Fungiderm bermanfaat untuk mengobati infeksi jamur di kulit dan kuku, seperti kutu air, panu, kadas, atau kandidiasis. Fungiderm tersedia dalam bentuk salep berukuran 5 mg dan 10 mg.

Fungiderm mengandung bahan aktif clotrimazole yang bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan jamur. Obat ini juga memiliki efek antibakterial, sehingga dapat digunakan pada infeksi jamur yang disertai infeksi bakteri.

Fungiderm

Apa Itu Fungiderm

Bahan Aktif Clotrimazole 1%
Golongan Obat bebas terbatas
Kategori Antijamur
Manfaat Mengobati infeksi jamur
Digunakan oleh Dewasa dan anak-anak berusia 3 tahun ke atas.
Fungiderm untuk ibu hamil dan menyusui

 

Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.

Belum diketahui apakah Fungiderm dapat terserap ke dalam ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.

Bentuk obat Krim

Peringatan Sebelum Menggunakan Fungiderm

Sebelum menggunakan obat ini, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Jangan menggunakan salep Fungiderm jika Anda memiliki alergi terhadap clotrimazole serta obat antijamur golongan azole, seperti ketoconazole atau miconazole.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat lain, suplemen, atau produk herbal.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Segera ke dokter jika terjadi reaksi alergi obat setelah menggunakan Fungiderm.

Dosis dan Aturan Pakai Fungiderm

Dosis dan durasi pengobatan tergantung pada jenis infeksi jamur yang diobati.  Berikut adalah dosis Fungiderm untuk orang dewasa dan anak usia 3 tahun ke atas:

  • Kondisi: kurap atau kadas (tinea corporis)
    Dosis: 2 kali sehari, selama 4 minggu.
  • Kondisi: jamur selangkangan (tinea cruris)
    Dosis: 2 kali sehari, selama 2 minggu.
  • Kondisi: kutu air (tinea pedis)
    Dosis: 2 kali sehari, selama 4–8 minggu.
  • Kondisi: kandidiasis kulit (cutaneous candidiasis), dan panu
    Dosis: 2 kali sehari, selama 2–4 minggu.
  • Kondisi: tinea unguium (jamur kuku)
    Dosis: 2–3 kali sehari, selama 12 minggu, atau sesuai petunjuk dokter. Biasanya harus disertai dengan obat antijamur yang diminum.
  • Kondisi: tinea capitis (infeksi jamur pada kulit kepala), dan tinea barbae
    Dosis: 2–3 kali sehari, selama 10–14 hari atau sesuai petunjuk dokter. Biasanya harus disertai dengan obat antijamur yang diminum.

Cara Menggunakan Fungiderm dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada pada kemasan obat sebelum menggunakan Fungiderm. Jangan mengurangi atau menambah dosis tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Bersihkan dan keringkan kulit sebelum menggunakan Fungiderm krim. Oleskan obat hingga menutupi seluruh area yang terkena infeksi jamur dan area sekitarnya.

Hindari mengoleskan salep Fungiderm di area mata, hidung, mulut, atau vagina. Jika terkena bagian ini, segera cuci dengan air. Jangan lupa juga untuk mencuci tangan setelah menggunakan obat ini.

Jangan menutupi atau melapisi bagian kulit yang sudah diolesi obat dengan bahan apa pun, kecuali atas petunjuk dokter.

Gunakan Fungiderm secara teratur selama waktu yang dianjurkan oleh dokter, meskipun gejala yang dirasakan sudah hilang atau mereda. Menghentikan penggunaan obat sebelum waktu yang disarankan dapat menyebabkan infeksi jamur kambuh.

Beri tahu dokter jika infeksi jamur tidak juga membaik atau malah memburuk setelah menggunakan Fungiderm selama waktu yang ditentukan.

Simpan Fungiderm di tempat yang kering dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Fungiderm dengan Obat Lain

Mengingat Fungiderm mengandung clotrimazole, efek interaksi yang mungkin terjadi jika menggunakan produk ini bersamaan dengan obat tertentu adalah:

  • Peningkatan kadar obat sirolimus, tacrolimus, aripiprazole, lomitapide, neratinib, dofetilide, nimodipine, atau pimozide di dalam darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya efek samping
  • Penurunan efektivitas obat progesterone

Efek Samping dan Bahaya Fungiderm

Kandungan clotrimazole di dalam Fungiderm bisa menyebabkan efek samping berupa kulit terasa perih seperti terbakar atau tersengat, bengkak, kering, kemerahan, atau muncul benjolan seperti jerawat. Bila gejala tidak kunjung hilang atau semakin parah, lakukan pemeriksaan ke dokter.

Segera ke dokter jika muncul reaksi alergi obat setelah menggunakan Fungiderm, ditandai dengan ruam kulit yang gatal, bengkak di wajah, lidah, atau tenggorokan, atau sulit bernapas.