People pleaser adalah sebutan bagi seseorang yang cenderung selalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan ketika hal tersebut membuat dirinya tidak nyaman. Kebiasaan ini bisa membuat seseorang sulit menolak, terlalu memikirkan perasaan orang lain, hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Menolong dan berbuat baik kepada orang lain tentu merupakan hal yang positif. Namun, jika dilakukan terus-menerus karena takut mengecewakan orang lain atau merasa tidak enak untuk menolak, kebiasaan tersebut justru dapat membebani.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda, penyebab, dan cara berhenti menjadi people pleaser.
Berbagai Penyebab People Pleaser
Tidak ada satu penyebab pasti yang membuat seseorang menjadi people pleaser. Kebiasaan ini dapat terbentuk dari berbagai pengalaman dan pola pikir yang berkembang dari waktu ke waktu.
Beberapa kondisi yang dapat berperan dalam terbentuknya perilaku tersebut antara lain:
- Rasa tidak percaya diri atau merasa tidak cukup baik
- Takut ditolak, ditinggalkan, atau tidak disukai orang lain
- Pengalaman masa lalu yang membuat seseorang terbiasa menghindari konflik
- Pola asuh atau lingkungan yang membuat seseorang merasa harus selalu memenuhi harapan orang lain
- Pengalaman traumatis, seperti pelecehan atau kekerasan
- Kebiasaan mencari penerimaan dan penghargaan dari orang lain
Memiliki salah satu pengalaman tersebut tidak berarti seseorang pasti menjadi people pleaser. Kebiasaan ini biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Kenali Tanda People Pleaser
Tanda yang paling terlihat dari people pleaser adalah sulit untuk mengatakan tidak atau menolak permintaan seseorang. People pleaser akan berusaha keras untuk melakukan hal yang diminta orang lain demi kebahagiaan orang tersebut.
Selain itu, ada beberapa tanda yang bisa dikenali pada people pleaser, antara lain:
- Merendahkan diri sendiri
- Selalu setuju dengan pendapat orang lain dan mengabaikan pendapat pribadi untuk menghindari perdebatan
- Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain
- Meminta maaf atas hal-hal yang sebenarnya tak perlu
- Menyalahkan diri sendiri
- Tidak memiliki banyak waktu luang untuk diri sendiri
- Merasa takut jika ada orang yang marah
- Membutuhkan pujian untuk merasa berharga
- Tidak pernah pengakui perasaan sendiri, baik itu saat sedih atau marah
- Selalu mau membantu orang lain, tapi sungkan menerima bantuan
Cara Berhenti Menjadi People Pleaser
Sering kali people pleaser menjadi sasaran pertama untuk dilimpahi suatu tugas, karena sudah dikenal akan menerima tugas dengan senang hati. Meski tidak semua orang berniat memanfaatkannya, lama-kelamaan seorang people pleaser akan merasa dirinya dimanfaatkan dan terlalu banyak berkorban.
Dampaknya, seorang people pleaser bisa memendam rasa benci bahkan menjadi frustrasi. Bahkan tak hanya dirinya, keluarga maupun orang terdekat people pleaser pun akan merasa frustrasi dan kesal melihat tingkah lakunya yang pada akhirnya mau saja dimanfaatkan.
Jika ia berada di sekitar orang yang manipulatif, people pleaser juga berisiko mengalami penipuan dan pelecehan. Melihat pola hidupnya yang banyak menguras tenaga dan memendam perasaan, ia juga akan lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan fisik maupun mental.
Sifat ini tentu bukanlah hal yang baik untuk dipelihara. Untuk berhenti menjadi people pleaser, kamu harus melakukan beberapa langkah di bawah ini:
1. Bersikaplah lebih tegas kepada diri sendiri dan orang lain
Rasa tidak enakan dan kurang tegas bisa membuatmu menjadi people pleaser. Mulai sekarang, biasakan bersikap asertif alias tegas pada dirimu sendiri dan orang lain. Jika kamu dimintai bantuan yang di luar kapasitas atau merugikanmu, tolaklah dengan baik dan jelaskan apa yang membuatmu tidak bisa melakukannya.
2. Berpikir dahulu sebelum melakukan sesuatu untuk orang lain
Saling membantu memang sikap yang terpuji. Akan tetapi, kamu sebaiknya berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu untuk orang lain. Amatilah, apakah permintaan tolong tersebut termasuk memanfaatkanmu atau bukan.
3. Jangan meminta maaf jika itu bukan salahmu
Meminta maaflah seperlunya, yaitu ketika kamu memang berbuat salah. Jangan mudah mengucapkan kata maaf bila kesalahan itu bukan kamu yang lakukan. Minta maaf untuk kesalahan orang lain tidak berarti kamu melindunginya, tapi justru membuatnya melepas tanggung jawab.
Hal ini jelas bisa memengaruhi nama baikmu dan merugikanmu. Ingatlah, jangan merasa bertanggung jawab atas kehidupan orang lain. Lebih baik, selesaikan segala kewajiban yang kamu miliki saja, ya.
4. Prioritaskan kebahagiaanmu
Kebahagian bukan hal yang bisa dicari, tapi harus kamu ciptakan sendiri. Jika kamu selalu mengharapkan kebahagiaan dari pujian orang lain atau ucapan terima kasih orang lain setelah membantu mereka, itu bukanlah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Kamu tidak bisa memaksakan respons orang lain terhadap apa yang kamu perbuat. Jika ternyata orang yang kamu bantu sulit untuk puas dengan pekerjaanmu, kapan kamu bisa merasa bahagia? Jadi, carilah sesuatu dari dirimu dan untuk dirimu seorang yang bisa membahagiakanmu, tanpa membutuhkan orang lain.
Menolong orang lain memanglah perbuatan yang baik. Namun, kamu tidak perlu berlebihan sampai merelakan segala cara dan mengesampingkan diri sendiri. Tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa kamu bukanlah alat pembahagia orang lain. Kamu juga harus sadar bahwa kamu bukan hidup untuk orang lain.
Carilah kebahagiaanmu sendiri tanpa mengedepankan kepentingan siapa-siapa. Cintai diri sendiri dan kembangkan potensi yang ada di dalam dirimu. Orang lain bisa datang dan pergi. Jadi, bukan orang lain yang perlu kamu cintai, dirimu sendirilah yang paling layak diutamakan.
Jika setelah menerapkan tips di atas kamu masih belum bisa berhenti menjadi people pleaser, sudah saatnya kamu berkonsultasi dengan psikolog melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER yang dapat memberikan saran yang tepat dan bimbingan untuk mengubah sifat buruk ini.