Ureum rendah dalam darah bisa menjadi petunjuk adanya gangguan di tubuh yang sebaiknya tidak diabaikan. Meskipun kerap kali tanpa gejala, kondisi ini tetap penting untuk dipahami agar Anda bisa mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kebutuhan.

Ureum adalah zat sisa hasil pemecahan protein yang dibuang tubuh melalui urine. Pemeriksaan kadar ureum (blood urea nitrogen) sering dimanfaatkan dokter untuk menilai fungsi ginjal. Saat hasil cek laboratorium menunjukkan ureum rendah, ini dapat menjadi sinyal adanya gangguan medis tertentu yang perlu mendapatkan perhatian khusus.

Ureum Rendah, Berikut Penyebab dan Penanganannya - Alodokter

Sebagian besar kasus ureum rendah ditemukan secara tidak sengaja ketika seseorang menjalani pemeriksaan darah rutin atau sedang dirawat di rumah sakit. Ureum memang lebih dikenal sebagai indikator gangguan ginjal saat kadarnya tinggi. Namun, ureum rendah pun memberikan informasi penting terkait status gizi, fungsi hati, dan pola hidup seseorang.

Penyebab Ureum Rendah

Ada berbagai faktor dan kondisi medis yang bisa menyebabkan kadar ureum rendah dalam tubuh. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diwaspadai:

1. Pola makan rendah protein

Asupan protein yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh merupakan salah satu penyebab utama ureum rendah. Protein dari makanan akan dipecah menjadi asam amino dan dimetabolisme di hati, lalu sisa hasilnya dibuang sebagai ureum melalui ginjal. 

Jika konsumsi protein harian terlalu sedikit, misalnya karena diet ketat, vegetarian tanpa perencanaan matang, atau pada lansia yang mengalami penurunan nafsu makan, produksi ureum tubuh pun menurun. Dalam jangka panjang, defisit protein bisa berdampak buruk pada kesehatan otot, kulit, dan daya tahan tubuh.

2. Gangguan hati

Hati berperan penting dalam proses pembentukan ureum dari sisa metabolisme protein. Gangguan pada hati, seperti hepatitis, sirosis, atau gagal hati dapat menurunkan kemampuan hati untuk menghasilkan ureum. Akibatnya, kadar ureum di darah menjadi rendah. 

Gangguan hati tidak hanya menyebabkan ureum rendah, tapi juga bisa menimbulkan gejala lain, seperti kulit dan mata kuning, perut membesar, atau mudah lelah. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan fungsi hati tetap optimal.

3. Malnutrisi

Malnutrisi adalah kondisi kekurangan asupan gizi secara umum, baik protein, kalori, maupun vitamin dan mineral. Tubuh yang kekurangan bahan bakar untuk metabolisme, termasuk pemecahan protein, cenderung menghasilkan ureum rendah. 

Malnutrisi sering terjadi pada anak-anak dengan pertumbuhan terhambat, lansia, atau pasien penyakit kronis yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Selain ureum rendah, malnutrisi juga bisa menyebabkan berat badan turun drastis, penurunan imunitas, dan gangguan penyembuhan luka.

4. Kehamilan

Saat hamil, terjadi perubahan metabolisme tubuh yang cukup kompleks. Salah satu dampaknya adalah perubahan volume darah dan efisiensi kerja ginjal serta hati. Kondisi ini dapat menyebabkan kadar ureum rendah pada sebagian ibu hamil, terutama di trimester kedua dan ketiga. 

Biasanya, penurunan ureum saat hamil tidak menandakan masalah serius jika tidak disertai gejala lain, dan akan kembali normal setelah melahirkan. Namun, penting untuk tetap memantau kesehatan secara keseluruhan selama kehamilan.

5. Overhidrasi

Overhidrasi adalah kondisi ketika tubuh kelebihan cairan. Ini bisa terjadi akibat minum air putih berlebihan dalam waktu singkat, atau karena pemberian cairan infus terlalu banyak di rumah sakit. Cairan yang berlebih akan mengencerkan darah sehingga kadar ureum, natrium, dan beberapa zat lain bisa tampak turun. 

Overhidrasi juga bisa menjadi masalah serius, terutama bila terjadi pada pasien dengan gangguan ginjal atau jantung, karena dapat menyebabkan pembengkakan dan gangguan keseimbangan elektrolit.

6. Efek samping obat-obatan

Beberapa obat dapat menurunkan kadar ureum di darah. Salah satunya adalah penggunaan steroid anabolik, yang kadang disalahgunakan untuk meningkatkan massa otot. Selain itu, obat-obatan tertentu, seperti steroid lain atau beberapa jenis antibiotik, juga bisa memengaruhi hasil pemeriksaan ureum.

7. Gangguan metabolik atau genetik

Meskipun jarang, beberapa kelainan metabolik atau gangguan genetik dapat menyebabkan tubuh tidak mampu menghasilkan ureum dengan baik. Contohnya adalah defisiensi enzim pada siklus urea, yang mengakibatkan terganggunya pemrosesan limbah protein dan menurunkan kadar ureum dalam darah.

8. Gangguan saluran cerna

Masalah pada saluran cerna, terutama yang menyebabkan malabsorpsi nutrisi, dapat membuat tubuh kekurangan protein dan zat gizi lain yang diperlukan untuk membentuk ureum. Gangguan ini bisa ditemukan pada kondisi, seperti penyakit celiac, penyakit Crohn, atau sindrom malabsorpsi lain.

Gejala Ureum Rendah

Pada banyak kasus, ureum rendah tidak menimbulkan keluhan yang khas. Namun, jika kondisi ini disebabkan oleh gangguan medis tertentu, beberapa gejala berikut ini bisa muncul:

  • Mudah merasa lelah
  • Lemah otot
  • Nafsu makan menurun
  • Bengkak pada tubuh
  • Gangguan konsentrasi

Jika ureum rendah berkaitan dengan gangguan hati atau malnutrisi berat, Anda juga bisa mengalami gejala tambahan, seperti kulit dan mata menguning, mudah memar, atau penurunan berat badan secara drastis.

Penanganan Ureum Rendah

Penanganan ureum rendah sebaiknya disesuaikan dengan penyebab utamanya. Berikut beberapa langkah yang dianjurkan untuk mengatasi ureum rendah:

1. Meningkatkan asupan protein

Perbaiki pola makan dengan menambah porsi makanan yang mengandung protein hewani dan nabati, agar kebutuhan protein harian dapat tercukupi dan produksi ureum kembali normal. Konsultasikan kepada dokter atau ahli gizi sebelum mengubah pola makan, terutama jika Anda memiliki kondisi medis tertentu.

2. Menangani kondisi medis penyerta

Jika ureum rendah disebabkan oleh gangguan hati, malnutrisi, atau penyakit lain, pengobatan dan tata laksana sesuai diagnosis medis sangat penting untuk mengatasi akar permasalahan. Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan lanjutan dan menyesuaikan obat atau terapi yang sedang dijalani.

3. Mengatur asupan cairan

Batasi konsumsi cairan berlebih dan perhatikan takaran minum air, terutama jika Anda punya riwayat gangguan ginjal atau sedang mendapat terapi infus. Penyesuaian asupan cairan sebaiknya mengikuti petunjuk dokter agar keseimbangan cairan tubuh tetap terjaga dan ureum rendah tidak semakin memburuk.

Perlu diingat, bila hasil laboratorium Anda menunjukkan ureum rendah, konsultasikan ke dokter untuk menjalani evaluasi lebih lanjut. Dokter mungkin akan menganjurkan pemeriksaan tambahan, seperti tes fungsi hati, kadar albumin, hingga penilaian status nutrisi, untuk memastikan penyebab ureum rendah yang dialami.

Ureum rendah dapat menjadi tanda adanya masalah pada pola makan, fungsi hati, maupun kondisi medis lainnya. Nah, apabila Anda mendapatkan hasil ureum rendah dan bingung menentukan langkah selanjutnya, segera Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER agar mendapatkan penjelasan serta rekomendasi penanganan yang tepat.