Mengenal Sepsis Neonatorum, Infeksi Darah pada Bayi Baru Lahir

Ditinjau oleh: dr. Kevin Adrian

Sepsis neonatorum adalah infeksi darah yang terjadi pada bayi yang baru lahir. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar satu juta bayi di seluruh dunia meninggal karena sepsis neonatorum. Infeksinya bisa menyerang seluruh tubuh Si Kecil atau terbatas pada satu organ saja.

Beragam penyebab sepsis neonatorum termasuk beberapa jenis bakteri dan virus. Selain itu, sepsis neonatorum juga dapat disebabkan jamur, meski lebih jarang terjadi. Infeksi ini bisa menyebabkan kecacatan hingga kematian pada bayi.

Mengenal Sepsis Neonatorum Infeksi Darah pada Bayi Baru Lahir - alodokter

Gejala-gejala Sepsis Neonatorum

Gejala sepsis pada bayi cenderung tidak spesifik. Hal ini menyebabkan bayi yang terkena sepsis sering dikira mengalami gangguan lain, seperti sindrom distress pernapasan atau pendarahan otak. Namun, bayi yang terkena sepsis neonatorum dapat menunjukkan ciri-ciri seperti:

  • Perubahan suhu tubuh; suhu tubuh bisa rendah atau tinggi (demam).
  • Bayi tampak kuning
  • Muntah-muntah
  • Penurunan kesadaran
  • Kurang mau menyusui
  • Diare
  • Perut membengkak
  • Detak jantung menjadi cepat atau lambat
  • Kejang-kejang
  • Kulit pucat atau kebiruan
  • Sesak napas
  • Gula darah rendah.

Penyebab Sepsis Neonatorum

Berdasarkan waktu terinfeksinya, sepsis neonatorum pada bayi terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Infeksi terjadi saat persalinan (early onset).

Kondisi ini terjadi dalam jangka waktu 24 hingga 72 jam pasca persalinan. Sepsis neonatorum ini disebabkan oleh infeksi bakteri yang berasal dari ibu, seperti Group B Streptococcus (GBS), E.coli, Staphylococcus, H. influenza, dan L. monocytogenes. Virus herpes simpleks (HSV) juga bisa menyebabkan infeksi parah pada bayi yang baru lahir.

Risiko sepsis neonatorum jenis ini lebih tinggi jika Si Kecil lahir prematur, lahir dari Ibu yang mengalami ketuban pecah dini lebih dari 18 jam sebelum persalinan, plasenta dan air ketuban terinfeksi, serta adanya bakteri GBS ketika bayi masih dalam kandungan.

  • Infeksi terjadi setelah persalinan (late onset).

Terjadi dalam jangka waktu 4-90 hari setelah bayi lahir. Kuman penyebab infeksi ini seringkali berasal dari lingkungan seperti bakteri Staphylococcus aureus, Klebsiella, Pseudomonas, Acinetobacter, Serratia, dan bakteri anaerob. Jamur Candida juga dapat menyebabkan sepsis pada bayi.

Risiko terjangkit sepsis neonatorum tipe ini akan meningkat apabila Si Kecil menginap di rumah sakit dalam jangka waktu yang panjang, terlahir prematur, atau terlahir dengan berat badan rendah.

Penanganan Sepsis Neonatorum pada Bayi

Bila Si Kecil menderita sepsis neonatorum, pengobatan harus dimulai secepat mungkin karena sistem imunitas bayi belum sempurna. Bayi dengan sepsis neonatorum perlu mendapat perawatan dan evaluasi ketat di rumah sakit. Dokter kemungkinan akan memberi Si Kecil antibiotik suntikan sedini mungkin sambil melakukan pemeriksaan lengkap.

Pemberian antibiotik dapat diberikan selama 7-10 hari jika tidak ditemukan pertumbuhan kuman pada pemeriksaan kultur darah atau cairan otak. Jika ditemukan bakteri pada pemeriksaan, maka antibiotik dapat diberikan hingga 3 minggu. Sedangkan jika sepsis neonatorum disebabkan oleh virus HSV, Si Kecil akan diberi obat antivirus acyclovir.

Selain diberi obat-obatan, dokter juga akan memantau tanda-tanda vital dan tekanan darah Si Kecil, serta melakukan pemeriksaan darah lengkap. Jika suhu tubuh Si Kecil tidak stabil, dia bisa dimasukkan ke dalam inkubator.

Sepsis neonatorium adalah kondisi serius dan masih menjadi salah satu penyebab utama kematian pada bayi. Maka dari itu Ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan kehamilan rutin ke dokter atau bidan, dan melahirkan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan yang profesional. Dengan pemeriksaan dan pengobatan sedini mungkin, harapan sembuh akan semakin baik.

Referensi