Kasus bully atau perundungan masih sering terjadi di berbagai lingkungan, termasuk sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Perilaku ini dapat menimbulkan dampak buruk, baik bagi korban maupun pelakunya. Oleh karena itu, perundungan perlu dicegah dan dihentikan sedini mungkin.
Bully adalah perilaku yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menyakiti, mengintimidasi, mempermalukan, atau menguasai orang lain, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun psikologis. Perilaku ini umumnya dilakukan secara berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban.

Perundungan paling sering terjadi di lingkungan sekolah, baik sekolah reguler, sekolah inklusi, maupun sekolah luar biasa (SLB). Korbannya umumnya adalah anak atau remaja yang dianggap lebih lemah, berbeda, atau sulit membela diri dibandingkan teman sebayanya.
Namun, bully tidak hanya terjadi di sekolah. Perilaku ini juga dapat terjadi di lingkungan keluarga, dengan pelaku yang bisa saja merupakan orang tua, saudara, atau anggota keluarga lainnya. Dalam banyak kasus, anak yang menjadi korban perundungan memilih menyembunyikan kejadian tersebut atau berbohong karena merasa takut.
Mengenali Efek dan Ciri-ciri Anak Korban Bully
Tindakan bully tidak selalu berupa kekerasan fisik, seperti memukul, menampar, atau menendang. Perundungan juga dapat dilakukan secara verbal, misalnya dengan mengejek, memanggil seseorang dengan julukan yang menghina, menyebarkan gosip, atau mempermalukan korban di depan orang lain.
Seiring berkembangnya teknologi, tindakan bully juga semakin sering terjadi di dunia maya atau dikenal dengan cyberbullying. Pelaku dapat menggunakan media sosial, aplikasi pesan, atau platform digital lainnya untuk mengintimidasi korban, misalnya dengan menyebarkan pesan, foto, atau video yang bersifat menghina atau mempermalukan.
Apa pun bentuknya, tindakan bully dapat memberikan dampak yang serius bagi korban, antara lain:
- Mengalami gangguan kesehatan mental, seperti cemas, depresi, rendah diri, sulit tidur, hingga muncul keinginan menyakiti diri sendiri atau bunuh diri
- Takut atau enggan berangkat ke sekolah
- Prestasi belajar menurun
- Menggunakan maladaptive daydreaming sebagai pelarian dari kenyataan
- Menyalahgunakan narkoba atau zat adiktif lainnya
- Melakukan kekerasan atau balas dendam kepada orang lain
Oleh karena itu, orang tua perlu mengenali perubahan perilaku yang dapat menjadi tanda anak mengalami bully. Beberapa ciri yang perlu diwaspadai meliputi:
- Tidak bersemangat atau sering menolak berangkat ke sekolah
- Nafsu makan berkurang
- Tiba-tiba kehilangan teman atau menghindari pergaulan
- Barang-barang pribadinya sering hilang atau rusak
- Mengalami gangguan tidur
- Kabur dari rumah
- Tampak murung, cemas, atau stres sepulang sekolah maupun setelah menggunakan ponsel
- Memiliki luka atau memar yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya
Jika anak menunjukkan satu atau beberapa tanda di atas, cobalah mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Dengarkan ceritanya tanpa menghakimi dan yakinkan bahwa ia tidak sendirian.
Setelah itu, ajari anak cara menghadapi pelaku bully dengan aman, misalnya menghindari situasi yang berisiko, bersikap tegas dengan mengatakan, "jangan ganggu saya," serta segera melapor kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya.
Hindari mengajarkan anak untuk membalas perundungan dengan kekerasan. Sebaliknya, bantu ia membangun rasa percaya diri, tetap bergaul dengan teman-teman yang suportif, dan terus kembangkan ketangguhannya agar tidak merasa rendah diri akibat perlakuan pelaku bully.
Cara Menghentikan Tindakan Bully
Dalam menghentikan bully, sebenarnya Anda juga bisa turun tangan dengan datang ke sekolah, lalu melaporkan orang yang melakukan kekerasan pada anak Anda. Dengan begitu, pihak sekolah bisa menanganinya secara langsung dan melaporkan kepada orang tua yang bersangkutan.
Para pelaku bully harus segera dihentikan. Jika terus dibiarkan, perilaku ini bisa merusak anak Anda dan generasi muda. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa orang tua lakukan untuk mencegah tindakan bully:
- Tanamkan nilai-nilai moral sejak dini.
- Ajak anak untuk bersama-sama menilai dan membedakan perbuatan yang baik dengan perbuatan yang tidak patut dilakukan pada sesama.
- Bangun komunikasi yang baik dengan anak, serta dampingi ia dalam proses tumbuh kembangnya.
- Ajarkan anak cara bersikap asertif, alias tegas tapi selalu sopan, agar ia tidak mudah ditindas dan menjadi people pleaser.
- Anda juga bisa menasihati anak Anda agar berani melaporkan kepada pengajar di sekolah saat mengalami perilaku bully.
- Jika anak Anda merasa tidak dapat berbicara langsung, mungkin dia bisa menulis surat atau mengirim email kepada mereka.
- Bila anak Anda adalah pelaku bullying, maka ajaklah anak berdiskusi dan cari tahu penyebabnya. Beri ia penjelasan bahwa hal ini bukanlah perilaku terpuji, dan tidak dapat diterima.
- Orangtua bisa mengajak anak (baik pelaku maupun korban) untuk menjalani konseling agar pola pikir dan tingkah lakunya bisa lebih terarah dengan baik.
Hal yang tak kalah penting, jadilah contoh teladan yang baik bagi anak. Sebab sadar atau tidak, anak akan mencontoh orang tua sebagai tolok ukur dalam bersikap.
Dengan dukungan dan kerja sama dari orang tua dan guru, anak bisa menikmati proses belajar di sekolah tanpa tindakan bully. Bila Anda khawatir permasalahan bully memberi efek atau pengaruh yang mengganggu tumbuh kembang anak Anda, jangan ragu untuk berkonsultasi ke psikolog.