Clorilex adalah obat antipsikotik yang mengandung clozapine. Clorilex digunakan untuk mengatasi skizofrenia berat, terutama pada pasien yang tidak merespons obat antipsikotik lain. Obat ini juga bermanfaat untuk mengurangi gejala gangguan skizoafektif.

Clozapine dalam Clorilex bekerja dengan cara menyeimbangkan  beberapa zat kimia di otak (neurotransmitter), seperti dopamin dan serotonin. Ketika kadar zat kimia di otak menjadi seimbang, gejala skizofrenia, seperti halusinasi, delusi, dan perubahan perilaku, akan mereda.

Clorilex

Penggunaan Clorilex bertujuan untuk membuat penderita skizofrenia berpikir lebih jernih dan tidak mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri.

Produk Clorilex

Clorilex hadir dalam bentuk tablet dengan 2 sediaan dosis, yaitu:

  • Clorilex 25 mg tablet, dengan kandungan 25 mg clozapine tiap tabletnya
  • Clorilex 100 mg tablet, yang mengandung 100 mg clozapine per tablet

Apa Itu Clorilex

Bahan aktif Clozapine 
Golongan Obat resep
Kategori Antipsikotik
Manfaat Mengurangi gejala skizofrenia dan keluhan skizoafektif
Meredakan psikosis pada penderita penyakit Parkinson
Digunakan oleh Dewasa dan lansia
Clorilex untuk ibu hamil Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil. 
Jika Anda sedang hamil, sebaiknya konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan obat ini.
Clorilex untuk ibu menyusui Ibu menyusui tidak disarankan untuk menggunakan obat dengan kandungan clozapine, termasuk Clorilex. Bicarakan dengan dokter mengenai pilihan obat lain yang aman selama menyusui.
Bila ibu menyusui menggunakan Clorilex, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan jumlah sel darah putih secara berkala pada bayi. Selain itu, segera beri tahu dokter jika bayi mengalami kantuk berat, hingga enggan menyusu.
Bentuk obat Tablet 

Peringatan sebelum Menggunakan Clorilex

Perlu diketahui bahwa clozapine dalam Clorilex tidak boleh digunakan untuk kondisi psikosis yang terkait demensia meskipun gejala yang dapat ditangani sama. Oleh karena itu, perlu konsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah penggunaan obat ini tepat atau tidak.

Selain itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pasien terkait penggunaan Clorilex adalah:

  • Beri tahu dokter mengenai riwayat alergi yang dimiliki. Clorilex tidak boleh digunakan oleh individu yang alergi terhadap clozapine.
  • Sampaikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang mengalami kelainan darah, penyakit liver, gangguan pernapasan, penyakit ginjal, glaukoma, kolesterol tinggi, depresi, diabetes, pembesaran prostat, atau epilepsi.
  • Pastikan untuk memberi tahu dokter jika Anda atau keluarga memiliki riwayat stroke, penyakit jantung, gangguan irama jantung (aritmia), hipertensi, serangan jantung, kelainan pada hasil EKG, atau henti jantung mendadak pada usia muda.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda sedang sembelit, dehidrasi, atau muntah-muntah, baik sebelum maupun selama menggunakan Clorilex.
  • Bicarakan dengan dokter perihal penggunaan Clorilex jika Anda sedang mengonsumsi obat lain, termasuk suplemen atau produk herbal apa pun. Tujuannya adalah untuk menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan.
  • Pastikan untuk memberi tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Jangan langsung mengemudi atau melakukan aktivitas lain yang memerlukan kewaspadaan bila timbul pusing, kantuk, atau pandangan buram setelah minum Clorilex. Pastikan Anda benar-benar prima sebelum beraktivitas kembali.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol selama menjalani pengobatan dengan Clorilex. Kebiasaan tersebut bisa meningkatkan risiko terjadinya efek samping obat.
  • Jangan merokok selama menggunakan Clorilex, karena dapat menurunkan efektivitas obat ini. Beri tahu dokter jika Anda kesulitan untuk berhenti merokok.
  • Segera ke dokter jika terjadi reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah menggunakan Clorilex.

Dosis dan Aturan Pakai Clorilex

Dokter akan memberikan Clorilex sesuai kondisi yang akan diobati. Berikut ini adalah dosis umum Clorilex berdasarkan usia pasien dan tujuan penggunaannya:

Tujuan: Mengurangi gejala skizofrenia

  • Dewasa: Dosis awal 12,5 mg, 1–2 kali pada hari pertama, yang diikuti dengan 25 mg, 1–2 kali sehari pada hari kedua. Dosis dapat dinaikkan secara bertahap sesuai arahan dari dokter. Dosis harian umumnya adalah 200–450 mg per hari. Maksimal 900 mg per hari.
  • Lansia: 12,5 mg pada hari pertama. Dosis dapat ditingkatkan sampai 25 mg, 1 kali sehari, sesuai respons pasien terhadap pengobatan.

Tujuan: Menangani psikosis pada penderita penyakit Parkinson

  • Dewasa: Dosis awal 12,5 mg, yang dikonsumsi sebelum tidur pada malam hari. Dosis bisa ditingkatkan secara bertahap sesuai arahan dokter. Dosis harian umumnya sebanyak 25–37,5 mg sebelum tidur pada malam hari. Dosis tidak boleh lebih dari 100 mg per hari.

Tujuan: Menurunkan perilaku untuk menyakiti diri sendiri pada pasien skizofrenia

  • Dewasa: Dosis awal 12,5 mg, 1–2 kali per hari. Dosis bisa ditingkatkan secara bertahap sesuai arahan dokter hingga maksimal 900 mg per hari, tergantung pada respons pasien.

Cara Menggunakan Clorilex dengan Benar

Ikutilah anjuran dokter dan bacalah petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan Clorilex sebelum menggunakan obat antipsikotik ini. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa persetujuan dokter.

Agar obat bekerja dengan optimal, ikutilah cara mengonsumsi Clorilex berikut ini:

  • Clorilex bisa dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Telan Clorilex secara utuh dengan bantuan air putih tanpa dibelah, dikunyah, atau dihancurkan terlebih dahulu.
  • Jika Anda lupa minum Clorilex, segera konsumsi obat ini begitu teringat. Namun, jika waktu penggunaan obat selanjutnya sudah dekat, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis berikutnya.
  • Jangan berhenti mengonsumsi Clorilex secara tiba-tiba tanpa arahan dokter, karena bisa memperburuk gejala. Dokter akan mengurangi dosis secara bertahap bila penggunaan obat perlu dihentikan.
  • Lakukan kontrol secara rutin sesuai jadwal yang diberikan oleh dokter sehingga kondisi dan respons terapi dapat terpantau. Anda mungkin akan diminta untuk menjalani tes darah selama menggunakan Clorilex.
  • Simpan Clorilex di tempat bersuhu ruangan, kering, dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.
  • Jangan menggunakan Clorilex yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa.

Interaksi Clorilex dengan Obat Lain

Penggunaan Clorilex bersama obat-obatan tertentu dapat menimbulkan beberapa efek interaksi berikut ini:

  • Peningkatan risiko terjadinya efek samping kantuk berat, linglung, dan tekanan darah rendah bila digunakan dengan alprazolam
  • Peningkatan risiko terjadinya efek samping berat, mulai dari gangguan pernapasan, koma, bahkan kematian, jika digunakan bersama opioid, seperti codeine
  • Peningkatan risiko terjadinya gangguan irama jantung bila digunakan dengan ondansetron, papaverine, sertraline, atau lithium
  • Peningkatan risiko terjadinya penurunan jumlah sel darah putih dan infeksi jika digunakan bersama phenylbutazone atau primaquine
  • Peningkatan risiko terjadinya efek samping Clorilex bila digunakan dengan ciprofloxacin, fluvoxamine, dan pil KB

Selain itu, clozapine dalam Clorilex dapat berinteraksi dengan minuman atau produk yang mengandung kafein. Batasi atau hindari konsumsi minuman maupun makanan berkafein, termasuk teh, cokelat, dan soda, selama menggunakan obat ini.

Untuk menghindari efek interaksi obat yang tidak diinginkan, beri tahu dokter jika berencana menggunakan obat, suplemen, maupun produk herbal tertentu selama menjalani perawatan dengan Clorilex.

Efek Samping dan Bahaya Clorilex

Efek samping yang bisa terjadi setelah menggunakan Clorilex antara lain:

  • Kantuk
  • Sakit kepala atau pusing
  • Mulut kering
  • Sembelit
  • Mual dan muntah
  • Insomnia
  • Sulit buang air kecil
  • Tremor
  • Berat badan naik
  • Berkeringat banyak 

Bicarakan dengan dokter lewat chat jika timbul efek samping di atas dan tidak kunjung reda atau justru memburuk. Segera cari pertolongan medis bila terjadi reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Penggumpalan darah, yang ditandai dengan nyeri dada, sesak napas, serta bengkak dan rasa hangat di kaki
  • Tanda-tanda gangguan irama jantung, seperti detak jantung cepat atau tidak teratur, nyeri dada, sesak napas, serta pusing berat hingga seperti akan pingsan
  • Gula darah tinggi (hiperglikemia), dengan keluhan sangat haus, sering buang air kecil, mudah lelah, dan penglihatan kabur
  • Demam tinggi, otot kaku, banyak berkeringat, detak jantung cepat atau tidak teratur, serta linglung
  • Gangguan fungsi hati, yang ditandai dengan nyeri perut kanan atas, hilang nafsu makan, tinja berwarna pucat, urine berwarna kuning gelap atau cokelat, dan penyakit kuning
  • Kejang