Alergi pada anak umum terjadi pada usia di bawah 3 tahun. Reaksi alergi yang muncul bisa bermacam-macam, mulai dari gejala ringan hingga reaksi berat yang dapat mengancam nyawa. Namun, Moms sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa si Kecil mengalami alergi hanya berdasarkan gejala yang muncul.

Sistem kekebalan tubuh bertugas melindungi tubuh dari benda asing atau zat yang dianggap berbahaya, seperti kuman, virus, dan racun. Namun, pada penderita alergi, sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya. Kondisi ini sering terjadi pada anak-anak dan dapat dipicu oleh berbagai jenis alergen, misalnya makanan, debu, obat-obatan, maupun susu sapi. 

Yuk, Kenali Mitos dan Fakta Seputar Alergi pada si Kecil - Alodokter

Perlu diketahui, gejala alergi pada anak bisa menyerupai kondisi kesehatan lainnya. Oleh karena itu, Moms perlu berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter mengenai kondisi si Kecil agar dilakukan tes alergi dan pemeriksaan lebih lanjut. Dengan begitu, Mom bisa melakukan upaya pencegahan atau penanganan yang sesuai.

Selain itu, jangan sampai salah kaprah akan mitos-mitos terkait alergi pada si Kecil ya, Moms.

Peningkatan Kasus Alergi di Seluruh Dunia

Angka kejadian kasus alergi pada anak terus meningkat. Diperkirakan sekitar 30–40% populasi dunia mengalami penyakit alergi. Banyak kasus alergi mulai muncul sejak masa kanak-kanak.

Peningkatan angka kejadian kasus alergi diduga disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain keturunan atau riwayat alergi dalam keluarga, pengaruh lingkungan, serta pola makan.

Jika si Kecil alergi terhadap suatu zat, reaksi alerginya akan kambuh ketika ia terpapar zat pemicu alergi atau yang disebut juga dengan istilah alergen. Jenis alergen yang menjadi pemicu reaksi untuk tiap penderita bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, Moms perlu mengetahui alergen apa yang memicu reaksi alergi si Kecil agar bisa dihindari. 

Mitos dan Fakta Seputar Alergi pada si Kecil

Masih banyak anggapan yang beredar di masyarakat mengenai penyebab maupun tanda alergi pada si Kecil. Agar tidak keliru dalam mengambil langkah, yuk kenali beberapa mitos berikut beserta faktanya:

1. Mitos: Alergi anak bisa diketahui sejak dalam kandungan

Salah satu mitos terkait alergi pada anak adalah kondisi ini bisa langsung didiagnosis sejak dalam kandungan hanya berdasarkan riwayat alergi keluarga. Faktanya, riwayat alergi dalam keluarga memang dapat meningkatkan risiko alergi pada si Kecil, tetapi tidak dapat digunakan untuk memastikan diagnosis ya, Moms. 

Diagnosis alergi, termasuk alergi susu sapi, tetap memerlukan evaluasi dari dokter dan pemeriksaan alergi yang sesuai bila diperlukan.

2. Mitos: Alergi susu sapi sama dengan intoleransi laktosa

Mitos lain seputar alergi pada si Kecil adalah anggapan bahwa alergi susu sapi sama dengan intoleransi laktosa. Faktanya, keduanya merupakan kondisi yang berbeda, Moms. 

Alergi susu sapi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap protein dalam susu sapi. Sementara itu, intoleransi laktosa terjadi karena tubuh kekurangan enzim laktase sehingga tidak dapat mencerna laktosa atau gula alami pada susu dengan baik. Karena penyebabnya berbeda, penanganannya pun tidak sama ya.

3. Mitos: Kalau si Kecil kembung, rewel, dan sering buang angin, artinya dia alergi susu sapi

Anak yang sering kembung, rewel, atau sering buang angin sering kali dianggap pasti mengalami alergi susu sapi. Padahal, belum tentu lho, Moms. 

Faktanya, keluhan tersebut juga dapat terjadi karena sistem pencernaan si Kecil masih berkembang. Oleh karena itu, Moms sebaiknya tidak langsung mendiagnosis sendiri bahwa si Kecil menderita alergi susu sapi. Konsultasikan ke dokter agar penyebabnya dapat dipastikan melalui pemeriksaan yang tepat.

Cara Mengatasi Alergi pada Anak 

Hingga saat ini, alergi belum bisa disembuhkan. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah kekambuhan alergi pada si Kecil, antara lain:

1. Kenali penyebab alergi pada anak

Langkah utama yang bisa Moms lakukan untuk mencegah kekambuhan alergi pada si Kecil adalah dengan mengenali pemicu alerginya. Perhatikan segala sesuatu yang berpotensi membuat si Kecil mengalami reaksi alergi, seperti debu, udara dingin, konsumsi susu sapi, atau penggunaan detergen tertentu. 

2. Kendalikan gejala alergi

Untuk mengendalikan gejala alergi yang mungkin muncul pada si Kecil, ada beberapa hal yang bisa Moms lakukan, antara lain: 

  • Bersihkan perabotan rumah tangga secara rutin agar terbebas dari debu.
  • Gunakan pendingin udara alih-alih membuka jendela agar partikel yang beterbangan di udara luar tidak masuk ke dalam rumah. 
  • Letakkan dehumidifier di area rumah yang lembap jika memungkinkan.  
  • Gunakan air purifier untuk menyaring debu dan udara yang kotor.

3. Konsultasikan ke dokter 

Alergi dapat mempengaruhi kenyamanan dan aktivitas si Kecil sehari-hari. Namun, karena gejalanya dapat menyerupai kondisi lain, Moms sebaiknya tidak terburu-buru mendiagnosis sendiri bahwa si Kecil mengalami alergi, ya.

Sebaiknya bawa si Kecil untuk menjalani tes alergi dan evaluasi medis lainnya ke dokter agar penanganan juga dapat diberikan dengan optimal.

Namun, jika si Kecil mengalami reaksi alergi berat, seperti sesak napas, mengi, lemas, atau penurunan kesadaran, segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat ya, Moms. 

Sebelum menyimpulkan bahwa si Kecil mengalami alergi susu sapi, pastikan Moms terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter anak dan si Kecil menjalani pemeriksaan yang sesuai guna memastikan diagnosis. Hal ini penting dilakukan karena gejala seperti perut kembung, sering buang angin, atau rewel tidak selalu menandakan alergi.

Pada banyak kasus, gejala tersebut merupakan hal yang wajar karena sistem pencernaan si Kecil masih berkembang hingga usia 3 tahun. Sistem pencernaan yang belum matang belum mampu mencerna nutrisi kompleks, seperti protein, secara optimal sehingga dapat menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan. 

Jika si Kecil didiagnosis mengalami alergi susu sapi oleh dokter, penting untuk mengikuti anjuran dokter mengenai pilihan formula yang sesuai. 

Menurut rekomendasi terbaru IDAI, anak dengan alergi susu sapi tidak dianjurkan mengonsumsi susu formula biasa. Jadi, pemilihan formula harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak berdasarkan rekomendasi dokter.

Jika si Kecil tidak mengalami alergi susu sapi dan hanya ketidaknyamanan pencernaan akibat sistem cerna yang masih berkembang, dokter dapat merekomendasikan susu formula dengan protein terhidrolisa parsial (PHP). Susu ini memiliki protein yang berukuran lebih kecil, sehingga lebih mudah dicerna dan membantu mendukung kenyamanan pencernaan si Kecil.

Selain itu, pastikan juga susu formula yang Moms berikan mengandung tinggi DHA hingga 35 mg per sajian, untuk membantu mengoptimalkan perkembangan otak si Kecil.

Jika ingin tahu apakah si Kecil punya alergi, Moms dapat berkonsultasi dengan dokter lewat Chat bersama Dokter. Setelah itu, dokter dapat melakukan evaluasi dan tes alergi bila diperlukan. Dengan diagnosis yang tepat, si Kecil dapat memperoleh terapi atau penanganan yang sesuai dengan penyebabnya sehingga tumbuh kembangnya tetap optimal.