Tumor Jinak Parotis

Pengertian Tumor Jinak Parotis

Pengertian Tumor Jinak Parotis

Tumor jinak parotis adalah pertumbuhan sel secara tidak normal yang terjadi pada kelenjar parotis, namun sifatnya tidak ganas (malignant).

tumor jinak parotis - alodokter

Kelenjar parotis merupakan salah satu dari tiga buah kelenjar air liur (saliva) yang ada di dalam tubuh manusia. Kelenjar ini merupakan kelenjar air liur terbesar dan terletak pada bagian depan telinga. Gangguan kelenjar air liur yang paling sering terjadi adalah pada kelenjar parotis. Penyebabnya bisa beragam dan tumor merupakan salah satunya, di samping batu pada kelenjar air liur (sialolithiasis), infeksi kelenjar air liur, dan kista.

Tumor jinak kelenjar parotis dapat muncul pada seseorang dalam berbagai bentuk. Klasifikasi tumor jinak parotis dapat dibedakan sebagai berikut:

  • Tumor Campuran (Adenoma Pleomorfis). Tumor campuran atau adenoma pleomorfis merupakan tumor kelenjar parotis yang paling sering terjadi pada manusia. Tumor ini disebabkan oleh pembelahan sel epitel dan mioepitel parotis yang terjadi secara terus-menerus, serta diikuti dengan peningkatan cairan pada ruang kelenjar parotis. Bentuk tumor adenoma pleomorfis adalah lobular, tidak tertutup jaringan normal dengan baik, dan memiliki kecepatan pertumbuhan yang lambat. Tumor parotis jenis ini merupakan penyebab tumor parotis paling umum, yaitu sekitar 80 persen dari seluruh kasus tumor parotis yang terjadi, dengan risiko kekambuhan pasca parotidektomi sekitar 1-5 persen.
  • Tumor Warthin (Adenolimfoma). Tumor Warthin merupakan jenis tumor parotis terbanyak kedua setelah adenoma pleomorfis, yaitu sekitar 5 persen dari seluruh kasus tumor parotis. Tumor Warthin merupakan penyebab paling umum terjadinya tumor jinak pada kelenjar parotis. Tumor Warthin terdeteksi dari terjadinya infiltrasi limfosit serta terbentuknya kista epitel yang diikuti oleh proliferasi kista tersebut. Kebanyakan tumor Warthin terjadi para orang lanjut usia, yaitu pada usia 60-70 tahun. Selain itu, risiko terjadinya tumor ini pada laki-laki lebih besar dibanding pada wanita.
  • Onkositoma. Merupakan tumor yang jarang terjadi, yaitu sekitar 1 persen dari seluruh kejadian tumor parotis. Tumor jenis onkositoma merupakan tumor yang terdiri dari sel jenis oksifilik atau onkosit.
  • Tumor Monomorfik. Tumor yang muncul pada jaringan epitel ini juga termasuk yang jarang terjadi.
Gangguan kelenjar air liur, termasuk akibat tumor jinak, bukan merupakan gangguan kesehatan yang serius. Meskipun demikian, perlu tetap berhati-hati terhadap risiko munculnya tumor kelenjar air liur agar penanganan medis dapat dilakukan dengan baik.

Gejala Tumor Jinak Parotis

Gejala tumor jinak parotis yang sering ditemukan adalah sebagai berikut:
  • Munculnya benjolan pada bagian wajah. Biasanya teramati ketika sedang mencuci muka atau mencukur.
  • Nyeri pada bagian wajah (jarang terjadi). Nyeri muncul biasanya lebih diakibatkan oleh tumor yang pecah atau invasi tumor ganas ke jaringan lain.
  • Paralisis pada saraf wajah. Paralisis pada saraf wajah utamanya disebabkan oleh munculnya benjolan pada parotis yang memiliki kemungkinan ganas. Akan tetapi, kebanyakan paralisis pada saraf wajah dikarenakan Bell’s Palsy.
  • Munculnya benjolan pada bagian pangkal atau ujung kelejar parotis.
Untuk sekedar informasi, berikut ini adalah gejala yang biasanya ada pada kasus tumor ganas parotis guna membedakannya dengan yang jinak:
  • Pelemahan saraf wajah.
  • Pembesaran benjolan.
  • Munculnya luka (ulcer) dan pengerasan pada mukosa atau kulit di sekitar tumor.
  • Terjadinya mati rasa pada daerah di sekitar benjolan.
  • Munculnya nyeri yang semakin parah dari waktu ke waktu.
  • Memiliki riwayat kanker kulit, sindrom Sjogren, atau terapi radiasi pada kepala atau leher.

Penyebab Tumor Jinak Parotis

Tumor parotis disebabkan oleh mutasi DNA pada sel-sel kelenjar parotis. Mutasi pada DNA menyebabkan sel-sel kelenjar parotis mengalami pembelahan dengan cepat dan terus-menerus. Sel-sel yang mengalami pembelahan ini akan membentuk tumor dan jika cukup ganas akan membentuk jaringan kanker. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena tumor parotis adalah sebagai berikut:
  • Usia. Meskipun tumor kelenjar parotis dapat terjadi pada siapa saja, umumnya penderitanya adalah lansia.
  • Paparan radiasi. Radiasi untuk pengobatan kanker pada bagian kepala atau leher dapat meningkatkan risiko munculnya tumor pada kelenjar parotis.
  • Paparan terhadap senyawa kimia tertentu. Beberapa orang yang bekerja pada penambangan asbestos, pabrik pipa atau pabrik karet memiliki risiko terkena tumor kelenjar air liur lebih tinggi.
  • Infeksi virus. Contoh virus yang terkait dengan kemunculan tumor pada kelenjar air iur adalah HIV dan virus Epstein-Barr.
  • Kebiasaan merokok. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko seseorang terkena tumor Warthin 8 kali lebih besar dibanding bukan perokok.
  • Penggunaan telepon seluler. Beberapa penelitian menunjukkan ada dugaan hubungan antara penggunaan telepon seluler secara terus-menerus dengan risiko tumor kelenjar parotis.

Diagnosis Tumor Jinak Parotis

Kunci dari diagnosis tumor parotis adalah untuk menentukan tingkat keganasan (malignansi) dari tumor yang diderita oleh pasien. Langkah-langkah diagnosis tumor parotis adalah sebagai berikut:
  • Pemeriksaan fisik pada bagian kepala dan leher. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan melalui perabaan dengan dua tangan (palpasi bimanual) pada bagian leher untuk memeriksa benjolan pada bagian tersebut serta pada bagian submandibula dan sublingual.
  • Biopsi parotis. Biopsi dilakukan untuk mengambil sampel jaringan kelenjar parotis dan diamati melalui mikroskop. Akurasi pemeriksaan melalui biopsi dapat mencapai 96 persen.
  • Pemindaian. Beberapa langkah pemindaian fisik untuk melakukan diagnosis terhadap tumor parotis adalah sebagai berikut:
    • Foto Rontgen. Foto Rontgen polos tanpa kontras dapat membantu untuk mendeteksi adanya kalsifikasi pada kelenjar parotis.
    • Sialografi. Meskipun jarang digunakan, sialografi dapat membantu untuk mendeteksi kelainan fungsi atau anatomi saluran kelenjar parotis.
    • CT scan. CT scan dapat mendeteksi benjolan pada kelenjar parotis dengan efektif. Akan tetapi CT scan tidak dapat membedakan benjolan yang jinak dan ganas.
    • MRI. MRI dapat mendeteksi benjolan pada kelenjar parotis serta dapat mendeteksi tumor jinak lebih baik dari CT scan dikarenakan memiliki kontras gambar yang lebih baik.
    • PET scan. PET scan dapat mendeteksi benjolan, terutama benjolan ganas, serta dapat mengetahui apakah benjolan ganas tersebut sudah menyebar atau belum.
  • Ultrasonografi. Ultrasonografi dapat membantu dokter untuk mendeteksi karakteristik tumor Warthin dan adenoma pleomorfis, termasuk deteksi bentuk tumor, vaskularitas tumor, dan prevalensi kista jika ada.
  • Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium dapat membantu diagnosis tumor melalui pemeriksaan hematologi dan serologi.

Pengobatan Tumor Jinak Parotis

Pengobatan tumor parotis dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan jaringan tumor semaksimal mungkin, serta mencegah tumor mengalami kekambuhan. Beberapa jenis pengobatan yang umum dilakukan untuk tumor parotis adalah sebagai berikut:
  • Parotidektomi superfisial. Parotidektomi merupakan pemotongan jaringan parotis yang menjadi tumor. Parotidektomi superfisial dilakukan dengan memotong sebagian kelenjar parotis yang mengelilingi tumor. Pada saat dilakukan parotidektomi superfisial, dokter akan menjaga keutuhan jaringan saraf wajah di dekat kelenjar parotis semaksimal mungkin. Untuk menjaga keutuhan saraf wajah, sangat penting untuk dilakukan perkiraan lokasi jaringan saraf yang dekat dengan lokasi tumor sebelum dilakukan pembedahan.
  • Parotidektomi lobus dalam atau parotidektomi total. Parotidektomi lobus dalam dilakukan jika tumor terjadi pada kelenjar parotis bagian dalam atau ukuran tumor sudah cukup besar. Tidak ada batasan anatomi untuk menentukan apakah parotidektomi yang akan dilakukan adalah superfisial atau total. Parotidektomi total dapat dilakukan jika tumor parotis sudah menyebar ke jaringan di sekitar kelenjar parotis.
  • Diseksi ekstrakapsular. Metode ini dapat digunakan untuk mengobati adenoma pleomorfis dengan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan parotidektomi superfisial. Efek samping yang dapat dihindari dengan metode diseksi ekstrakapsular utamanya adalah kerusakan saraf wajah dan paralisis pada wajah.
  • Enukleasi. Metode ini efektif untuk mengobati tumor Warthin dan menghilangkan kelenjar limfa yang terkena tumor. Pada pengobatan adenoma pleomorfis, tidak dianjurkan menggunakan metode enukleasi dikarenakan dapat meningkatkan risiko kekambuhan tumor pada pasien dan menyebabkan kerusakan jaringan saraf.
  • Radioterapi. Terapi menggunakan radiasi dapat dilakukan pasca pembedahan kelenjar parotis. Jika tumor terlalu besar sehingga tidak memungkinkan dilakukan pembedahan, radioterapi dapat digunakan sebagai pengganti pembedahan untuk membunuh sel tumor.
  • Kemoterapi. Jika tumor jinak kelenjar parotis sudah berkembang menjadi tumor ganas (kanker) dan menyebar ke bagian tubuh lainnya, dapat dilakukan kemoterapi. Saat ini kemoterapi bukan merupakan metode standar dalam penanganan tumor jinak parotis.

Komplikasi Tumor Jinak Parotis

Beberapa komplikasi akibat tumor parotis adalah sebagai berikut:
  • Kerusakan saraf wajah yang menimbulkan paralisis temporer maupun permanen. Kerusakan saraf wajah dapat diakibatkan oleh penekanan oleh tumor atau cedera pada saat pembedahan parotidektomi. Risiko kerusakan saraf akan meningkat jika pembedahan dilakukan berulang. Pemantauan kondisi saraf wajah pra operasi dapat menurunkan risiko kerusakan ini.
  • Rekurensi tumor jinak atau ganas. Adenoma pleomorfis harus dihilangkan secara maksimal pada pembedahan pertama dikarenakan rekurensi tumor dapat terjadi secara multifokal dan lebih sulit untuk diobati.
  • Perubahan tumor jinak menjadi ganas. Adenoma pleomorfis yang merupakan tumor jinak dapat berubah menjadi tumor ganas yang disebut carcinoma ex-pleomorphic adenoma. Perubahan tersebut ditandai dengan pertumbuhan tumor secara cepat dan tiba-tiba. Kanker ini sangat agresif dan memiliki prognosis yang buruk.
  • Sindrom Frey. Sindrom Frey merupakan komplikasi yang dapat terjadi pasca pembedahan kelenjar parotis. Orang yang mengalami sindrom ini, pipinya akan memerah dan berkeringat ketika dirinya makan, melihat, atau memikirkan makanan tertentu, terutama makanan yang merangsang produksi air liur. Komplikasi ini disebabkan oleh gangguan saraf pada kelenjar air liur.
  • Berkurangnya kepekaan (hipestesia) indera pendengar. Komplikasi ini dapat muncul jika terdapat kerusakan pada saraf telinga akibat pembedahan maupun penekanan oleh tumor.