Saat Anak Terkena Demam Berdarah Dengue

Demam berdarah dengue (DBD) adalah salah satu penyebab kematian anak di sebagian negara Asia, termasuk Indonesia.

Hindari mengabaikan demam pada anak. DBD dapat merenggut nyawanya dalam hitungan hari.

Saat Anak Terkena Demam Berdarah Dengue-Alodokter

Gejala DBD pada Anak

Anak yang mengalami kasus ringan DBD umumnya tidak merasakan gejala apapun. Namun pada kasus yang lebih berat, anak dapat mengalami gejala yang umumnya berupa:
  • Demam.
  • Nyeri di bagian belakang mata.
  • Nyeri pada tulang, otot, dan sendi.
  • Sakit kepala.
  • Mual dan muntah.
Selain itu, anak dapat mengalami bintik-bintik merah pada beberapa bagian tubuh. Pada kondisi yang lebih jarang, dapat terjadi pendarahan ringan dari gusi dan hidung. Gejala ini umumnya terjadi pada 4 hingga 10 hari setelah anak tergigit nyamuk yang terinfeksi virus dengue. Umumnya gejala di atas akan sembuh dalam waktu kurang lebih sepekan.

Namun pada situasi tertentu, gejala dapat memburuk dan mengancam nyawa akibat kebocoran pembuluh darah dan penurunan jumlah trombosit. Situasi ini membawa risiko pendarahan dalam, gangguan pada paru-paru, ginjal, dan jantung serta sakit parah pada bagian perut.

Bagaimana Penanganan yang Tepat?

Segera bawa ke dokter jika anak Anda mengalami beberapa gejala di atas. Dokter akan melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan diagnosis.

Meski tidak ada penanganan khusus untuk DBD, namun ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat keparahan gejala dan membantu kekebalan tubuh dalam melawan virus ini:

  • Pastikan dia mengonsumsi paracetamol jika diresepkan dokter untuk menurunkan demam. Dapat dibantu dengan meletakkan kompres pada dahi.
  • Pastikan anak mendapat cukup istirahat.
  • Berikan banyak cairan pada anak untuk mencegah dehidrasi.
  • Berikan makanan bernutrisi.
  • Hindari memberikan obat pereda rasa sakit seperti aspirin dan ibuprofen karena dapat memengaruhi kadar trombosit dalam darah dan meningkatkan risiko pendarahan.
  • Hindarkan anak dari gigitan nyamuk untuk mencegah penularan virus.
Tidak jarang anak yang terkena DBD harus dirawat di rumah sakit. Sebagai langkah menggantikan cairan yang hilang karena diare, muntah atau kehilangan nafsu makan, dokter akan memberikan cairan melalui infus. Pada kasus anak yang kehilangan banyak darah, perlu dilakukan transfusi darah.

Sayangnya belum ada vaksin untuk DBD. Untuk mencegah anak tidak mengalami DBD, Anda dapat menerapkan cara-cara mencegah demam berdarah.