Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan anoreksia. Namun para ahli mengaitkan penyakit ini dengan kombinasi faktor lingkungan, psikologis, dan biologis.

  • Lingkungan. Budaya modern memandang kecantikan atau ketampanan, kesuksesan, dan kekayaan terkait dengan tubuh kurus. Dorongan dari teman sebaya dapat memperkuat keinginan untuk memiliki tubuh kurus, khususnya pada remaja putri.
  • Psikologis. Sejumlah penderita anoreksia memiliki kecemasan yang membuatnya menjalani diet ketat. Penderita juga memiliki dorongan kuat untuk tampil sempurna, karena mereka merasa tidak cukup kurus.
  • Biologis. Meski belum bisa dipastikan jenis gen yang terkait dengan anoreksia, para ahli menduga kondisi ini dipicu oleh perubahan gen.

Faktor Risiko Anoreksia Nervosa

Meskipun bisa dialami juga oleh pria, anoreksia umumnya dialami oleh wanita. Diketahui sebanyak 85-95% penderita anoreksia berjenis kelamin wanita. Gangguan mental ini juga dapat menimpa individu dari berbagai usia, tapi lebih sering terjadi pada remaja, dan jarang dialami oleh mereka yang di atas usia 40 tahun.

Selain jenis kelamin dan usia, sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami anoreksia adalah:

  • Lingkungan keluarga yang tidak harmonis seperti komunikasi yang kurang baik, sering bertengkar, dan sulit mengatasi konflik rumah tangga.
  • Pernah mengalami peristiwa yang menyebabkan trauma, seperti diperkosa atau mengalami perundungan (bullying) terkait berat badan atau bentuk tubuh.
  • Masalah psikologis, seperti sulit mengungkapkan perasaan, tidak menyukai bentuk tubuh sendiri, rendah diri, menerapkan standar tinggi pada bentuk tubuh (perfeksionis), serta mudah merasa cemas, kesepian, depresi, dan marah.
  • Anggapan dan tekanan di masyarakat bahwa bentuk tubuh yang langsing adalah sempurna.
  • Terlahir prematur, memiliki berat lahir rendah, atau terlahir kembar.
  • Ketidakseimbangan kimia otak yang mengatur rasa lapar.
  • Riwayat anoreksia dalam keluarga.
  • Terlalu banyak diet.