Jerawat memang bukan kondisi yang berbahaya, namun keberadaannya sering kali mengganggu. Antibiotik untuk jerawat umumnya digunakan sebagai salah satu cara untuk mengatasi jerawat membandel yang disebabkan infeksi bakteri. Namun, penggunaannya harus sesuai dengan instruksi dokter.

Umumnya, wanita lebih rentan berjerawat dibandingkan dengan pria. Meski terlihat ringan, akan tetapi jerawat dapat menimbulkan dampak cukup serius secara psikologis, mulai dari penurunan rasa percaya diri hingga depresi.

Penggunaan Antibiotik untuk Jerawat dan Tips Mengatasinya - Alodokter

Jerawat biasanya disebabkan oleh penyumbatan folikel rambut oleh minyak dan sel kulit mati. Selain itu, beberapa hal lain juga dapat menyebabkan munculnya jerawat, yaitu produksi minyak berlebih, peningkatan aktivitas hormon, dan infeksi bakteri.

Bagaimana Bakteri Memicu Munculnya Jerawat?

Berjerawat atau tidak, normalnya memang terdapat bakteri pada permukaan kulit manusia. Namun, pada kondisi tertentu, jumlah bakteri di kulit bisa meningkat secara tiba-tiba, terutama pada remaja yang sedang memasuki masa pubertas dan wanita yang memasuki masa menstruasi atau sedang hamil.

Meningkatnya jumlah bakteri pada folikel rambut, terutama di bagian wajah, leher, dada, dan punggung, akan membuat tubuh memproduksi sel-sel untuk melawan infeksi. Kondisi ini akhirnya menyebabkan terjadinya peradangan berupa iritasi dan kemerahan pada kulit yang memicu munculnya jerawat.

Folikel rambut yang tersumbat bakteri pada akhirnya akan pecah dan menyebabkan peradangan semakin menyebar ke jaringan di sekitarnya.

Penggunaan Antibiotik untuk Jerawat

Antibiotik kerap digunakan untuk mengobati jerawat yang disebabkan oleh bakteri. Penggunaan antibiotik mampu meredakan peradangan akibat kulit berjerawat dengan membunuh bakteri penyebab timbulnya jerawat.

Meski demikian, tidak semua jenis jerawat perlu diobati menggunakan antibiotik, karena pengobatan jerawat umumnya tergantung usia, tingkat keparahan jerawat, dan riwayat pengobatan jerawat sebelumnya. Antibiotik hanya digunakan untuk mengatasi jerawat yang berisiko meninggalkan bekas atau jerawat yang tergolong parah.

Antibiotik untuk jerawat ada yang berbentuk oles (topikal) dan ada juga yang langsung diminum (oral). Antibiotik topikal berfungsi untuk membunuh bakteri pada area kulit yang berjerawat, sedangkan antibiotik oral membunuh bakteri dari dalam pori-pori kulit secara keseluruhan.

Ada beberapa pilihan antibiotik yang dapat diresepkan dokter untuk mengatasi jerawat, yaitu:

  • Clindamycin berfungsi untuk memperlambat dan menghentikan pertumbuhan bakteri pada kulit berjerawat. Obat ini tersedia dalam bentuk obat oles dan obat minum.
  • Erythromycin digunakan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi pada kulit dan mengatasi gangguan kulit jangka panjang.
  • Doxycycline merupakan antibiotik oral golongan tetracycline yang bekerja menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Obat ini dapat bekerja secara optimal jika diminum saat perut kosong, yaitu 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan bagi penderita sakit maag.

Penggunaan antibiotik untuk jerawat harus sesuai dengan anjuran dan resep dokter. Hal ini dikarenakan penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau sembarangan bisa meningkatkan risiko resistensi antibiotik

Selain itu, ibu hamil hendaknya lebih berhati-hati, sebab sebagian antibiotik dapat menyebabkan gangguan pada kehamilan dan janin, sehingga perlu dihindari.

Penggunaan antibiotik untuk jerawat mungkin akan digabungkan dengan obat oles yang mengandung retinoid atau benzoyl peroxide guna meningkatkan efektivitas pengobatan dan menurunkan risiko terjadinya resistensi antibiotik.

Tips Mengatasi Jerawat

Untuk membantu mengatasi jerawat, Anda perlu memperhatikan dan merawat kebersihan kulit dengan lebih baik. Berikut ini adalah beberapa tips yang perlu Anda ikuti untuk mengatasi kulit berjerawat:

  • Bersihkan kulit menggunakan sabun yang bersifat ringan dan berbahan lembut. Hindari sabun yang banyak mengandung wewangian dan bersifat antiseptik karena dapat membuat kulit lebih kering, bahkan iritasi pada kulit yang sensitif.
  • Hindari melakukan scrubbing atau menggosok kulit secara berlebihan saat membersihkan kulit yang berjerawat.
  • Gunakan produk untuk kulit yang telah diuji secara dermatologis dan bersifat non-komedogenik, sehingga aman dan tidak menyumbat pori-pori kulit.
  • Hindari menyentuh, menggaruk, atau memecahkan jerawat sendiri, karena dapat menyebabkan infeksi semakin meluas dan menimbulkan bekas jerawat.
  • Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air bersih.
  • Rutin membersihkan rambut dengan sampo, terutama jika Anda memiliki jenis rambut berminyak.
  • Bersihkan wajah sebelum tidur, terutama jika menggunakan make up.

Penggunaan antibiotik untuk jerawat sebaiknya disertai dengan langkah-langkah di atas agar jerawat yang mengganggu dapat segera teratasi. Namun, perlu Anda ingat pula bahwa penggunaan antibiotik harus mengikuti instruksi dan di bawah pengawasan dokter kulit agar pengobatan dapat efektif dan Anda terhindar dari risiko efek samping yang tidak diinginkan.