Sodomi merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual yang cukup marak terjadi di masyarakat. Dampaknya pun dapat memengaruhi fisik maupun psikologis korbannya dalam jangka panjang. Oleh karena itu, setiap pelaku sodomi perlu mendapatkan hukuman yang setimpal.   

Sodomi adalah pelecehan seksual yang dilakukan dengan memasukkan penis ke dalam anus. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sodomi dapat diartikan sebagai tindakan pencabulan antara sesama jenis, biasanya antarpria, atau dengan binatang.

Dampak Sodomi bagi Kesehatan dan Hukuman bagi Pelakunya - Alodokter

Tindakan pelecehan ini memberikan trauma mendalam dan dampak jangka panjang bagi korbannya. Namun, banyak korban yang takut melaporkan kasus sodomi yang mereka alami. Padahal, perbuatan sodomi merupakan salah satu kejahatan asusila dan pelakunya dapat dijerat hukuman yang berat.

Dampak Sodomi yang Dialami Korban

Ada banyak dampak sodomi yang dapat dialami korban dan biasanya bersifat jangka panjang. Berikut ini adalah beberapa dampaknya:

Dampak sodomi secara fisik

Perbuatan sodomi tentu akan memberikan dampak negatif pada fisik korban, baik berupa luka atau penyakit menular. Ada beberapa kondisi atau penyakit yang dapat dialami oleh korban sodomi, di antaranya:

Selain itu, korban sodomi juga bisa mengalami masalah dalam berhubungan seksual dan sulit tidur.

Dampak sodomi secara psikis

Selain dampak secara fisik, sodomi juga dapat menyebabkan dampak psikis dan emosional bagi korbannya. Berikut ini adalah dampak psikis yang dapat dialami korban sodomi:

  • Rasa takut berlebihan
  • Kecemasan
  • Mudah marah dan gugup
  • PTSD (post-traumatic syndrome disorder)
  • Gangguan tidur
  • Gangguan makan
  • Rasa percaya diri rendah
  • Depresi
  • Stres

Trauma yang dirasakan oleh korban sodomi juga bisa berdampak pada pekerjaan, termasuk penurunan kinerja atau bahkan tidak mampu bekerja sama sekali. Pada anak-anak, dampak sodomi bisa jadi menghambat aktivitas belajar mereka di sekolah.

Selain itu, ada efek samping jangka panjang jika sodomi terjadi pada pria, yaitu hilangnya rasa percaya diri, bingung dengan identitas seksualnya, takut menjadi homoseksual, hingga homofobia.

Bila trauma yang dialami cukup parah, sodomi dapat menyebabkan korbannya mengalami kecanduan alkohol, penyalahgunaan narkoba, dan bahkan mencoba untuk bunuh diri.

Hukum yang Mengatur Tindak Kejahatan Sodomi di Indonesia

Sodomi membuat para korbannya merasa tidak nyaman, takut, atau cemas. Alasan seseorang melakukan sodomi bermacam-macam, mulai dari ingin menunjukkan kekuasaan, melakukan kekerasan, hingga melakukan kontrol terhadap korban. 

Walau belum diatur secara khusus, perbuatan sodomi dapat dikategorikan sebagai pencabulan dan dalam praktiknya, perbuatan sodomi dapat dikenakan pasal-pasal tentang pencabulan.

Berikut adalah pasal-pasal yang mengatur tentang pencabulan pada orang dewasa dan anak-anak:

Pasal pencabulan terhadap orang dewasa

Pencabulan dapat diartikan segala perbuatan yang melanggar kesopanan atau perbuatan keji yang melibatkan nafsu birahi, termasuk meraba bagian kemaluan dan bersetubuh secara paksa.

Pelaku pencabulan, termasuk sodomi, dapat dijerat Pasal 289 KUHP dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. Selain itu, pelaku sodomi juga dapat dijerat dengan Pasal 290 KUHP dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun.

Pasal pencabulan terhadap anak di bawah umur

Jika sodomi dilakukan sesama jenis terhadap anak di bawah umur dengan pelaku orang dewasa, pelaku tersebut akan dikenakan Pasal 292 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-selamanya 5 tahun.

Sementara itu, perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak di bawah umur diatur secara khusus dalam Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pasal ini mengatur ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda paling banyak 5 miliar rupiah bagi pelaku pencabulan.

Jika Anda melihat, mendengar, atau mengalami tindak pelecehan seksual, termasuk sodomi, segera melapor kepada pihak kepolisian agar dapat dilakukan pengusutan lebih lanjut. Anda juga dapat menghubungi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jika korban yang Anda kenal merupakan anak di bawah umur.

Korban bisa saja takut untuk melaporkan kasus sodomi yang telah dialami. Meski demikian, jangan ragu untuk menemani mereka berkonsultasi ke psikiater atau psikolog guna mengobati dampak secara fisik maupun psikis akibat tindakan sodomi yang mereka alami.