Waspadai Tanda-tanda Keguguran

Tingkat kematian janin akibat keguguran terbilang tinggi, berkisar 1-2 dari 10 ibu hamil. Perlu diketahui bagi tiap ibu hamil bahwa ada berbagai bentuk tanda-tanda keguguran, namun jangan disalahpahami, karena tidak semuanya mengarah kepada kematian janin di dalam kandungan.

Keguguran adalah kematian janin dalam kandungan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu. Keguguran dalam bahasa medis disebut juga abortus spontan. Perdarahan dari vagina dan nyeri perut adalah tanda-tanda utama dari keguguran. Namun, apabila hal tersebut terjadi, belum tentu menunjukkan kematian janin. Keadaan di mana janin dan kehamilan masih dapat dipertahankan walaupun sudah terjadi tanda-tanda keguguran, disebut dengan ‘ancaman keguguran’ atau abortus iminens (threatened abortion).

waspadai tanda-tanda keguguran - alodokter

 Seperti Apa Tanda Keguguran?

Beberapa tanda-tanda keguguran di bawah ini harus diketahui ibu hamil. Pengetahuan ini penting agar saat tanda-tanda keguguran muncul, sang ibu bisa langsung meminta pertolongan medis.

  • Perdarahan

Tanda-tanda keguguran yang pertama kali harus diketahui adalah perdarahan dari vagina. Perdarahan dianggap sebagai tanda utama keguguran karena dialami sekitar 3 dari 10 ibu hamil yang mengalami keguguran. Namun tidak semua perdarahan akan berakhir dengan keguguran. Jika ibu hamil yang mengalami perdarahan segera mendapat pertolongan medis, kemungkinan keguguran dapat dicegah.

  • Nyeri

Jika perdarahan disertai dengan nyeri, maka patut diwaspadai sebagai tanda-tanda keguguran. Bagian tubuh yang sakit biasanya adalah panggul, perut, dan punggung belakang. Rasa nyeri tersebut sulit dibedakan dengan kram saat awal-awal kehamilan akibat membesarnya rahim.

  • Menurunnya gerakan bayi

Aktivitas bayi di dalam perut menjadi tanda kesehatan dan perkembangannya secara umum. Konsultasikan dengan dokter bila ibu hamil merasa adanya penurunan gerakan bayi. Tanda ini umumnya dirasakan ketika usia kehamilan telah bertambah atau melewati trimester pertama.

  • Perubahan gejala kehamilan

Adanya perubahan gejala kehamilan, seperti tidak lagi mual atau muntah, bukanlah tanda-tanda keguguran yang umum. Namun jika perubahannya terjadi secara drastis, maka hal tersebut perlu diwaspadai. Pada trimester kedua kehamilan, perubahan ini mungkin terkait dengan masalah penurunan hormon kehamilan.

  • Keluar jaringan atau cairan dari vagina

Darah yang menggumpal dan janin yang masih berupa jaringan bisa saja keluar dari vagina. Jika ada jaringan yang keluar dari vagina, letakkan dalam wadah yang bersih lalu bawalah ke dokter untuk dianalisis agar diketahui kondisi yang sebenarnya.

Harap diingat, perdarahan pada trimester awal tidak selalu terkait dengan keguguran. Banyak ibu hamil yang mengalami hal tersebut namun tetap bisa melanjutkan kehamilan dan melahirkan buah hati mereka. Pada kondisi ‘ancaman keguguran’, ibu hamil sebaiknya melakukan tirah baring (bed rest) dan hindari berhubungan seks saat hamil.

Penyebab dan Faktor Risiko yang Perlu Diketahui

Sebagian besar keguguran terjadi tiga bulan pertama kehamilan atau trimester pertama. Penyebab paling umum adanya masalah pada fetus atau janin.

Gangguan genetik pada embrio sering dianggap sebagai faktor utama penyebab keguguran. Gangguan genetik membuat perkembangan bayi untuk tumbuh normal terhambat sehingga tidak mampu bertahan hidup. Masalah genetik ini sendiri umumnya murni terjadi pada embrio dan bukan berasal dari genetik sang ibu. Selain itu bisa juga karena terganggunya perkembangan plasenta yang menghubungkan ibu dengan anak

Sedangkan penyebab keguguran pada trimester kedua biasanya disebabkan oleh kondisi kesehatan sang ibu. Beberapa kondisi medis dapat mempertinggi risiko terjadinya keguguran, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, lupus, penyakit tiroid, rubella, malaria, atau penyakit menular seksual. Selain itu, keguguran di trimester ini juga bisa disebabkan oleh infeksi pada bayi, mengonsumsi obat tertentu, keracunan makanan, atau pembukaan rahim yang terlalu cepat.

Selain kondisi-kondisi di atas, beberapa hal yang dianggap mampu meningkatkan risiko terjadinya keguguran di antaranya:

  • Usia ibu saat mengandung sudah tergolong tua
  • Pernah mengalami keguguran sebelumnya
  • Ibu hamil mengonsumsi alkohol berlebihan
  • Merokok saat hamil
  • Terkena paparan radiasi
  • Adanya cedera pada rahim
  • Berat badan ibu terlalu kurus atau terlalu gemuk
  • Adanya kelainan anatomi pada rahim
  • Ibu hamil aktif menggunakan narkoba 

Mengetahui penyebab dan tanda-tanda keguguran diharapkan dapat menepis pandangan keliru mengenai penyebab keguguran. Stres, olahraga, bekerja, makanan pedas, bepergian dengan pesawat, atau berhubungan seks, tidak terkait dengan meningkatnya risiko keguguran.

Untuk menjaga kesehatan ibu dan janin selama hamil, jalani gaya hidup sehat dan rutin melakukan konsultasi kehamilan agar ibu dan bayi selalu sehat.

Ditinjau oleh : dr. Kevin Adrian

Referensi