Cinta memang bisa membuat pernikahanmu bahagia. Tetapi sayangnya, cinta saja tidak cukup untuk membuat sebuah pernikahan bertahan dan mencapai tujuan. Butuh banyak usaha dan pengorbanan untuk membina pernikahan yang sehat.

Menikahi seseorang atas dasar cinta semata tanpa menyadari bahwa ia kurang baik atau kurang cerdas mungkin bisa disebut romantis. Memang tidak ada manusia yang sempurna, tetapi dalam jangka panjang, keputusan ini bisa saja menjadi bencana, lho.

Pernikahan yang Sehat, Cinta Saja Belum Cukup - Alodokter

Banyak pernikahan yang bermula dari cinta, tapi berakhir dengan perpisahan. Ini karena pernikahan sesungguhnya adalah tes emosi dan ujian keterampilan hidup. Persoalannya, keterampilan hidup ini tidak diajarkan dan dilatih. Sehingga tidak sedikit yang gagal saat menjalani ujian dalam pernikahan, meski menikah karena cinta.

Mengapa Cinta Saja Tidak Cukup?

Bagaimana pun, pernikahan yang bahagia dan harmonis dalam jangka panjang tidak bisa dicapai hanya dengan cinta. Dua alasan utamanya adalah:

Pernikahan bukan hanya tentang romantisme

Pernikahan bukan semata-mata hubungan romantis antara dua orang. Ada banyak kebutuhan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi dalam rumah tangga, dan salah satunya adalah ekonomi. Dalam membina rumah tangga, dibutuhkan banyak biaya, misalnya untuk keperluan sehari-hari dan pendidikan anak.

Rasa cinta itu tidak stabil

Perasaan cinta adalah emosi yang bisa berubah-ubah intensitasnya. Padahal pernikahan menuntut stabilitas, rutinitas, dan bersifat jangka panjang. Ini membuat pernikahan yang hanya mengandalkan cinta akan berujung pada kekecewaan.

Menjaga Pernikahan, Perlu Usaha

Menurut suatu studi, pasangan yang sukses dalam pernikahan adalah mereka yang sudah menerapkan prinsip di bawah ini. Saat membacanya, tanyakan ke diri sendiri apakah kamu sudah memiliki kemampuan tersebut? Adakah hal yang masih perlu diperbaiki? Apa yang membuatmu sulit melakukan hal-hal tertentu?

1. Kemampuan mengelola emosi

Kamu dan pasanganmu perlu memiliki kemampuan untuk mengenali dan menyampaikan emosi secara langsung, dan tentunya dengan cara yang positif.

Selain itu, kamu dan pasangan juga perlu mengelola emosi sebelum emosi tersebut menimbulkan dampak yang merugikan, baik ke diri sendiri maupun orang lain. Carilah cara yang paling efektif untuk menenangkan dirimu dan pasanganmu. Bila perlu, minta bantuan pada psikolog atau psikiater.

2. Mengenali kebutuhan diri

Pernikahan yang sehat dimulai dari kemampuan masing-masing untuk mengenali kebutuhannya, seperti olahraga untuk menjaga kesehatan fisik, atau waktu untuk diri sendiri dan bersosialisasi dengan teman-teman. Pernikahan yang sehat harus didasari rasa percaya yang kuat dan mau berkompromi untuk hal-hal tersebut.

3. Mengenali kebutuhan pasangan

Selain mengetahui kebutuhan diri sendiri, kamu juga tentunya perlu mengenali kebutuhan pasanganmu. Kamu perlu hadir saat ia membutuhkan dukunganmu, dan menyadari bahwa tindakanmu dapat berdampak juga pada pasangan. Hal sederhana seperti mengucapkan terima kasih kepada pasangan, atau meminta maaf ketika berbuat salah juga menjadi bagian penting di dalamnya.

4. Lindungi pernikahan

Jangan biarkan gangguan dari pekerjaan ataupun pengalaman yang kurang baik dari keluarga masing-masing memengaruhi hubungan pernikahanmu. Bangun kedekatan, tapi sekaligus berikan keleluasaan bagi pasangan untuk tetap memiliki privasi. Selain itu, kehadiran anak juga seharusnya makin mempererat hubungan suami-istri, bukan malah membuat jarak.

5. Jadikan pernikahan sebagai sesuatu yang nyaman

Pernikahan seharusnya menjadi wadah yang nyaman bagi tiap pasangan untuk mengekspresikan emosinya, sekaligus tempat untuk mendapatkan ketenangan, berbagi tawa, bertumbuh, dan saling memberikan dukungan.

Jangan putus asa jika kamu dan pasanganmu masih belum mengenal dan memahami satu sama lain dengan baik. Pernikahan adalah proses belajar dan bertumbuh bersama. Meskipun cinta saja tidak cukup untuk membangun pernikahan yang sehat, namun rasa cinta terhadap pasangan dapat mendorong keinginan untuk menjadi lebih baik, serta mempertahankan pernikahan ketika muncul konflik.

Apabila sulit mendapatkan titik terang saat menghadapi persoalan dalam rumah tangga, kamu dan pasangan bisa menjalani konseling pernikahan dengan psikolog. Dalam sesi konseling, psikolog akan mendengarkan permasalahan secara objektif dan menyarankan beberapa tips yang dapat membantu mempertahankan rumah tanggamu.