Vagina berdarah adalah keluarnya darah dari vagina di luar kondisi haid yang normal atau dengan pola yang tidak seperti biasanya. Kondisi ini bisa terjadi pada wanita usia subur, remaja, hingga wanita yang sudah menopause, dengan penyebab yang beragam, mulai dari perubahan hormon hingga penyakit tertentu.
Vagina berdarah dapat muncul dalam bentuk flek ringan di antara siklus menstruasi, perdarahan setelah berhubungan intim, atau perdarahan yang terjadi setelah menopause. Meski tidak selalu berbahaya, keluhan ini tetap perlu diperhatikan karena bisa menjadi tanda adanya gangguan pada organ reproduksi.

Penyebab Vagina Berdarah
Vagina berdarah dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, di antaranya:
- Ketidakseimbangan hormon, misalnya pada masa pubertas atau perimenopause
- Gangguan ovulasi
- Penggunaan alat kontrasepsi hormonal, seperti pil KB, suntik KB, atau implan
- Efek samping penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)
- Infeksi pada vagina atau leher rahim (servisitis)
- Polip serviks atau polip rahim
- Miom (fibroid) rahim
- Endometriosis
- Keguguran atau kehamilan ektopik
- Gangguan pembekuan darah
- Kanker serviks atau kanker rahim, terutama pada wanita usia di atas 40 tahun atau yang sudah menopause
Pada wanita yang sudah menopause, vagina berdarah tidak boleh dianggap normal dan perlu segera dievaluasi karena dapat berkaitan dengan kondisi serius, seperti kanker rahim.
Gejala Vagina Berdarah
Gejala yang menyertai vagina berdarah dapat berbeda-beda, tergantung pada penyebabnya. Beberapa keluhan yang mungkin muncul, antara lain:
- Flek atau perdarahan di luar jadwal haid
- Perdarahan setelah berhubungan intim
- Perdarahan yang lebih banyak atau lebih lama dari biasanya
- Nyeri perut bagian bawah atau kram
- Keputihan yang berbau atau berubah warna
- Pusing, lemas, atau tanda anemia bila perdarahan cukup banyak
Jika perdarahan terjadi saat hamil, terutama disertai nyeri perut hebat atau pusing berat, kondisi ini dapat mengarah pada keguguran atau kehamilan ektopik dan memerlukan penanganan segera.
Untuk memastikan keluhan yang Anda alami, jangan tunda untuk berkonsultasi ke dokter. Konsultasi dapat dilakukan secara cepat dan praktis melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Dengan deteksi gejala sejak dini, penanganan yang tepat dapat segera diberikan guna mencegah terjadinya komplikasi.
Kapan Harus ke Dokter
Anda perlu waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter bila mengalami:
- Vagina berdarah setelah menopause
- Perdarahan sangat banyak hingga perlu mengganti pembalut setiap 1–2 jam
- Perdarahan berlangsung lebih dari 7 hari
- Nyeri perut hebat
- Demam atau keputihan berbau menyengat
- Tanda anemia, seperti lemas berat atau sesak napas
Jika Anda mengalami satu atau lebih gejala di atas, segera berkonsultasi ke dokter untuk memastikan penyebabnya dan mendapatkan penanganan segera. Anda dapat memanfaatkan fitur booking di aplikasi ALODOKTER.
Namun, jika perdarahan disertai pingsan, nyeri perut hebat secara tiba-tiba, atau perdarahan sangat banyak, segera pergi ke IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan darurat.
Diagnosis Vagina Berdarah
Untuk menentukan penyebab vagina berdarah, dokter akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan panggul. Dokter juga dapat menanyakan pola haid, riwayat kehamilan, penggunaan kontrasepsi, serta riwayat penyakit tertentu.
Pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan, meliputi:
- Tes kehamilan
- Tes darah untuk menilai kadar hemoglobin dan hormon
- Pap smear untuk mendeteksi kelainan pada leher rahim
- USG panggul atau USG transvaginal untuk melihat kondisi rahim dan ovarium
- Biopsi jaringan rahim bila dicurigai adanya kelainan sel
Jenis pemeriksaan akan disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, serta gejala yang dialami pasien.
Pengobatan Vagina Berdarah
Pengobatan vagina berdarah dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya, usia pasien, serta jumlah dan lamanya perdarahan. Dokter juga akan mempertimbangkan apakah pasien sedang hamil, memiliki penyakit tertentu, atau sudah memasuki masa menopause.
Berikut ini beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan:
1. Terapi hormon
Terapi hormon diberikan untuk mengatasi ketidakseimbangan hormon yang sering menjadi penyebab vagina berdarah, terutama pada remaja, wanita usia subur, atau masa perimenopause. Dokter dapat meresepkan pil kontrasepsi kombinasi, progesteron, atau terapi hormon lain sesuai kondisi pasien.
Terapi ini bertujuan menstabilkan lapisan dinding rahim sehingga perdarahan lebih terkontrol. Penggunaan obat harus sesuai anjuran dokter untuk mencegah efek samping dan memastikan hasil yang optimal.
2. Obat-obatan
Pemberian obat disesuaikan dengan penyebab perdarahan. Pada kasus infeksi, dokter akan meresepkan antibiotik atau antijamur. Jika perdarahan cukup banyak, dapat diberikan obat untuk membantu mengurangi jumlah darah yang keluar, seperti asam traneksamat atau obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), untuk meredakan nyeri sekaligus mengurangi perdarahan.
Pada kondisi gangguan pembekuan darah, terapi khusus juga dapat diberikan sesuai penyebabnya.
3. Tindakan medis
Tindakan medis diperlukan bila vagina berdarah disebabkan oleh kelainan struktural, seperti polip, miom, atau penebalan dinding rahim. Prosedur yang dapat dilakukan, meliputi histeroskopi untuk melihat dan mengangkat jaringan abnormal, kuretase untuk membersihkan lapisan rahim, atau operasi untuk mengangkat miom.
Pada kasus kanker, penanganan dapat berupa operasi, kemoterapi, atau radioterapi sesuai stadium penyakit. Pemilihan prosedur akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
5. Penanganan kehamilan bermasalah
Jika vagina berdarah terjadi saat kehamilan, penanganan akan disesuaikan dengan penyebabnya, seperti keguguran atau kehamilan ektopik. Pada beberapa kasus keguguran, dokter mungkin akan menyarankan observasi atau tindakan medis untuk mengeluarkan sisa jaringan kehamilan dari rahim.
Kehamilan ektopik memerlukan penanganan segera, baik dengan obat maupun operasi, karena berisiko menyebabkan perdarahan berat. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi yang membahayakan nyawa.
Komplikasi Vagina Berdarah
Jika tidak ditangani dengan tepat, vagina berdarah dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti:
- Anemia akibat kehilangan darah berlebihan
- Syok hipovolemik pada perdarahan berat
- Gangguan kesuburan bila terkait kelainan rahim atau endometriosis
- Penyebaran kanker pada kasus keganasan
Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala sejak dini dan mencari pertolongan medis bila keluhan berlanjut.
Pencegahan Vagina Berdarah
Tidak semua penyebab vagina berdarah dapat dicegah. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu menurunkan risikonya:
- Menjaga kebersihan organ intim
- Menggunakan kontrasepsi sesuai anjuran dokter
- Menjalani pemeriksaan Pap smear secara rutin sesuai rekomendasi usia
- Mengelola stres dan menjaga berat badan ideal untuk membantu menjaga keseimbangan hormon
- Segera memeriksakan diri bila mengalami perubahan pola haid yang tidak biasa