Gangguan Mental Organik: Kondisi yang Memengaruhi Fungsi Mental Anda

Gangguan mental organik umumnya dialami oleh para lansia, namun bisa juga terjadi pada orang yang lebih muda. Gangguan ini dapat berujung pada melemah atau memburuknya fungsi mental dengan gejala-gejala seperti gangguan ingatan, kesulitan dalam melakukan aktivitas harian, dan memahami bahasa.

Gangguan mental organik (organic mental disorder/organic brain syndrome) adalah istilah yang sebelumnya digunakan untuk kondisi yang sebenarnya bernama neurocognitive disorders atau gangguan neurokognitif. Kondisi ini merupakan gabungan dari beberapa gangguan fisik yang dapat memengaruhi fungsi mental Anda.

organic brain syndrome - alodokter

Penyakit yang Termasuk Dalam Gangguan Mental Organik

Selain penyakit Alzheimer yang lebih populer diketahui masyarakat, masih ada kondisi medis lain yang digolongkan sebagai penyakit neurokognitif, di antaranya:

  • Penyakit Parkinson
  • Penyakit Huntington
  • Penyakit Lewy body
  • Cedera otak (Traumatic Brain Injury/TBI)
  • Degenerasi frontotemporal
  • Penyakit Prion
  • Demensia akibat infeksi HIV

Kondisi-kondisi ini dikelompokkan kembali ke dalam penyakit neurokognitif ringan dan berat, berdasarkan tingkat keparahan gejala yang muncul. Ada gangguan mental organik ringan, sementara gangguan mental organik parah secara umum dianggap sebagai demensia. Sebelumnya, semua penyakit neurokognitif memang disebut demensia, walau sebenarnya penggunaan istilahnya kurang tepat.

Kondisi yang Dikaitkan dengan Gangguan Mental Organik

Gangguan mental organik bisa diartikan sebagai penurunan fungsi mental akibat penyakit medis selain penyakit kejiwaan. Berikut adalah kondisi-kondisi yang bisa menyebabkan gangguan mental organik:

  • Cedera otak yang disebabkan oleh luka berat (trauma)
    Kondisi ini melibatkan perdarahan dalam otak atau pada ruang di sekitar otak, penggumpalan darah dalam tengkorak yang menekan otak, dan gegar otak.
  • Gangguan pernapasan
    Kondisi seperti rendahnya kadar oksigen dalam tubuh (hipoksia) dan tingginya kadar karbon dioksida dalam tubuh (hiperkapnia).
  • Gangguan jantung dan pembuluh darah
    Berbagai kondisi seperti stroke, transient ischaemic attack (TIA), endokarditis, dan miokarditis.
  • Demensia yang diakibatkan oleh gangguan metabolisme
    Seperti penyakit ginjal, tiroid, dan kekurangan vitamin B, B12, atau folat.
  • Kondisi yang disebabkan oleh obat-obatan dan alkohol
    Misalnya keracunan akibat penyalahgunaan narkoba dan alkohol, serta kondisi yang bernama sindrom Wernicke-Korsakoff (efek jangka panjang dari konsumsi minuman beralkohol atau malanutrisi berlebihan).
  • Berbagai jenis infeksi
    Contohnya septikemia, infeksi otak, meningitis, dan sifilis stadium akhir.
  • Komplikasi dari penyakit kanker

Jadi, gangguan mental organik secara tidak langsung terjadi akibat kerusakan otak, dan memengaruhi area-area yang terkait dengan kemampuan belajar (pembelajaran) dan ingatan, serta perencanaan dan pengambilan keputusan. Gangguan ini juga memengaruhi kemampuan untuk memahami dan menggunakan bahasa dengan benar, koordinasi gerakan tubuh, juga kemampuan untuk bertindak sesuai norma sosial, seperti menunjukkan empati dan melakukan tugas rutin.

Diagnosis gangguan mental organik dapat dilakukan oleh seorang dokter spesialis saraf (neurologis) atau dokter ahli kejiwaan (psikiater). Penanganan gangguan mental organik perlu didahului dengan mencari penyebab yang mendasarinya dan mengobati gangguan berdasarkan penyebabnya. Orang dengan gangguan mental organik perlu mendapat perawatan dan evaluasi ketat di rumah sakit.

Bentuk penanganan yang bisa diberikan pada penderita penyakit neurokognitif, antara lain adalah pemberian obat-obatan untuk meredakan gejala-gejala yang muncul. Psikoterapi dan dukungan psikososial juga dapat dianjurkan demi menunjang kebutuhan, kesejahteraan, dan kualitas hidup penderita maupun orang-orang di sekitarnya.

Gangguan mental organik memiliki prospek kesembuhan yang berbeda-beda tergantung dari jenis gangguan neurokognitif yang diderita, serta ringan atau beratnya derajat penyakit. Anda dapat berkonsultasi kepada dokter untuk mengetahui lebih jelas kondisi yang dialami, jenis pengobatan, serta berbagai faktor risiko dan komplikasi dari penyakit ini

Ditinjau oleh : dr. Kevin Adrian

Referensi