Dokter dapat mendiagnosis hepatitis C melalui tes darah. Ada 2 jenis tes darah yang dilakukan untuk mendiagnosis penyakit ini, yaitu:

  • Tes antibodi hepatitis C
    Tes ini dilakukan untuk mendeteksi antibodi (kekebalan tubuh) yang dihasilkan tubuh untuk melawan virus. Bila positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan apakah penyakit hepatitis C menjadi kronis atau tidak. Pemeriksaan antibodi hepatitis C akan tetap positif walaupun seseorang sudah sembuh dari hepatitis C.
  • Tes genetik virus (HCV RNA)
    Jika tes ini menunjukkan hasil positif, artinya tubuh gagal membunuh virus tersebut, dan hepatitis C sudah berkembang menjadi kronis. Tes ini juga dapat menentukan respon pengobatan.

Setelah mengetahui bahwa pasien menderita penyakit hepatitis kronis, dokter akan memeriksa tingkat kerusakan hati pasien dengan beberapa tes tambahan, seperti:

  • Tes darah
    Tes fungsi hati melalui darah dilakukan untuk mengetahui kadar protein atau enzim di dalam aliran darah, yang dapat menunjukkan kerusakan pada hati.
  • Transient elastography (fibroscan)
    Fibroscan dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan atau mengerasnya jaringan hati.
  • Magnetic resonance elastography (MRE)
    Tes ini juga bertujuan untuk melihat kondisi hati dan mengerasnya jaringan hati.
  • Biopsi hati
    Dengan bantuan USG, dokter gastroenterologi akan mengambil sampel jaringan hati, yang selanjutnya akan diperiksa di laboratorium.