Sebagaimana pada gangguan mental lainnya, dokter menggunakan standar Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder (DSM-5) untuk memperoleh diagnosis anoreksia. Pasien akan dinyatakan mengalami anoreksia bila mengalami sejumlah kriteria berikut ini:

  • Membatasi asupan makanan untuk mendapatkan atau mempertahankan berat badan di bawah normal, tanpa mempedulikan energi yang dibutuhkan.
  • Memiliki rasa takut yang besar bila berat badan bertambah atau bila tubuh menjadi gemuk. Ketakutan ini memicu penderita melakukan kegiatan yang bisa menurunkan atau mempertahankan berat badannya, meskipun berat badan sudah di bawah normal.
  • Mengalami gangguan dalam memandang tubuhnya sendiri, seperti terus menerus mengamati bentuk tubuh dan berat badan, serta menyangkal bahwa berat badannya sudah di bawah normal.

Dokter juga dapat menjalankan pemeriksaan fisik, meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, serta mengukur tanda vital pasien, seperti tekanan darah dan detak jantung.

Sejumlah tes juga dapat dilakukan, untuk memastikan diagnosis, menyingkirkan kemungkinan kondisi lain yang menyebabkan penurunan berat badan, serta memeriksa kemungkinan terjadi komplikasi. Beberapa tes tersebut adalah:

  • Tes laboratorium, seperti hitung darah lengkap, kadar elektrolit dan protein dalam darah, pemeriksaan fungsi hati, ginjal, kelenjar tiroid, serta tes urine.
  • Evaluasi psikologis pasien, meliputi tanya jawab untuk mengetahui pola pikir, perasaan, dan kebiasaan makan pasien.
  • Foto Rontgen, untuk mengetahui kepadatan tulang, kemungkinan infeksi paru-paru (pneumonia), dan untuk mengetahui kondisi jantung.