalami gangguan perilaku dan emosi

Tekanan yang terus-menerus dalam parenting VOC dapat memengaruhi kestabilan emosi anak. Sebagian anak mungkin menunjukkan perilaku memberontak, mudah marah, atau agresif, sementara yang lain justru menarik diri dan menjadi sangat pendiam. 

Pola ini dapat mengganggu kemampuan anak dalam bersosialisasi dan membangun hubungan yang sehat.

3. Kesulitan mengekspresikan perasaan

Karena terbiasa tidak didengar atau tidak diberi ruang berdiskusi, anak yang tumbuh dengan parenting VOC bisa kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosinya sendiri. 

Mereka mungkin memendam perasaan sedih, kecewa, atau marah, yang dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan mental dan hubungan interpersonal saat dewasa.

4. Hubungan orang tua dan anak menjadi kurang hangat

Pendekatan parenting VOC yang kaku dan penuh tekanan dapat mengurangi kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Anak mungkin merasa kurang dipahami atau tidak aman untuk terbuka. Akibatnya, hubungan yang terjalin cenderung formal dan berjarak, bukan didasari rasa percaya dan kenyamanan.

5. Berisiko mengulang pola asuh yang sama

Anak yang tumbuh dalam lingkungan parenting VOC berisiko menganggap pola tersebut sebagai cara yang wajar dalam mendidik. Tanpa disadari, pola asuh keras bisa terbawa hingga dewasa dan diterapkan kembali pada generasi berikutnya. Hal ini dapat menciptakan siklus pengasuhan yang kurang sehat jika tidak disadari dan diperbaiki.

Perubahan pola asuh memang tidak selalu mudah, terlebih jika parenting VOC sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dalam keluarga. Namun, menyadari dampaknya adalah langkah awal yang sangat penting. 

Dengan memahami bahwa disiplin tidak harus identik dengan kekerasan atau tekanan, orang tua dapat mulai membangun hubungan yang lebih hangat, terbuka, dan saling menghargai. Selain itu, model parenting VOC sudah tidak relevan dengan era sekarang dan terkesan toxic karena terlalu otoriter.

Jika Anda merasa pola parenting VOC sudah terlanjur memengaruhi kondisi emosional anak atau muncul tanda-tanda seperti kecemasan berlebihan, perubahan perilaku, maupun kesulitan berkomunikasi, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. 

Anda dapat memanfaatkan layanan Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk berkonsultasi dan mendapatkan arahan yang sesuai dengan kebutuhan anak dan keluarga Anda.