Sterilisasi, Ini yang Harus Anda Ketahui

Sterilisasi adalah metode kontrasepsi permanen, yang bertujuan untuk mencegah seseorang memiliki anak. Prosedur ini bisa dilakukan pada pria atau wanita. Pada pria, sterilisasi dilakukan dengan vasektomi. Sedangkan pada wanita, sterilisasi dapat dilakukan dengan ligasi tuba atau oklusi tuba.

Sterilisasi - alodokter

Vasektomi adalah prosedur sterilisasi dengan memotong saluran yang membawa sperma ke penis. Tindakan ini membuat sperma tidak tercampur dengan air mani, sehingga air mani tidak bisa membuahi sel telur.

Sedangkan pada wanita, sterilisasi dilakukan dengan mencegah sperma bertemu dan membuahi sel telur. Proses tersebut bisa dilakukan dengan ligasi tuba (mengikat atau menutup jalan saluran indung telur) atau dengan oklusi tuba (memasang implan pada saluran indung telur).

Sterilisasi tidak memengaruhi kadar hormon, gairah seks, dan kemampuan seseorang dalam berhubungan seks. Sebelum membahas lebih lanjut, perlu diketahui, artikel ini hanya akan membahas jenis sterilisasi pada wanita, yaitu ligasi tuba dan oklusi tuba.

Indikasi Sterilisasi

Sterilisasi dilakukan pada wanita yang memutuskan tidak ingin atau berhenti memiliki anak. Sebelum memutuskan untuk menjalankan sterilisasi, konsultasi dengan dokter sangat penting untuk dilakukan, mengingat efek sterilisasi bersifat permanen.

Umumnya, dokter hanya menjalankan sterilisasi bila wanita sudah berusia 30 tahun dan sudah memiliki anak. Pada pasien di luar dua kondisi tersebut, dokter akan menyarankan jenis kontrasepsi lain. Hal ini dilakukan agar pasien tidak menyesal di kemudian hari.

Peringatan Sterilisasi

Sterilisasi, baik dengan ligasi tuba atau oklusi tuba, tidak bisa mencegah penyakit menular seksual, seperti chlamydia atau HIV/AIDS.

Meskipun dianggap permanen, pengembalian dari ligasi tuba masih dapat dilakukan. Namun demikian, tingkat keberhasilannya sangat kecil.

Wanita yang memiliki reaksi alergi terhadap obat bius, tidak disarankan menjalani ligasi tuba.

Khusus untuk oklusi tuba, disarankan untuk tidak dilakukan pada wanita dengan beberapa kondisi berikut:

  • Ragu apakah ingin hamil atau tidak di kemudian hari.
  • Alergi pada logam dan cairan kontras.
  • Menderita penyakit autoimun. Kondisi ini bisa memicu radang di area sekitar implan.
  • Melahirkan atau mengalami keguguran dalam 6 minggu terakhir.
  • Menderita radang panggul.
  • Pasien sudah menjalani prosedur ligasi tuba.
  • Hanya memiliki satu tuba falopi.
  • Tuba falopi terhalang atau tertutup, baik satu maupun keduanya.
  • Operasi pengembalian tidak bisa dilakukan pada pasien yang menjalani oklusi tuba.
  • Pasien yang sudah menjalani oklusi tuba tidak bisa menjalani operasi pada panggul, seperti electrosurgery, dan ablasi endometrium.
  • Adanya kelainan pada tuba falopi.

Persiapan Prosedur Sterilisasi

Bagi pasien yang ingin menjalani prosedur sterilisasi, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter apakah sterilisasi merupakan pilihan tepat untuk dijalani, mengingat efeknya bisa berlangsung permanen.

Pada sesi konsultasi, dokter akan menanyakan alasan pasien, untuk memastikan agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Dokter juga akan menjelaskan sejumlah hal, antara lain manfaat dan risiko sterilisasi, tahapan prosedur sterilisasi, kemungkinan kegagalan, cara mencegah infeksi menular seksual, serta waktu yang tepat untuk menjalani operasi.

Bicarakan dengan pasangan mengenai rencana untuk menjalani sterilisasi, karena banyak pilihan kontrasepsi lain yang tersedia. Pertimbangkan pula komplikasi yang mungkin muncul setelah sterilisasi.

Tes kehamilan akan dilakukan sebelum menjalani sterilisasi, untuk memastikan pasien tidak sedang hamil. Hal ini penting untuk dilakukan, karena terhalangnya tuba falopi berisiko tinggi menyebabkan kehamilan ektopik, dan bisa menyebabkan kematian jika terjadi perdarahan.

Pasien akan diminta menggunakan kontrasepsi, hingga hari saat sterilisasi dilakukan.

Khusus untuk ligasi tuba, pasien akan diberitahu untuk melakukan sejumlah hal berikut sebagai persiapan:

  • Hentikan makan, minum, dan merokok pada malam sebelum operasi.
  • Jangan mengenakan sepatu hak tinggi di hari saat menjalani operasi. Efek obat bius bisa menyebabkan pusing saat berjalan.
  • Lepas perhiasan yang dikenakan sebelum operasi.
  • Kenakan pakaian yang longgar untuk menghindari ketidaknyamanan pasca operasi.
  • Jangan lupa untuk membawa pembalut. Perdarahan vagina mungkin terjadi pasca operasi.
  • Hapus pewarna kuku sebelum operasi.

Perlu diketahui, ligasi tuba bisa dilakukan sesaat setelah melahirkan, atau bersamaan dengan operasi caesar. Pada pasien yang tidak menjalani ligasi tuba dalam dua kondisi tersebut, penggunaan kontrasepsi harus dilakukan sebulan sebelum menjalani ligasi tuba, dan terus dilanjutkan hingga prosedur ligasi tuba selesai dilakukan.

Prosedur Sterilisasi

Sterilisasi pada wanita, baik ligasi tuba maupun oklusi tuba, bertujuan menghalangi sperma untuk membuahi sel telur. Berikut akan dijabarkan tahapan masing-masing prosedur sterilisasi.

  • Prosedur ligasi tuba
    • Pasien akan dibius terlebih dahulu dengan bius total agar tertidur, sehingga pasien tidak merasakan apapun selama operasi dilakukan.
    • Dokter kandungan akan membuat sayatan kecil di sekitar pusar, lalu perut pasien akan diisi dengan gas karbondioksida agar menggelembung.
    • Setelah perut pasien menggembung, dokter akan memasukkan alat kecil yang dilengkapi kamera dan lampu (laparoskop) untuk menjangkau organ reproduksi pasien.
    • Dokter akan membuat sayatan lain, untuk memasukkan alat khusus seperti klip, yang digunakan untuk menutup tuba falopi.
    • Penutupan tuba falopi bisa dilakukan dengan membuang bagian tuba falopi, memotong, melipat, atau menjepit saluran tuba menggunakan ring atau penjepit khusus.
    • Ligasi tuba juga dapat dilakukan sesaat setelah operasi caesar. Pada keadaan ini sayatan akan sesuai dengan operasi caesar.
  • Prosedur oklusi tuba
    • Pasien akan dibius terlebih dahulu sebelum oklusi tuba dilakukan. Bius yang diberikan bisa bius lokal atau total.
    • Dokter akan memasukkan alat khusus yang dilengkapi kamera kecil (histeroskop) melalui vagina hingga ke leher rahim.
    • Setelah histeroskop mencapai leher rahim, logam kecil berbahan titanium (microinsert) akan dimasukkan ke tuba falopi. Microinsert akan menimbulkan jaringan parut dan menutup saluran tuba falopi, sehingga menghalangi masuknya sperma.
    • Keseluruhan prosedur ini memerlukan waktu kurang dari 30 menit.

Setelah Operasi Sterilisasi

Setelah sterilisasi selesai dilakukan, dokter akan memantau kondisi pasien setiap 15 menit atau satu jam. Jika tidak terjadi komplikasi, pasien bisa pulang beberapa jam kemudian. Proses pemulihan umumnya berlangsung antara 2 hingga 5 hari. Dokter akan meminta pasien untuk kontrol, seminggu pasca operasi.

Pada pasien yang menjalani ligasi tuba, penggunaan kontrasepsi dilanjutkan hingga siklus menstruasi berikutnya, sedangkan untuk pasien yang menjalani oklusi tuba, pemakaian kontrasepsi dilanjutkan hingga 3 bulan setelah operasi.

Dokter akan memberikan beberapa saran pada pasien yang sudah menjalani sterilisasi, yang akan membantu proses pemulihan, di antaranya:

  • Setelah ligasi tuba
    • Jangan mengonsumsi alkohol dan mengemudikan kendaraan hingga 24 jam pasca operasi.
    • Perban boleh dilepas keesokan hari setelah operasi.
    • Mandi dibolehkan 2 hari setelah operasi, namun hindari menggaruk area sayatan. Keringkan area sayatan dengan hati-hati setelah mandi.
    • Hindari mengangkat benda berat dan jangan melakukan hubungan seks hingga dokter memberitahu kapan waktu yang tepat untuk melakukannya.
    • Lanjutkan aktivitas normal secara bertahap jika kondisi makin membaik.
    • Hubungi dokter jika Anda merasa tidak pulih sepenuhnya, atau muncul gejala seperti suhu badan naik hingga 38 derajat Celcius atau lebih, sakit perut yang terus memburuk setelah 12 jam, perdarahan dari luka bekas sayatan, atau muncul bau tidak sedap dari luka bekas sayatan.
  • Setelah oklusi tuba
    • Hubungi dokter jika muncul nyeri panggul yang berkepanjangan.
    • Gunakan kontrasepsi dalam bentuk yang disarankan dokter, hingga 3-6 bulan setelah operasi, atau setelah dokter memastikan tuba sudah tertutup.
    • Menjalani foto Rontgen, untuk memastikan implan tetap berada di tempat yang tepat, dan tuba falopi tertutup dengan sempurna.
    • Oklusi tuba tidak mempengaruhi siklus menstruasi. Segera datangi dokter jika tidak mengalami menstruasi atau ada tanda-tanda kehamilan.

Efek Samping Sterilisasi

Prosedur sterilisasi yang dilakukan dengan tidak sempurna, bisa berisiko menyebabkan kehamilan ektopik, yaitu kehamilan di luar rahim, yang bisa menyebabkan kematian.

Sterilisasi juga bisa menimbulkan beberapa efek samping, antara lain reaksi alergi akibat obat bius, serta infeksi.

Efek samping lain yang mungkin muncul pada masing-masing prosedur sterilisasi adalah:

  • Efek samping ligasi tuba
    • Kerusakan pada organ dekat tuba falopi, seperti usus atau uretra.
    • Radang panggul. Komplikasi ini sangat jarang terjadi, dan bisa disebabkan oleh klip yang digunakan dalam operasi.
    • Perdarahan hebat.
  • Efek samping oklusi tuba
    • Terbentuknya lubang pada rahim dan tuba falopi.
    • Nyeri dan kram perut.
    • Mual dan muntah.
    • Implan pindah ke area lain di dalam perut.

Keberhasilan Sterilisasi

Tingkat keberhasilan sterilisasi nyaris mencapai 100 persen. Dalam suatu penelitian, 2 hingga 10 wanita dari setiap 1000 wanita, diketahui hamil pasca menjalani ligasi tuba. Sedangkan untuk oklusi tuba, efektifitasnya tidak sebesar ligasi tuba. Diketahui, 96 wanita dari setiap 1000 wanita, hamil setelah menjalani prosedur ini.

Kasus kehamilan pasca oklusi tuba, biasanya terjadi karena beberapa hal berikut:

  • Implan tidak dipasang dengan sempurna.
  • Hanya satu tuba falopi yang ditutup.
  • Kehamilan terjadi sebelum oklusi tuba dilakukan.
  • Kontrasepsi pendukung tidak digunakan hingga 3-6 minggu setelah operasi, atau sampai dokter memastikan saluran tuba tertutup.
Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi