Pehadoxin Forte adalah obat untuk mengobati tuberkulosis (TBC) sekaligus mencegah kekurangan vitamin B6 selama terapi TBC. Kandungan vitamin B6 membantu mengurangi risiko gangguan saraf, terutama pada ibu hamil, penderita diabetes, atau orang dengan kekurangan gizi.
Pehadoxin Forte mengandung isoniazid dan pyridoxine hydrochloride. Isoniazid bekerja dengan cara membunuh bakteri penyebab TBC, sedangkan pyridoxine hydrochloride (vitamin B6) membantu mencegah gangguan saraf tepi yang dapat terjadi sebagai efek samping isoniazid.

Apa Itu Pehadoxin Forte
| Bahan Aktif | Isoniazid dan pyridoxine hydrochloride |
| Golongan | Obat resep |
| Kategori | Antituberkulosis & suplementasi vitamin B6 |
| Manfaat | Mengobati dan mencegah defisiensi vitamin B6 pada terapi TBC |
| Digunakan oleh | Dewasa dan anak-anak |
| Pehadoxin Forte untuk ibu hamil | Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil. |
| Studi pada hewan menunjukkan bahwa isoniazid dapat meningkatkan risiko efek samping pada janin, seperti cacat lahir atau keguguran. Namun, belum diketahui secara pasti apakah efek yang sama terjadi pada manusia. | |
| Pehadoxin Forte untuk ibu menyusui |
Kandungan isoniazid dan pyridoxine hydrochloride dalam Pehadoxin Forte dapat terserap ke dalam ASI dan umumnya aman digunakan oleh ibu menyusui selama penggunaannya sesuai dengan petunjuk dokter. Jika Anda sedang menyusui, konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat ini. |
| Bentuk obat | Tablet |
Peringatan sebelum Menggunakan Pehadoxin Forte
Sebelum memulai pengobatan dengan Pehadoxin Forte, ada beberapa hal penting yang harus Anda ketahui agar penggunaan obat ini aman dan sesuai kebutuhan Anda, di antaranya:
- Beri tahu dokter jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap isoniazid, pyridoxine hydrochloride atau obat lain yang satu golongan dengan obat ini. Jika Anda pernah mengalami reaksi alergi serius akibat obat apa pun, sampaikan juga hal tersebut kepada dokter.
- Jika Anda pernah mengonsumsi obat yang mengandung isoniazid dan mengalami penyakit kuning, beri tahu dokter sebelum memulai pengobatan.
- Beri tahu dokter jika Anda memiliki atau pernah mengalami penyakit hati, penyakit ginjal, neuropati perifer, diabetes, HIV/AIDS, epilepsi, psikosis, kecanduan alkohol atau kesulitan menghentikan konsumsi alkohol.
- Sampaikan kepada dokter jika Anda memiliki riwayat kecanduan alkohol atau kesulitan menghentikan konsumsi alkohol, karena hal ini dapat meningkatkan risiko kerusakan hati selama pengobatan.
- Beri tahu dokter atau tenaga medis bahwa Anda menggunakan Pehadoxin Forte sebelum menjalani prosedur medis, termasuk operasi gigi.
- Informasikan kepada dokter jika Anda akan menerima vaksin bakteri hidup, karena penggunaan Pehadoxin Forte dapat mengurangi efektivitas vaksin tersebut.
- Konsultasikan kepada dokter jika Anda sedang hamil, mungkin sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan sebelum memulai pengobatan.
- Sampaikan kepada dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat tertentu termasuk praziquantel, atazanavir, fosamprenavir, darunavir, saquinavir, ritonavir, tipranavir, antikoagulan, antibiotik jangka panjang, suplemen, atau herbal.
- Informasikan ke dokter jika Anda sedang menggunakan Pehadoxin Forte sebelum melakukan tes glukosa urine karena isoniazid dapat memengaruhi hasil tes.
- Hindari langsung mengemudi atau melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan tinggi setelah minum Pehadoxin Forte, karena obat ini dapat menyebabkan pusing atau gangguan penglihatan.
- Segera cari bantuan medis jika Anda mengalami reaksi alergi atau efek samping serius selama menggunakan obat ini.
Dosis dan Aturan Pakai Pehadoxin Forte
Dosis Pehadoxin Forte dapat berbeda pada setiap orang dan ditentukan oleh dokter berdasarkan usia serta respons tubuh terhadap pengobatan. Berikut adalah dosis isoniazid dan pyridoxine hydrochloride yang terkandung dalam Pehadoxin Forte:
Kondisi: TBC Aktif & TB Ekstra Paru (menyebar ke organ lain)
- Dewasa: 5 mg per kg berat badan (maksimal 300 mg per hari), bisa diminum sekaligus atau dibagi beberapa dosis. Alternatif: 10 mg/kg (maksimal 900 mg per hari), dikonsumsi 3 kali seminggu.
- Anak-anak: 10–15 mg/kg (maksimal 300 mg per hari), bisa diminum sekaligus atau dibagi beberapa dosis.
Kondisi: TB Laten (infeksi TBC yang belum aktif)
- Dewasa: Dosis standar 300 mg per hari, diminum sekali sehari selama 6 bulan. Alternatif: 5 mg/kg (maksimal 300 mg per hari) atau 15 mg/kg (maksimal 900 mg) sebanyak 2 kali seminggu, dengan durasi pengobatan 6–9 bulan.
- Anak-anak: 10 mg/kg (maksimal 300 mg per hari) sebagai dosis tunggal, atau 20–40 mg/kg (maksimal 900 mg) sebanyak 2 kali seminggu, selama 6–9 bulan.
Cara Menggunakan Pehadoxin Forte dengan Benar
Gunakan Pehadoxin Forte sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter dan baca petunjuk pada label kemasan. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
Penggunaan Pehadoxin Forte yang tepat dapat membantu memaksimalkan manfaat obat dan mengurangi risiko efek samping. Perhatikan hal-hal berikut:
- Konsumsi Pehadoxin Forte saat perut kosong, idealnya 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Jika terasa tidak nyaman di lambung, obat ini bisa dikonsumsi bersamaan dengan makanan. Telan tablet Pehadoxin Forte secara utuh dengan segelas air putih.
- Dosis pengobatan pasien ditentukan berdasarkan kondisi, umur, berat badan, dan respons tubuh terhadap obat. Pastikan Anda selalu mengonsumsi Pehadoxin Forte secara teratur sesuai dengan instruksi yang diberikan.
- Jika Anda mengonsumsi Pehadoxin Forte setiap hari, konsumsi obat ini pada waktu yang sama setiap harinya agar pengobatan lebih efektif.
- Jika Anda lupa mengonsumsi Pehadoxin Forte, segera minum obat ini saat ingat. Namun, jika sudah terlalu dekat dengan jadwal berikutnya, lewati dosis yang terlewat. Jangan menggandakan dosis untuk menggantikan yang terlewat, kecuali atas petunjuk dokter.
- Jangan menghentikan penggunaan Pehadoxin Forte lebih cepat dari waktu yang ditentukan dokter walaupun keluhan yang Anda rasakan sudah hilang sepenuhnya. Penghentian obat tuberkulosis secara dini dapat menyebabkan bakteri tuberkulosis kebal terhadap obat. Akibatnya, tuberkulosis bisa kambuh dan lebih sulit diobati.
- Ikuti jadwal kontrol agar kondisi dan perkembangan terapi tetap terpantau. Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan fungsi hati secara berkala untuk memantau kesehatan hati selama pengobatan.
- Pantau berat badan secara berkala sesuai anjuran dokter selama mengonsumsi Pehadoxin Forte, hal ini penting karena dosis obat disesuaikan dengan berat badan.
- Selain itu, Anda juga masih bisa menularkan tuberkulosis meskipun sudah dalam masa pengobatan. Oleh karena itu, tetaplah disiplin dalam menerapkan protokol pencegahan tuberkulosis, baik di rumah maupun di luar rumah.
- Jangan gunakan Pehadoxin Forte yang sudah kedaluwarsa.
- Simpan Pehadoxin Forte di tempat yang sejuk dan kering, jauh dari sinar matahari langsung. Pastikan juga disimpan jauh dari jangkauan anak-anak.
Interaksi Pehadoxin Forte dengan Obat Lain
Beberapa obat dapat memengaruhi kerja Pehadoxin Forte atau sebaliknya, sehingga mengenal interaksi ini penting untuk menghindari komplikasi selama pengobatan.
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping obat jika dikonsumsi bersamaan dengan antikonvulsan, benzodiazepine, chlorzoxazone, disulfiram, warfarin, clofazimine, cycloserine, atau teofilin
- Peningkatan risiko terjadinya neuropati perifer jika digunakan bersamaan dengan stavudine
- Peningkatan risiko terjadinya kerusakan ginjal jika digunakan bersamaan dengan enfluran
- Penurunan efektivitas isoniazid jika dikonsumsi bersama prednisolone
- Penurunan penyerapan isoniazid jika digunakan bersamaan dengan antasida yang mengandung aluminium, seperti aluminium hidroksida
Untuk menghindari efek interaksi yang tidak diinginkan, berkonsultasilah ke dokter jika hendak menggunakan Pehadoxin Forte bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.
Efek Samping dan Bahaya Pehadoxin Forte
Penggunaan Pehadoxin Forte, berisiko menimbulkan efek samping, terutama bila penggunaannya menyalahi dosis. Efek samping yang muncul bisa berupa:
- Mual, muntah, atau gangguan pencernaan ringan
- Pusing, sakit kepala
- Rasa lelah
Konsultasikan diri Anda ke dokter bila keluhan dan efek samping di atas tidak kunjung mereda atau malah memburuk. Anda bisa menggunakan fitur Chat Bersama Dokter atau buat janji konsultasi di aplikasi Alodokter.
Periksakan ke dokter jika efek samping di atas tak kunjung reda atau memburuk. Hentikan penggunaan Pehadoxin Forte dan segera ke dokter bila Anda mengalami efek samping serius, seperti:
- Reaksi alergi berat, seperti sesak napas, bengkak di wajah atau bibir, dan ruam gatal parah
- Demam lebih dari 3 hari
- Pembengkakan kelenjar getah bening
- Penglihatan kabur atau nyeri di belakang mata
- Gangguan hati yang ditandai dengan kulit atau bagian putih mata menguning, urine berwarna gelap
- Gangguan saraf yang ditandai dengan kesemutan, lemah anggota gerak, atau gangguan koordinasi