Ayo, Antisipasi Watak Pelaku Kekerasan Seksual dari Sekarang

Menjadi teman dekat dari pelaku kekerasan seksual dapat mendatangkan bahaya atau bahkan maut bagi diri sendiri. Mengenali faktor-faktor yang menentukan apakah seseorang berisiko melakukan kekerasan semacam ini dapat membantu melindungi diri lebih awal.

Kekerasan seksual adalah aktivitas seksual yang dilakukan pelaku tanpa persetujuan atau kerelaan dari orang lain yang dikenai tindakan. Tindakan-tindakan sejenis ini termasuk komentar seksual yang diarahkan terhadap seksualitas seseorang. Pada sebagian besar kasus yang terjadi, pelaku kekerasan adalah kerabat dekat korban dan sebagian besar pelakunya adalah pria.

kekerasan seksual-alodokter

Tindak kekerasan ini dapat meliputi  pemerkosaan oleh orang asing, pemerkosaan di dalam pernikahan atau pacaran, pelecehan seksual secara mental maupun fisik, aborsi yang dipaksakan, serta pelecehan seksual terhadap anak. Tindakan ini dapat dianggap sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang dapat menimbulkan trauma.

Kekerasan seksual terjadi di berbagai negara dengan karakter masyarakat yang berbeda-beda dan dari berbagai kelas sosial. Namun penelitian menemukan bahwa ada faktor-faktor tertentu yang membuat seorang pria lebih memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan seksual dibandingkan pria pada umumnya. Terdapat tiga faktor yang dapat menimbulkan kecenderungan tersebut.

Faktor individu dan psikologis, merupakan penyebab dasar yang menjadi awal dari kecenderungan ini, antara lain:

  • Konsumsi minuman keras dan obat-obatan. Alkohol memiliki efek psikofarmakologikal yang membuat orang tidak dapat berpikir dan menilai hal dengan jernih. Sehingga penelitian menemukan bahwa saat mabuk pria lebih mungkin untuk melakukan kekerasan karena tidak merasa bahwa mereka akan bertanggung jawab atas tindakan mereka.
  • Fantasi seksual yang mendukung kekerasan.
  • Punya riwayat mengalami kekerasan seksual saat kecil.
  • Saat kecil pernah menyaksikan kekerasan terhadap anggota keluarga lain.
  • Bersikap memusuhi wanita.
  • Punya kecenderungan antisosial.

Faktor hubungan personal, dianggap sebagai kondisi yang selanjutnya memperkuat penyebab dasar yang sudah ada, yaitu:

  • Tergabung dalam kelompok yang menyimpang dan memiliki kecenderungan agresif secara seksual.
  • Memiliki keluarga yang tidak dekat secara emosional.
  • Berada dalam keluarga atau lingkungan yang bernuansa patriarkis kuat.

Faktor lingkungan dan sosial, umumnya memperkuat watak dan kepribadian pelaku, misalnya:

  • Tidak punya pekerjaan.
  • Kemiskinan yang kemudian membentuk identitas sang pria.
  • Lingkungan sekitar menoleransi tindak kekerasan seksual.
  • Sanksi yang tidak tegas terhadap pelaku kekerasan seksual.
  • Tidak adanya peran penegak hukum dalam menindak pelaku kekerasan seksual.
  • Norma sosial yang mendukung superioritas pria dan kekerasan seksual.
  • Hukum yang tidak mendukung kesetaraan gender.

Sementara dari sisi wanita, kekerasan seksual umumnya lebih berisiko terjadi ketika dia menikahi pria yang memiliki kecenderungan di atas, berusia muda, punya banyak pasangan seksual, mengonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang, pernah mengalami pelecehan seksual, berprofesi sebagai pekerja seksual, dan hidup dalam kemiskinan. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan bagi wanita yang berpendidikan lebih tinggi dan lebih kuat secara finansial untuk turut mengalami kekerasan seksual oleh pasangannya.

Menolong Korban Kekerasan Seksual

Korban kekerasan seksual membutuhkan penanganan segera. Jika Anda adalah orang terdekat yang dapat menjangkau korban sesaat setelah mengalami kekerasan, panduan berikut mungkin dapat berguna.

  • Pastikan keselamatan korban. Jangan tinggalkan dia sendirian. Hubungi polisi dan/atau ambulans jika dia membutuhkan bantuan medis secepatnya.
  • Untuk memastikan keberadaan bukti, sebaiknya korban tidak lebih dulu membersihkan badan (mandi, menyisir rambut, mengganti pakaian) sebelum melaporkan tindakan yang dialaminya.
  • Untuk korban pemerkosaan, meski korban saat itu belum berniat melaporkan tindakan yang dialaminya, tapi penting untuk melakukan visum untuk mendapatkan bukti adanya pemerkosaan.
  • Pastikan korban menjalani tes untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit menular seksual untuk mendapatkan penanganan dalam tiga hari pertama setelah tindakan kekerasan.

Mendampingi korban adalah kunci untuk memulihkan korban. Trauma yang dirasakan para korban kekerasan ini dapat berlangsung dalam jangka panjang dan berisiko membawa komplikasi, seperti depresi hingga bahkan kecenderungan untuk bunuh diri.

Memberikan informasi dan pemahaman pada wanita yang berisiko tinggi menghadapi bahaya kekerasan seksual , serta menciptakan program ekonomi atau pemberdayaan untuk kaum wanita adalah sebagian cara untuk mencegah risiko kekerasan seksual.