Bulimia

Pengertian Bulimia

Bulimia nervosa atau bulimia adalah salah satu jenis gangguan pola makan yang serius dan berpotensi mengancam jiwa. Pengidap bulimia memiliki kebiasaan untuk menjaga berat badan dengan tidak makan sama sekali atau makan dalam jumlah kecil, kemudian makan dalam jumlah yang sangat banyak, lalu mengeluarkan makanan tersebut dari tubuh secara paksa dengan cara memuntahkannya atau menggunakan obat pencahar.

Cara yang tidak sehat ini dilakukan oleh pengidap bulimia untuk melenyapkan kalori berlebih yang telah dikonsumsi agar berat badan dan bentuk tubuhnya tetap terjaga. Gangguan mental ini bisa terkait dengan rasa rendah diri tingkat ekstrem, kecanduan minuman keras, depresi, serta kecenderungan menyakiti diri sendiri.

alodokter-bulimia

Seperti gangguan pola makan yang lainnya, bulimia lebih sering dialami oleh wanita. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat sekitar 8 dari 100 wanita yang mengidap kelainan ini. Sebagian besar dialami oleh wanita berusia 16-40 tahun. Rata-rata gangguan ini mulai muncul pada usia antara 18-19 tahun.

Gejala Bulimia

Indikasi utama bahwa seseorang mengidap bulimia adalah kebiasaan untuk melakukan diet ketat dengan tidak makan sama sekali atau hanya makan jenis makanan tertentu (misal: makanan berkalori, berlemak) dalam jumlah yang sangat sedikit, hingga pada suatu saat penderita hilang kontrol dan makan makanan yang sebelumnya dihindari tersebut secara berlebihan, meski dirinya tidak merasa lapar. Kebiasaan ini bisa muncul karena pengaruh masalah emosional, seperti stres atau depresi.

Pengidap kemudian merasa bersalah, menyesal, dan membenci diri sendiri sehingga akan memaksa tubuhnya untuk mengeluarkan semua asupan kalori yang telah masuk dengan cara tidak alami, seperti dengan menggunakan obat pencahar atau memaksakan diri untuk muntah. Seseorang dikatakan mengidap bulimia apabila mengalami siklus ini lebih dari dua kali dalam seminggu selama minimal tiga bulan.

Selain cara tidak sehat tersebut, terdapat beberapa gejala lain yang menandakan bulimia. Di antaranya adalah:

  • Takut gemuk atau merasa kegemukan.
  • Sangat terpaku pada berat badan serta bentuk tubuh, terkadang hingga terasa tidak masuk akal.
  • Selalu beranggapan negatif terhadap bentuk tubuhnya sendiri.
  • Sering lepas kendali saat makan, misalnya terus makan sampai sakit perut atau makan dengan porsi berlebihan.
  • Enggan makan di tempat-tempat umum atau di depan orang lain.
  • Sering bergegas ke kamar mandi setelah makan.
  • Memaksakan diri untuk muntah, terutama dengan memasukkan jari ke kerongkongan.
  • Memiliki gigi dan gusi yang rusak.
  • Berolahraga berlebihan.
  • Menggunakan obat pencahar, diuretik, atau enema setelah makan.
  • Menggunakan suplemen atau produk herba untuk menurunkan berat badan.
Jika Anda merasa mengidap bulimia atau menemukan gejala-gejala bulimia pada orang lain, segera periksakan diri ke dokter. Bulimia yang tidak ditangani dapat memicu komplikasi-komplikasi yang serius.

Penyebab dan Faktor Pemicu Bulimia

Penyebab utama bulimia belum diketahui secara pasti, tapi ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kelainan ini. Faktor-faktor pemicu tersebut meliputi:
  • Jenis kelamin. Bulimia lebih sering dialami oleh wanita daripada pria.
  • Masalah psikologis. Gangguan psikologis yang dimaksud misalnya merasa rendah diri, depresi, stres, perfeksionisme, gangguan stres pascatrauma (PTSD), serta gangguan obsesif komplusif (OCD).
  • Usia. Bulimia umumnya menyerang remaja hingga dewasa dan rata-rata mulai berkembang pada usia 18-19 tahun.
  • Faktor keturunan. Jika memiliki anggota keluarga inti (saudara kandung atau orang tua) yang mengidap bulimia, Anda memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kelainan yang sama.
  • Tuntutan sosial. Misalnya, remaja sering merasa harus menurunkan berat badan karena pengaruh teman-teman, lingkungan, dan media massa.
  • Tuntutan profesi. Contohnya, model harus menjaga makan agar tetap langsing atau atlet yang harus menjaga berat badan dengan ketat.

Diagnosis Bulimia

Pada pemeriksaan tahap awal, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang dialami seperti penanganan pada penyakit lain. Jika kondisi seseorang termasuk dalam kriteria yang mengindikasikan bulimia, dokter kemudian akan menganjurkan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, tes darah, tes urine, serta evaluasi psikologi.

Kriteria utama yang mengindikasikan bulimia adalah siklus makan yang berlebihan disertai dengan upaya mengeluarkan kalori dari tubuh, serta asumsi negatif tentang bentuk tubuh dan berat badan.

Pengobatan Bulimia

Bagian tersulit sekaligus terpenting dalam menangani bulimia adalah membuat seseorang yang mengidap penyakit ini sadar akan kelainan yang dialami. Kesadaran ini sangat diperlukan agar pengidap memiliki keinginan untuk sembuh dan bersedia menjalani pengobatan.

Penanganan utama untuk mengatasi bulimia adalah dengan terapi psikologi. Melalui terapi, pasien akan dibantu untuk kembali membangun sikap dan pikiran positif terhadap pola makan. Proses ini juga akan membantu untuk mendeteksi masalah emosional di balik bulimia.

Ada dua jenis terapi yang dapat dijalani, yaitu terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi interpersonal. Lewat CBT, pasien akan dibantu untuk mengenali pemicu bulimia, misalnya pendapat dan perilaku negatif, lalu belajar untuk menggantikannya dengan pemikiran yang positif dan sehat.

Sedangkan terapi interpersonal akan membantu pasien untuk mendeteksi masalah dalam berhubungan dengan orang lain, sekaligus meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dan menyelesaikan masalah.

Untuk mengurangi gejala, penggunaan penghambat pelepasan selektif serotonin (SSRI) juga terkadang dikombinasikan dengan terapi. Fluoxetine adalah SSRI yang paling sering digunakan dalam menangani bulimia.

Dokter akan memantau perkembangan kondisi serta reaksi tubuh pasien terhadap obat secara berkala selama menggunakan antidepresan. Patut diketahui, obat ini tidak cocok digunakan oleh pengidap bulimia di bawah 18 tahun, penderita epilepsi, memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung, hati, atau ginjal.

Jika Anda mengidap bulimia dan mengalami komplikasi yang serius, Anda sebaiknya menjalani penanganan di rumah sakit. Langkah ini diambil guna mencegah akibat fatal dari komplikasi sekaligus menangani dorongan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

Untuk sembuh dari bulimia, pengidap penyakit ini harus mampu mengubah pola makan, mengubah pola pikir tentang makan, serta meningkatkan berat badan secara perlahan. Semakin lama seseorang mengidap bulimia, semakin sulit untuk menyembuhkannya. Maka dari itu, penanganan lebih baik dilakukan secepatnya.

Langkah penanganan terhadap bulimia umumnya membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dukungan penuh dari teman serta keluarga juga berperan penting dalam menyembuhkan pengidap bulimia. Karena itu, pengidap serta keluarga dianjurkan untuk bersabar dalam menjalaninya.

Komplikasi Bulimia

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bulimia bisa memicu komplikasi yang serius dan bahkan berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Kebiasaan muntah yang terlalu sering akan merusak gigi (akibat asam lambung) dan memicu pembengkakan kelenjar air liur. Kondisi ini juga bisa menyebabkan sakit tenggorokan serta bau mulut.

Kekurangan nutrisi juga termasuk komplikasi serius akibat bulimia. Komplikasi ini dapat memicu dehidrasi, sulit untuk hamil karena siklus menstruasi yang tidak teratur, kulit dan rambut yang kering, kuku yang rapuh, gagal ginjal, serta gagal jantung.

Penggunaan obat pencahar yang tidak terkendali juga bisa berdampak serius, misalnya mengakibatkan kerusakan pada organ-organ pencernaan serta mengganggu keseimbangan kadar senyawa alami tubuh. Ketidakseimbangan ini berpotensi memicu kelelahan, lemas, detak jantung yang tidak teratur, serta kejang.

Pencegahan Bulimia

Memahami tanda-tanda bulimia dan melakukan penanganan secepatnya bisa mencegah bulimia agar tidak berkembang ke tahap yang lebih tinggi. Jika menemukan gejala-gejala bulimia pada anak-anak Anda, Anda bisa melakukan pendekatan secara perlahan kepada mereka.

Pendekatan pertama adalah dengan memberikan motivasi kepada mereka untuk selalu hidup sehat. Hindari komentar-komentar yang berhubungan dengan fisik dan memengaruhi psikologis mereka. Misalnya, menyebut badannya terlalu kurus, terlalu gemuk, atau wajahnya tidak cantik, rambutnya tidak lurus, dan lain sebagainya.

Cara kedua adalah dengan menghentikan kebiasaan memberikan anak Anda hadiah atau hukuman dengan makanan. Ajari anak Anda untuk menjaga tubuh dengan baik dan jadilah contoh yang baik bagi mereka dalam menjaga pola makan dan juga menerapkan gaya hidup yang sehat.