Polusi udara merupakan permasalahan umum yang terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia. Dampak polusi udara terhadap kesehatan juga tidak bisa disepelekan karena bisa memicu beragam penyakit.

Polusi udara terjadi ketika udara yang dihirup bercampur dengan zat beracun yang berasal dari asap kendaraan, limbah pabrik, debu, serbuk sari, hingga asap kebakaran hutan. Polusi udara terbagi menjadi 2 kategori, yaitu polusi udara luar ruangan dan polusi udara dalam ruangan.

Jangan Sepelekan Dampak Buruk Polusi Udara - Alodokter

Polusi luar ruangan meliputi pembakaran bahan bakar fosil (asap kendaraan dan pabrik), gas berbahaya (sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida), dan asap rokok.

Sedangkan contoj polusi udara dalam ruangan adalah gas (karbon monoksida, radon), produk dan bahan kimia rumah tangga, asap rokok, bahan bangunan (asbes, timbal, formaldehida), alergen dalam ruangan (kecoak, kotoran tikus, debu), serta jamur dan serbuk sari.

Dalam beberapa kasus, polusi udara luar ruangan bisa masuk ke dalam rumah melalui jendela, pintu, ventilasi, dan lubang sirkulasi udara lain yang terbuka. Polusi tak hanya bisa terjadi di kota, tetapi juga di pedesaan.

Risiko dan Dampak Buruk Polusi Udara bagi Kesehatan

Penurunan tingkat polusi udara di suatu negara telah membantu mengurangi risiko warganya untuk terkena penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru, kelahiran prematur, asma, gangguan pernapasan akut, dan juga kematian.

Dampak polusi udara terhadap kesehatan memang beragam. Pada ibu hamil misalnya, polusi udara bisa menyebabkan perkembangan paru-paru dan ginjal janin dalam kandungan terhambat, bahkan bisa meningkatkan risiko keguguran.

Pada orang tua, polusi udara bisa meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan demensia. Risiko berkembangnya penyakit asma, diabetes, obesitas, hingga kanker juga turut menghantui orang di segala usia yang sering terpapar polusi udara.

Beberapa pemicu polusi udara beserta dampak buruknya bagi kesehatan adalah:

1. Karbon monoksida

Karbon monoksida tidak memiliki aroma dan warna. Zat beracun ini dihasilkan dari pembakaran batu bara, bahan bakar kendaraan bermotor, kayu bakar kompor, pembangkit listrik, hingga limbah industri.

Jika zat ini terhirup atau masuk ke dalam tubuh, Anda mungkin untuk mengalami keracunan karbon monoksida. Apabila ini terjadi, suplai darah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dapat terhambat.

Keracunan karbon monoksida memiliki dampak yang berbeda karena bergantung pada berapa lama paparan dan seberapa banyak karbon monoksida yang terhirup. Apabila yang terhirup hanya sedikit, maka gejala berupa sakit kepala, pusing, sakit perut, mual, muntah, dan kelelahan mungkin untuk dirasakan.

Gejala keracunan karbon monoksida ringan ini secara sekilas memang mirip dengan gejala keracunan. Sementara itu, gejala dari paparan karbon monoksida dalam jumlah yang tinggi dan berkepanjangan, dapat menyebabkan Anda mengalami gangguan penglihatan, nyeri dada, sesak napas, penurunan kesadaran, hingga kematian.

2. Nitrogen dioksida

Nitrogen dioksida (NO2) dihasilkan dari proses pembakaran emisi pembangkit listrik, mesin kendaraan, dan kapal. NO2 dapat mengiritasi mukosa mata, hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

Paparan NO2 dapat memperburuk penyakit pernapasan seperti asma. Partikel NO2 dapat menembus ke dalam paru-paru yang sensitif dan dapat menyebabkan atau memperburuk penyakit pernapasan seperti bronkitis dan emfisema.

Dampak polusi udara NO2 juga bisa menurunkan fungsi paru-paru dan meningkatkan risiko infeksi pernapasan. Bahkan, paparannya juga bisa memperparah penyakit jantung dan kematian dini.

3. Partikel padat dan cair

Komponen partikel di udara ini meliputi sulfat, nitrat, bahan kimia organik, logam, partikel tanah, atau debu. Partikel ini terdapat pada asap kendaraan, pembangkit listrik, dan kebakaran hutan. Jika Anda terpapar kombinasi partikel ini secara terus-menerus, risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan akan meningkat.

4. Ozon

Ozon di permukaan tanah berbeda dengan lapisan ozon di atmosfer. Di udara, ozon berfungsi sebagai penangkal cahaya ultraviolet (UV), sementara pada permukaan bumi, ozon masuk ke dalam kategori polusi.

Ozon di permukaan bumi terbentuk ketika cahaya matahari memicu reaksi kimia antara unsur-unsur polusi. Ozon merupakan gas yang sangat reaktif sehingga bisa mengiritasi mata dan menyebabkan gangguan pernapasan bagian atas dan bawah pada orang sehat sekalipun.

Dampak polusi udara ozon adalah dapat memicu serangan asma pada penderita asma. Ozon juga dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi pernapasan dan memperparah penyakit pernapasan yang sudah diderita sebelumnya.

Paparan jangka panjang terhadap konsentrasi ozon yang tinggi dapat menyebabkan penurunan fungsi paru yang signifikan, pembengkakan jalan napas, dan gangguan pernapasan. Orang dengan penyakit paru-paru sangat rentan terhadap efek gangguan pernapasan akibat paparan ozon di permukaan bumi.

5. Sulfur dioksida

Sulfur dioksida atau SO2 dihasilkan dari pembakaran batu bara dan bensin. Zat ini dapat mengiritasi mata dan hidung. Menghirup unsur ini dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan, dan penderita asma dan penyakit pernapasan kronis akan lebih sensitif terhadap paparan SO2.

6. Timbal

Mayoritas timbal atau disebut juga timah berasal dari emisi kendaraan, industri, penggunaan solder, dan cat. Timbal sangat beracun dan dampak dari polusi udara timbal bisa menyebabkan kerusakan sistem saraf, ginjal, serta mengganggu proses pembentukan hemoglobin.

Anak-anak tergolong rentan terhadap efek timbal karena paparannya dapat mengakibatkan penurunan nilai IQ (tingkat kecerdasan), penurunan prestasi, gangguan perilaku, pubertas yang tertunda, penurunan fungsi pendengaran, hingga kinerja kognitif.

Sementara pada orang dewasa, paparan timbal dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskular, gangguan saraf, penurunan kesuburan, hingga penurunan fungsi ginjal.

Kurangi Risiko Paparan Polusi Udara dengan Langkah Berikut Ini

Untuk mengurangi dampak polusi udara dalam ruangan, Anda bisa melakukan hal berikut:

  • Pastikan bahwa ruangan rumah atau kantor Anda berventilasi baik.
  • Bersihkan ventilasi secara teratur untuk mencegah penumpukan debu dan munculnya jamur.
  • Gunakan perlengkapan dan kebutuhan rumah tangga dengan bijak. Sebaiknya kurangi penggunaan polutan dan iritan seperti aerosol, bahan kimia pembersih rumah tangga, dan bahan penyebab polusi lain.
  • Masaklah menggunakan kompor yang hemat gas dan batasi penggunaan listrik atau bahan bakar.

Selain itu, untuk mengurangi efek radikal beabs dari polusi, Anda juga bisa mengonsumsi cukup antioksidan dari berbagai makanan dan minuman atau suplemen.

Sementara itu, guna mengurangi dampak polusi udara ruang terbuka atau luar ruangan, Anda disarankan untuk memperhatikan indeks kualitas udara di sekitar. Jika indeksi kualitas udaranya buruk atau merah, batasi aktivitas di tempat tersebut.

Selain itu, upayakan untuk mengurangi polusi udara. Caranya beragam, mulai dari menggunakan energi yang ramah lingkungan, bepergian menggunakan transportasi umum, sepeda atau berjalan kaki, hingga berhenti merokok.

Dampak polusi udara terhadap kesehatan tidak bisa disepelekan sehingga penting untuk membatasi aktivitas di tempat-tempat yang memiliki polusi udara tinggi. Apabila Anda tinggal di wilayah berpolusi tinggi, disarankan untuk berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala berupa sesak napas, kelelahan, batuk, dan mengi.