Pusar bayi bernanah tidak boleh dianggap sepele ya, Bun. Soalnya, kondisi ini menunjukkan adanya infeksi pada tali pusar yang bisa menyebabkan rasa nyeri, kemerahan, dan keluarnya cairan berwarna kuning atau kehijauan. Jika dibiarkan, bakteri dapat menyebar dan menimbulkan komplikasi serius, seperti sepsis.

Pusar bayi bernanah biasanya terjadi karena infeksi bakteri pada tali pusat yang belum sembuh sempurna. Kondisi ini bisa disebabkan oleh beragam faktor, mulai dari perawatan pusar yang kurang bersih, penggunaan popok yang lembap, atau kontak dengan tangan dan benda yang terkontaminasi.

Pusar Bayi Bernanah, Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya - Alodokter

Infeksi ini umumnya muncul dalam beberapa hari hingga minggu pertama setelah tali pusat lepas. Selain nanah, kondisi ini biasanya ditandai oleh bau tidak sedap, kemerahan di sekitar pusar, rewel, dan nyeri saat disentuh. Meski terlihat sepele, pusar bayi bernanah tidak boleh diabaikan karena infeksi bisa menyebar ke bagian tubuh lain, seperti tulang, darah, atau organ dalam. 

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk segera mengenali penyebab dan tanda-tandanya agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Ini Penyebab Pusar Bayi Bernanah

Pusar bayi bernanah umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri yang menyerang area bekas tali pusat. Nah, kondisi ini bisa terjadi ketika proses penyembuhan pusar tidak berjalan optimal, sehingga bakteri mudah masuk dan berkembang biak. Berikut penjelasannya: 

1. Perawatan tali pusar yang kurang bersih

Jika perawatan tali pusar tidak dilakukan dengan benar dan higienis, bakteri akan mudah menempel dan berkembang biak di sekitar pusar bayi. Pusar bayi bernanah pun dapat terjadi karena kuman yang masuk melalui luka bekas tali pusat, terutama bila Anda jarang mencuci tangan sebelum membersihkan area tersebut.

2. Lingkungan lembap di area pusar

Pusar bayi yang sering dalam kondisi lembap, misalnya karena tertutup popok atau kain yang kurang menyerap keringat, membuat bakteri betah berkembang. Nah, kondisi ini dapat memperlambat proses pengeringan luka pusar, sehingga bakteri lebih mudah berkembang biak dan akhirnya meningkatkan risiko terjadinya pusar bayi bernanah.

3. Luka atau lecet pada area pusar

Luka atau lecet kecil di sekitar pusar bisa menjadi pintu masuk bakteri. Gesekan popok, pakaian yang terlalu ketat, atau cara membersihkan pusar yang terlalu keras dapat melukai kulit bayi. Jika luka ini terinfeksi, pusar bayi bernanah bisa muncul sebagai tanda adanya peradangan.

4. Kontak dengan tangan atau benda kotor

Menyentuh pusar bayi dengan tangan yang belum dicuci atau menggunakan kain dan alat yang tidak steril dapat memindahkan bakteri ke area pusar. Akibatnya, infeksi pun bisa terjadi dan pusar bayi bernanah menjadi salah satu tandanya.

5. Sisa tali pusat yang belum sembuh sempurna

Setelah tali pusat lepas, area pusar masih berupa luka terbuka kecil. Jika penyembuhannya belum sempurna dan tidak dirawat dengan baik, bakteri bisa masuk dan menyebabkan infeksi. Inilah sebabnya pusar bayi bernanah sering terjadi pada minggu-minggu awal setelah tali pusat copot.

6. Penggunaan bahan tradisional atau obat yang tidak dianjurkan

Sebagian orang tua terkadang masih mengoleskan obat, minyak, atau ramuan tradisional ke pusar bayi. Padahal, bahan-bahan ini dapat mengiritasi kulit dan menjadi tempat menempelnya bakteri. Alih-alih mempercepat penyembuhan, kebiasaan ini justru meningkatkan risiko pusar bayi bernanah lho. 

7. Daya tahan tubuh bayi yang masih lemah

Sistem kekebalan tubuh bayi, terutama bayi baru lahir, belum bekerja secara optimal. Akibatnya, tubuh bayi lebih sulit melawan infeksi. Nah, kondisi ini membuat bakteri yang masuk ke area pusar lebih mudah berkembang dan menyebabkan pusar bayi bernanah.

8. Omfalitis 

Omfalitis adalah infeksi serius pada tali pusat yang menjadi penyebab pusar bayi bernanah. Kondisi ini ditandai dengan nanah, kemerahan yang meluas, pembengkakan, hingga demam. Omfalitis perlu diwaspadai, karena infeksi ini bisa menyebar ke darah atau organ lain lho. Oleh karena itu, segera konsultasikan ke dokter jika Si Kecil mengalaminya ya.

Gejala Pusar Bayi Bernanah yang Perlu Diwaspadai

Tanda atau gejala pusar bayi bernanah bisa muncul pada minggu pertama hingga minggu kedua setelah bayi lahir, terutama setelah tali pusat lepas. Nah, kondisi ini umumnya ditandai dengan keluarnya nanah berwarna kuning atau kehijauan, bau tidak sedap, serta pusar yang tampak basah dan sulit mengering.

Selain itu, ada beberapa gejala lainnya yang perlu Bunda waspadai, di antaranya:

  • Nyeri
  • Kemerahan di sekitar pusar
  • Pusar terlihat bengkak
  • Rewel atau menangis
  • Terlihat lesu atau mengantuk 
  • Tidak ingin menyusu
  • Demam 
  • Kulit sekitar pusar menjadi keras atau berubah warna
  • Pusar terasa hangat 
  • Pusar berdarah

Nah, kalau Si Kecil mengalami gejala atau tanda-tanda ini, Bunda harus segera membawanya ke dokter ya. Soalnya, apabila tidak ditangani, pusar bayi bernanah bisa semakin parah dan menyebar ke bagian tubuh lain. 

Jika hal ini terjadi, Si Kecil bisa mengalami komplikasi yang berbahaya bagi kesehatannya, seperti sepsis. Makanya, penanganan yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk kondisi ini. 

Cara Menangani Pusar Bayi Bernanah

Menangani pusar bayi bernanah harus dilakukan dengan hati-hati agar infeksi tidak bertambah parah dan komplikasi bisa dicegah. Nah, cara terbaik untuk menangani nanah di pusar bayi adalah dengan selalu menjaga kebersihan tali pusar Si Kecil. 

Selain itu, Bunda juga bisa melakukan beberapa langkah agar bayi untuk mengatasi pusar bayi yang bernanah: 

  • Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan atau menyentuh area pusar bayi
  • Bersihkan pusar menggunakan kasa atau kapas steril yang dibasahi air matang atau cairan antiseptik sesuai anjuran dokter. Lakukan dengan lembut agar tidak melukai area sekitar pusar.
  • Setelah dibersihkan, keringkan pusar bayi dengan hati-hati.
  • Jangan menutup pusar dengan pembalut, kain tebal, atau plastik agar tidak lembap dan bakteri sulit berkembang.
  • Ganti popok bayi secara berkala untuk mencegah urine atau kotoran bayi mengenai tunggul pusar.
  • Pastikan popok tidak menyentuh atau menekan pusar ya, misalnya dengan melipat bagian atas popok ke bawah agar pusar tidak tertutup dan tidak bergesekan. Sirkulasi udara yang baik dapat membantu proses penyembuhan.
  • Jangan membersihkan pusar dengan alkohol, jamu, atau bahan herbal, karena dapat menyebabkan iritasi dan menghambat penyembuhan luka
  • Jangan memencet atau mengeluarkan nanah sendiri, karena dapat membuat infeksi semakin meluas dan menyebabkan luka baru di area pusar.
  • Pakaikan Si Kecil pakaian yang longgar dan menyerap keringat guna mengurangi gesekan di area pusar.

Namun, jika nanah tidak berkurang dalam 1–2 hari atau muncul anda infeksi berat seperti kemerahan meluas, pembengkakan, demam, atau bayi tampak sangat lemas, segera bawa ke dokter. Dokter mungkin akan memberikan antibiotik atau tindakan medis sesuai kebutuhan agar infeksi cepat teratasi.

Komplikasi Pusar Bayi Bernanah

Ingat ya, pusar bayi bernanah tidak boleh dianggap sepele. Soalnya, jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang berbahaya bagi kesehatan Si Kecil. Berikut adalah beberapa komplikasi yang perlu diwaspadai:

Perlu diketahui, komplikasi ini umumnya berkembang lebih cepat pada bayi prematur atau yang sistem imunnya belum kuat, sehingga deteksi dini sangat penting.

Merawat pusar bayi memang membutuhkan perhatian ekstra, terutama jika pusar bayi bernanah. Dengan memahami penyebab dan langkah penanganannya, Anda dapat membantu mencegah komplikasi serius yang bisa membahayakan kesehatan Si Kecil.

Jika Bunda menemukan tanda pusar bayi bernanah atau kondisinya tidak kunjung membaik, jangan ragu untuk segera mencari bantuan medis ya. Bunda bisa memanfaatkan layanan Chat atau Booking Dokter secara mudah melalui aplikasi ALODOKTER, untuk mendapatkan penanganan yang tepat, cepat, dan aman bagi Si Kecil.