Ruam Popok

Pengertian Ruam Popok

Ruam popok adalah peradangan pada kulit bayi di area yang tertutup popok, dan umumnya terjadi pada bokong. Kulit yang mengalami ruam ini akan tampak kemerahan. Ruam popok biasanya terjadi karena reaksi kulit setelah terus menerus bersentuhan dengan urine dan tinja.

Sebagian besar bayi yang memakai popok pernah mengalami ruam popok. Ruam ini umumnya tidak berbahaya. Meski demikian, ruam popok dapat mengganggu kenyamanan sehingga bayi Anda cenderung menjadi lebih rewel.

alodokter-ruam-popok

Popok Sekali Pakai atau Popok Kain?

Pemilihan popok yang tepat umumnya menjadi dilema bagi orang tua. Penelitian telah banyak dilakukan, namun masih belum ada pembuktian jelas mengenai jenis popok mana yang berpengaruh dalam pencegahan ruam.

Popok sekali pakai atau popok kain memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apabila popok sekali pakai merk tertentu menyebabkan kulit bayi Anda teriritasi gantilah dengan merk lainnya. Demikian pula apabila pembersih yang Anda gunakan untuk mencuci popok kain menyebabkan ruam pada bayi, gantilah dengan merk pembersih lainnya. Apa pun pilihannya, yang terpenting adalah menjaga agar kulit bayi tetap kering dan bersih.

Gejala-gejala Ruam Popok

Ruam popok umumnya terjadi pada dua tahun pertama, terutama ketika bayi berusia sembilan bulan hingga satu tahun. Ruam ini juga bisa kambuh selama anak Anda masih memakai popok. Beberapa gejala yang mengindikasikannya adalah:
  • Kulit yang tampak memerah, terutama pada bokong, lipatan paha, paha, dan sekitar alat kelamin bayi.
  • Bayi yang bertambah rewel, misalnya menangis saat bagian yang biasanya tertutup popok disentuh atau dibersihkan.
Jika kulit bayi Anda tidak kunjung membaik atau bertambah parah meskipun Anda sudah memberikan penanganan, sebaiknya periksakan bayi Anda ke dokter. Ruam popok terkadang dapat memicu infeksi yang membutuhkan obat-obatan dengan resep dokter.

Selain itu, periksakan bayi Anda ke dokter jika dia mengalami ruam popok yang menyebar hingga ke luar bagian kulit yang tidak tertutup popok atau disertai demam. Munculnya luka melepuh atau bernanah, serta rasa kantuk yang berlebihan juga biasanya termasuk gejala yang perlu diwaspadai.

Faktor Penyebab Ruam Popok

Terdapat sejumlah faktor penyebab di balik ruam popok. Penyebab-penyebab tersebut meliputi:
  • Kontak yang terlalu lama dengan urine dan tinja. Jika dibiarkan terlalu lama dalam popok, urine dan tinja dapat memicu iritasi pada kulit bayi yang sensitif.
  • Gesekan dan lecet, misalnya karena popok yang terlalu ketat.
  • Iritasi karena produk bayi yang baru digunakan. Contohnya, sabun, bedak, detergen, atau bahan pelembut pakaian.
  • Mengonsumsi antibiotik. Ketika bayi mengonsumsi antibiotik, bakteri alami yang berfungsi menjaga pertahanan kulit juga ikut mati, sehingga ruam popok bisa muncul akibat infeksi jamur atau bakteri jenis lainnya.
  • Pengaruh jenis makanan baru. Struktur tinja serta frekuensi buang air besar pada bayi akan berubah ketika bayi mulai mengonsumsi makanan padat. Perubahan ini dapat memicu ruam popok. Untuk bayi yang minum ASI, makanan, minuman, atau obat yang dikonsumsi oleh ibu, juga akan berpengaruh.
  • Kulit sensitif. Bayi yang mengidap penyakit kulit eksim, lebih beresiko terkena ruam popok.
  • Infeksi bakteri atau jamur. Kulit yang tertutup popok cenderung lembap dan hangat sehingga meningkatkan kemungkinan tumbuhnya bakteri dan jamur.

Pengobatan dan Pencegahan Ruam Popok

Menjaga agar kulit bayi tetap bersih dan kering adalah metode paling efektif dalam menangani sekaligus mencegah ruam popok. Langkah ini dapat Anda lakukan dengan cara-cara sederhana berikut ini.
  • Segera mengganti popok yang kotor dan lakukan sesering mungkin.
  • Bersihkan bagian kulit yang sering tertutup popok secara seksama, terutama saat mengganti popok.
  • Jangan biarkan bayi Anda selalu memakai popok. Kulit bayi juga perlu dibiarkan ‘bernapas’. Makin sering kulit bayi terbebas dari popok dan kena udara, risiko ruam popok juga makin berkurang.
  • Setelah dibasuh, seka kulit bayi Anda perlahan-lahan sampai kering sebelum memakaikan popok baru.
  • Hindari penggunaan bedak. Bedak dapat memicu iritasi kulit, sekaligus iritasi pada paru-paru bayi Anda.
  • Sesuaikan ukuran popok dengan bayi Anda. Jangan menggunakan popok yang terlalu ketat.
  • Hindari penggunaan sabun atau tisu basah yang mengandung alkohol serta pewangi. Kandungan alkohol dan bahan kimianya dapat memicu iritasi serta memperparah ruam.
  • Oleskan krim atau salep pencegah ruam popok tiap mengganti popok bayi Anda. Obat oles yang umumnya memiliki bahan dasar zinc oxide ini juga berguna mengatasi ruam popok.
  • Gunakan popok dengan satu ukuran lebih besar selama bayi Anda menjalani masa penyembuhan dari ruam popok.
  • Basuhlah tangan Anda sebelum dan sesudah mengganti popok.
  • Jika menggunakan popok kain, cucilah popok sampai bersih dan hindari penggunaan pewangi pakaian.
Ruam popok umumnya bisa sembuh tanpa penanganan medis dari dokter. Namun jika ruam popok pada bayi Anda tidak kunjung membaik atau bertambah parah meski sudah ditangani dengan langkah-langkah di atas, sebaiknya periksakan bayi Anda ke dokter.

Dokter akan menanyakan gejala dan faktor-faktor yang mungkin menjadi pemicu terjadinya ruam popok, seperti perubahan bahan makanan, jenis produk bayi dan popok yang digunakan, frekuensi penggantian popok, serta kondisi kesehatan bayi Anda.

Setelah mengetahui penyebab ruam pada bayi Anda, dokter akan menganjurkan beberapa jenis obat untuk mengatasinya. Jenis obat-obatan tersebut dapat meliputi obat oles steroid ringan, seperti salep hydrocortisone, salep antijamur, serta antibiotik oles atau minum.