Untuk tampil dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna tidaklah mudah. Itu sebabnya pribadi perfeksionis lebih rentan untuk mengalami depresi dibanding orang pada umumnya.

Perfeksionis adalah orang yang selalu berusaha tampil sempurna dengan menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri dan atau orang lain, yang sering kali disertai dengan kritik berlebihan terhadap diri sendiri juga orang lain. Perilaku perfeksionisme dapat terlihat baik pada usia muda maupun dewasa, baik dalam hal pekerjaan, sekolah, maupun lingkungan sosial.

Waspada, Pribadi Perfeksionis Rentan Mengalami Depresi - Alodokter

Perfeksionis Rentan Mengalami Depresi

Seperti halnya ciri kepribadian seseorang, perilaku perfeksionisme bisa menjadi sesuatu yang positif dan sebaliknya. Ada dua jenis perfeksionis, yakni:

  • Perfeksionis adaptif

Ini merupakan jenis perfeksionis yang sehat dan terarah. Perfeksionis adaptif memiliki standar tinggi untuk diri sendiri maupun orang lain, mereka cenderung sangat teliti dan gigih dalam menghadapi kesulitan. Mereka juga tidak bereaksi berlebihan saat menemui kegagalan atau ketika tidak semua tujuannya terpenuhi.

Perfeksionis adaptif fokus pada hal positif dan memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu dengan baik. Perilaku ini juga cenderung dikaitkan dengan kesehatan psikologis yang baik, serta prestasi yang tinggi, baik di sekolah ataupun di tempat kerja.

  • Perfeksionis maladaptif

Ini adalah jenis perfeksionis yang terlalu berlebihan dan tidak sehat. Perfeksionis tipe ini cenderung terlalu sibuk dan terlalu fokus memikirkan kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Selain itu, mereka merasa ketakutan akan melakukan kesalahan, terlalu memikirkan harapan tinggi orang lain terhadapnya, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, takut terhadap penolakan, merasa tidak yakin dengan diri sendiri, tidak yakin apakah upaya yang dilakukannya sudah tepat.

Dikatakan tidak sehat, karena perilaku ini cenderung menimbulkan reaksi yang berlebihan, bisa menyebabkan stres, dan berujung depresi. Misalnya, saking takutnya tidak dapat memenuhi harapan orang lain, perfeksionis jenis ini dapat mengalami sakit perut yang intens ketika ingin menjalani tes atau melakukan presentasi.

Perilaku perfeksionisme maladaptif sering dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, termasuk merasa tidak bahagia, merasa rendah diri yang berlebihan, gangguan makan, insomnia, hingga gangguan obsesif kompulsif.

Mengurangi Sikap Perfeksionis

Tidak mudah mengubah diri seseorang yang memiliki sifat perfeksionisme. Namun untuk menguranginya, dapat dimulai dengan mencoba beberapa langkah berikut ini:

  • Jangan berharap terlalu tinggi dan cobalah untuk menerima orang lain apa adanya. Sadarilah bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, serta dapat membuat kesalahan.
  • Usahakan agar jangan sampai kelelahan, dan sebisa mungkin hindari perasaan kesepian, marah, atau lapar. Orang dengan perfeksionisme akan merasa lebih cemas dan gelisah dalam kondisi-kondisi tersebut.
  • Kurangi memandang rendah diri sendiri.
  • Menerima dan mencintai diri sendiri apa adanya.
  • Menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang terdekat.
  • Cobalah untuk menetapkan tujuan yang lebih realistis dan dapat dicapai, serta fokuslah pada satu tugas dalam satu waktu.

Apabila seorang perfeksionis sudah merasa benar-benar tidak bahagia hingga mengalami depresi, maka ia perlu segera mendapatkan penanganan dari psikolog atau psikiater. Konseling dan psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif, diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengubah cara pandang seorang perfeksionis tentang tujuan dan pencapaian.