Sedari kecil, wanita kerap diajarkan oleh keluarga atau lingkungan sekitar untuk selalu bersikap baik hati, manis, atau lembut. Hal ini memang tidak salah. Namun, bila semuanya mulai terasa seperti beban, ini mungkin pertanda kamu mengalami good girl syndrome.

Good girl syndrome merupakan sikap ketika seorang wanita memaksakan dirinya untuk selalu berbaik hati dan menyenangkan orang lain, tanpa memikirkan perasaannya atau bahkan haknya sendiri. Sikap ini membuatnya cenderung menghindari kritik, konflik, penolakan, dan kesalahan.

Good Girl Syndrome, Ketika Bersikap Baik Justru Membuat Tidak Bahagia - Alodokter

Menjadi wanita yang baik hati tentu merupakan sikap terpuji. Akan tetapi, jika dilakukan dengan terpaksa hingga mengorbankan perasaan dan merugikan diri sendiri, sikap ini tidak patut untuk dipelihara.

Ciri-Ciri Good Girl Syndrome

Secara garis besar, sikap good girl syndrome sama dengan people pleaser. Keduanya sama-sama berusaha untuk melakukan apa pun agar tidak mengecewakan orang lain. Mereka juga cenderung patuh dan lebih banyak diam karena khawatir ucapannya akan menyakiti orang lain.

Berikut adalah ciri-ciri good girl syndrome yang perlu kamu kenali:

  • Sulit mengatakan “tidak” dan mengungkapkan apa yang diinginkan
  • Takut membuat orang lain sedih atau kesal
  • Perfeksionis
  • Merasa dituntut untuk berprestasi
  • Terpaksa melakukan hal baik untuk menyenangkan orang lain dan berpura-pura bahagia
  • Sangat taat terhadap peraturan, sekalipun itu adalah aturan kecil yang tidak penting

Cara Melepaskan Diri dari Good Girl Syndrome

Dinamakan good girl syndrome karena sikap ini memang umum dialami oleh perempuan. Anak perempuan cenderung lebih cepat dewasa secara emosional sehingga lebih serius menanamkan nasihat orang tua untuk menjadi anak baik. Kemungkinan terjadinya hal ini akan semakin besar jika pola asuh anak termasuk otoriter.

Penanaman nilai yang sudah dimulai sejak kecil ini kadang membuat beberapa wanita merasa harus sempurna dan sebisa mungkin tidak mendapat respons negatif dari orang lain. Padahal, sebenarnya apa pun yang kamu lakukan harus berdasarkan keputusanmu dan untuk kebaikanmu pula, bukan orang lain.

Good girl syndrome memang kondisi yang biasanya sudah berakar. Namun, tidak ada kata terlambat untuk membebaskan diri dari sikap ini. Berikut adalah cara-cara yang bisa kamu lakukan untuk terbebas dari good girl syndrome:

1. Bersikap asertif

Tanamkan sikap asertif pada dirimu. Sikap ini merupakan kemampuan berkomunikasi dengan cara yang tegas dan jujur, tapi tetap menjaga perasaan orang lain. Dengan sikap ini, kamu akan lebih dihargai dan tidak terus dimanfaatkan oleh orang lain.

Cobalah untuk berani menyampaikan pendapatmu. Katakan “tidak” jika kamu diminta untuk melakukan hal yang bisa merugikan dirimu. Berikan pula alasan yang bijak mengapa kamu tidak mau melakukannya.

2. Hindari merasa bersalah

Jangan merasa bersalah ketika harus menolak permintaan dari orang lain. Hidupmu bukan hanya untuk menyenangkan orang lain. Jadi, selagi kamu memiliki alasan yang jujur dan masuk akal, tidak perlu merasa bersalah, apalagi sampai menyalahkan diri sendiri, ya.

3. Bangun rasa percaya diri

Alih-alih terus melakukan segala hal demi membahagiakan orang lain, lebih baik kamu mengasah kemampuan agar lebih percaya diri. Pelajarilah keterampilan baru atau geluti hobi baru yang selama ini ingin kamu coba, misalnya merajut, mendaki gunung, atau solo traveling.

Dengan begitu, kamu akan lebih fokus pada kelebihanmu daripada kekuranganmu. Kamu pun akan merasa lebih percaya diri, terutama saat orang lain melihatmu berani memutuskan untuk melakukan hal yang kamu sukai dan menekuninya.

4. Cintai diri sendiri

Ketika berhasil mencintai diri sendiri, kamu akan merasa lebih bahagia dan lebih menikmati setiap proses kehidupan yang kamu jalani. Jangan lupa untuk selalu bersyukur atas segala hal yang kamu miliki, ya.

Jika kamu merasa mengalami good girl syndrome, terapkan cara-cara di atas untuk menghentikan sikap ini. Membantu orang lain memang tindakan yang baik, tetapi ingatlah bahwa kamu hidup bukan untuk memenuhi harapan orang lain, melainkan untuk mewujudkan impianmu sendiri dan merasa bahagia.

Cobalah temukan kebahagiaan dan keinginanmu sendiri. Jika merasa kesulitan untuk melakukannya, kamu bisa berkonsultasi kepada psikolog untuk mendapatkan saran dan bimbingan untuk berhenti menjadi people pleaser dan belajar mencintai diri sendiri.