Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah kondisi di mana bayi memiliki berat badan kurang dari 2,5 kilogram saat dilahirkan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh beragam hal. Bayi yang berat badan lahirnya rendah rentan mengalami gangguan kesehatan, sehingga memerlukan perawatan ekstra.  

Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan, terdapat 6,2% bayi yang terlahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di Indonesia. BBLR sering terjadi pada bayi yang lahir prematur (sebelum memasuki usia kehamilan 37 minggu).

Secara fisik, bayi yang memiliki berat badan lahir rendah terlihat kurus, memiliki sedikit jaringan lemak tubuh, dan kepalanya terlihat lebih besar atau tidak proporsional.

Penyebab Berat Badan Lahir Rendah pada Bayi dan Cara Merawatnya - Alodokter

Kebanyakan bayi dengan berat badan lahir rendah yang lahir cukup bulan tidak mengalami gangguan kesehatan di kemudian hari. Tapi jika BBLR terjadi pada bayi prematur, maka dapat muncul beberapa komplikasi berikut ini:

Jika tidak mendapatkan perawatan yang memadai, bayi dengan berat badan lahir rendah yang mengalami berbagai komplikasi di atas akan berisiko tinggi mengalami kecacatan, bahkan kematian.

Penyebab Bayi Lahir dengan Berat Rendah

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan atau meningkatkan risiko seorang bayi terlahir dengan berat badan yang kurang. Beberapa faktor tersebut meliputi:

  • Terlahir dari ibu yang memiliki masalah kesehatan selama hamil, misalnya preeklamsia, tekanan darah tinggi, atau kekurangan gizi.
  • Infeksi selama kehamilan.
  • Adanya kelainan genetik atau cacat bawaan lahir pada bayi.
  • Terlahir dari ibu dengan berat badan kurang selama kehamilan.
  • Usia ibu saat hamil kurang dari 17 tahun atau lebih dari 35 tahun.
  • Kehamilan kembar.

Selain itu, ibu yang memiliki gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan menggunakan narkoba juga lebih berisiko melahirkan bayi dengan berat badan yang rendah.

Oleh karena itu, ibu hamil perlu menghindari berbagai faktor risiko di atas, serta rutin menjalani pemeriksaan kehamilan ke dokter kandungan untuk mencegah dan mengantisipasi kemungkinan bayi terlahir dengan BBLR.

Panduan Merawat Bayi dengan Berat Badan Rendah

Hampir seluruh bayi dengan berat badan lahir rendah perlu dirawat di ruangan perawatan intensif untuk bayi baru lahir (NICU). Perawatan ini akan disesuaikan dengan kondisi bayi, berat badan lahirnya, dan seberapa parah masalah kesehatan yang dideritanya.

Di ruangan tersebut bayi akan mendapatkan perawatan khusus, seperti dihangatkan dalam inkubator, diberikan cairan dan obat-obatan melalui infus, serta diberikan nutrisi sesuai dengan kebutuhannya.

Perawatan ini dilakukan hingga kondisi bayi membaik dan stabil, berat badannya meningkat, serta dokter menyatakan bahwa bayi dapat dirawat di rumah.

Setelah bayi boleh pulang ke rumah, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam perawatan bayi dengan berat badan lahir rendah. Hal-hal tersebut mencakup kebersihan, asupan ASI dan nutrisi, serta lingkungan yang nyaman untuk bayi.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu dilakukan saat merawat bayi dengan berat badan lahir rendah:

1. Memberikan ASI sesuai jadwal

ASI merupakan nutrisi terbaik bagi bayi selama enam bulan pertama kehidupannya. Jadi, sangat disarankan untuk memberikan ASI yang cukup kepada bayi dengan BBLR. Perlu diingat, jangan memberikan asupan lain selain ASI atau susu formula kepada bayi di bawah usia 6 bulan.

Bayi dengan berat badan lahir rendah sebaiknya minum ASI setiap tiga jam atau bahkan dua jam sekali. Jika perlu, bangunkan bayi untuk menyusu bila dia sedang tertidur.

2. Bersentuhan langsung dengan bayi

Bayi yang lahir prematur memiliki jaringan lemak yang tipis, sehingga ia akan kesulitan mempertahankan suhu tubuhnya tetap hangat. Bersentuhan langsung dan menggendong bayi dengan metode kangguru bisa membantu menjaga kehangatan tubuh bayi.

Selain itu, menggendong bayi dengan metode kangguru juga memberikan manfaat lain, seperti:

  • Meningkatkan berat badan bayi
  • Mengatur denyut jantung dan pernapasan bayi
  • Membantu bayi tidur lebih nyenyak
  • Membuat bayi lebih tenang dan nyaman

3. Menemani bayi tidur

Tidur bersama Si Kecil memudahkan Bunda dalam memberikan ASI pada malam hari. Tetapi perlu diingat, tidur bersama bayi bukan berarti harus berada di ranjang yang sama. Bunda bisa mendekatkan tempat tidur Si Kecil di sebelah ranjang Bunda. Selain itu, pastikan untuk selalu menempatkan bayi tidur dalam posisi terlentang.

4. Memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi

Gangguan tumbuh kembang adalah salah satu komplikasi yang cukup banyak terjadi pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Oleh karena itu, pastikan Bunda membawa Si Kecil ke dokter anak secara teratur, agar dokter bisa memantau kondisinya dan mendeteksi kemungkinan adanya masalah tumbuh kembang sejak dini.

5. Melengkapi imunisasi bayi

Bayi prematur dengan berat badan lahir rendah memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga rentan terkena penyakit infeksi. Untuk mencegah terjadinya hal ini, pastikan jadwal imunisasi Si Kecil lengkap dan pemberiannya sesuai waktu yang dianjurkan dokter.

6. Meluangkan waktu lebih banyak bersama bayi

Bayi dengan berat badan lahir rendah perlu senantiasa berada dalam kondisi yang optimal dan lingkungan yang kondusif, agar bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Bunda dapat mendukung tumbuh kembangnya dengan meluangkan waktu untuk menggendong atau mengajaknya bermain. Pilihlah permainan yang sesuai usia Si Kecil.

7. Jangan merasa segan untuk mencari bantuan

Merawat bayi dengan BBLR memerlukan usaha ekstra. Hal ini tentu tidak mudah, apalagi dengan kondisi tubuh Bunda yang masih membutuhkan pemulihan setelah melahirkan.

Agar tidak kewalahan, Bunda bisa meminta bantuan ibu atau mertua setidaknya selama 40 hari pertama setelah melahirkan. Dengan begitu, Bunda dapat beristirahat untuk mempercepat pemulihan dan Si Kecil tetap terawat dengan baik.

Selain beberapa langkah di atas, Bunda juga perlu meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan yang Bunda sukai, serta berolahraga jika sudah merasa siap. Hal tersebut dapat mengurangi stres dan membuat Bunda tetap bersemangat dalam merawat Si Kecil.