Sterilisasi adalah metode kontrasepsi permanen yang bertujuan untuk mencegah seseorang memiliki anak. Prosedur ini bisa dilakukan pada pria maupun wanita. Pada pria, sterilisasi dilakukan dengan vasektomi. Sedangkan pada wanita, sterilisasi dilakukan dengan ligasi tuba.

Vasektomi dilakukan dengan cara memotong dan menutup saluran sperma. Tindakan ini membuat sperma tidak tercampur dengan air mani, sehingga air mani tidak dapat membuahi sel telur.

Sterilisasi, Ini yang Harus Anda Ketahui - Alodokter

Sementara dalam ligasi tuba, saluran tuba falopi, yaitu saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim, diikat atau ditutup. Hal ini akan mencegah sperma bertemu dengan sel telur dan membuahinya.

Tingkat keberhasilan sterilisasi dalam mencegah kehamilan nyaris mencapai 100 persen. Dalam suatu penelitian, hanya 2 sampai 30 wanita dari setiap 1.000 wanita yang diketahui masih bisa hamil setelah menjalani sterilisasi.

Sterilisasi tidak memengaruhi kadar hormon, gairah seks, dan kemampuan seseorang dalam berhubungan seks. Sebelum masuk ke pembahasan lebih lanjut, perlu diketahui bahwa artikel ini hanya akan membahas sterilisasi pada wanita atau ligasi tuba.

Indikasi Sterilisasi

Sterilisasi dilakukan pada wanita yang memutuskan tidak ingin memiliki keturunan atau ingin berhenti memiliki anak. Sebelum memutuskan untuk menjalani sterilisasi, penting untuk berkonsultasi dulu dengan dokter, mengingat efek sterilisasi bersifat permanen.

Umumnya, dokter menjalankan sterilisasi pada wanita usia 30 tahun ke atas dan sudah memiliki anak. Pada pasien di luar kedua kondisi tersebut, dokter akan menyarankan jenis kontrasepsi lain. Hal ini dilakukan agar pasien tidak menyesal di kemudian hari.

Peringatan Sebelum Menjalani Sterilisasi

Ada beberapa hal yang harus diketahui pasien yang ingin menjalani sterilisasi, yaitu:

  • Sterilisasi tidak dapat mencegah infeksi menular seksual. Oleh sebab itu, tetap lakukan hubungan seksual dengan cara yang aman.
  • Meskipun dianggap permanen, pengembalian ligasi tuba atau membuka kembali jalan saluran indung telur agar bisa hamil lagi masih dapat dilakukan. Hanya saja, tingkat keberhasilannya sangat kecil.
  • Risiko terjadinya komplikasi akibat sterilisasi akan lebih besar pada pasien yang menderita diabetes, berat badan berlebih (obesitas), dan pasien dengan riwayat operasi perut atau panggul.

Sebelum Prosedur Sterilisasi

Bagi pasien yang ingin menjalani prosedur sterilisasi, diskusikan terlebih dulu dengan pasangan karena ada banyak pilihan kontrasepsi lain. Setelah itu, konsultasikan juga dengan dokter apakah sterilisasi merupakan pilihan yang tepat, mengingat efeknya bersifat permanen.

Pada sesi konsultasi, dokter akan menanyakan alasan pasien melakukan sterilisasi untuk memastikan agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Dokter juga akan menjelaskan manfaat dan risiko sterilisasi, tahapan prosedur sterilisasi, kemungkinan kegagalan, serta waktu yang tepat untuk menjalani operasi.

Sterilisasi bisa dilakukan sesaat setelah melahirkan atau bersamaan dengan operasi caesar. Pada pasien yang hendak menjalani sterilisasi di luar dua kondisi tersebut, dokter biasanya akan menganjurkan penggunaan kontrasepsi 1 bulan sebelum sterilisasi sampai prosedur selesai dilakukan.

Sebelum menjalani sterilisasi, pasien akan diberitahu untuk melakukan sejumlah hal berikut:

  • Hentikan makan, minum, dan merokok pada malam sebelum operasi.
  • Jika menggunakan pewarna kuku, hapuslah sebelum menjalani operasi.
  • Jangan lupa untuk membawa pembalut. Perdarahan dari vagina mungkin terjadi setelah operasi.
  • Jangan mengenakan sepatu hak tinggi di hari operasi akan dilakukan. Efek obat bius bisa menyebabkan pusing saat berjalan.
  • Lepas semua perhiasan yang dikenakan sebelum menjalani sterilisasi.
  • Kenakan pakaian yang longgar untuk menghindari ketidaknyamanan setelah operasi.

Prosedur Sterilisasi

Sterilisasi pada wanita bertujuan untuk menghalangi sperma membuahi sel telur. Berikut ini adalah tahapan prosedur sterilisasi atau ligasi tuba pada wanita:

  • Pasien akan dibius terlebih dulu dengan bius total agar tertidur, sehingga pasien tidak merasakan apa pun selama operasi.
  • Dokter kandungan akan membuat sayatan kecil di sekitar pusar, kemudian perut pasien akan diisi dengan gas karbon dioksida agar menggembung. Jika ligasi tuba dilakukan setelah operasi caesar, dokter akan memanfaatkan sayatan yang telah dibuat untuk menjalankan tahapan selanjutnya.
  • Setelah perut pasien menggembung, dokter akan memasukkan laparoskop, yaitu alat kecil yang dilengkapi kamera dan lampu, untuk menjangkau organ reproduksi pasien.
  • Dokter kemudian akan menutup tuba falopi dengan memotong, melipat, atau menjepitnya menggunakan ring atau penjepit khusus.
  • Dokter biasanya akan membuat sayatan lain untuk memasukkan alat khusus seperti penjepit yang digunakan untuk menutup tuba falopi.

Setelah Prosedur Sterilisasi

Setelah sterilisasi selesai dilakukan, dokter akan memantau kondisi pasien setiap 15 menit sampai 1 jam. Jika tidak terjadi komplikasi, pasien bisa pulang beberapa jam kemudian.

Proses pemulihan sterilisasi umumnya berlangsung 2–5 hari. Dokter akan meminta pasien untuk kontrol seminggu setelah operasi. Penting untuk diingat, kontrasepsi harus digunakan hingga siklus menstruasi berikutnya atau sampai 3 bulan setelah operasi.

Untuk membantu proses pemulihan, dokter akan memberikan sejumlah saran yang harus dilakukan oleh pasien, yaitu:

  • Jangan mengonsumsi alkohol dan mengemudikan kendaraan dalam 24 jam setelah operasi.
  • Perban dapat dilepas keesokan hari setelah operasi, sedangkan mandi baru dibolehkan 2 hari setelah operasi. Jangan menggaruk area bekas sayatan, dan selalu keringkan area tersebut dengan hati-hati setiap selesai mandi.
  • Jangan melakukan hubungan seks dan mengangkat benda berat sebelum dokter mengizinkan.
  • Lakukan aktivitas normal secara bertahap jika kondisi Anda dirasa sudah membaik.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda tidak juga pulih sepenuhnya atau muncul gejala, seperti:

  • Demam sampai 38 derajat Celcius atau lebih
  • Sakit perut yang terus memburuk sampai 12 jam setelah operasi
  • Luka bekas sayatan berbau tidak sedap
  • Perdarahan pada luka bekas sayatan

Komplikasi Sterilisasi

Prosedur sterilisasi yang dilakukan dengan tidak sempurna berisiko menyebabkan kehamilan di luar rahim atau kehamilan ektopik. Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian, baik pada ibu maupun janinnya.

Sterilisasi juga bisa menimbulkan beberapa komplikasi, seperti:

  • Reaksi alergi akibat obat bius
  • Sakit di perut dan panggul yang berlangsung terus-menerus
  • Kerusakan pada usus, kandung kemih, dan pembuluh darah
  • Luka akibat bekas sayatan sulit sembuh atau terinfeksi