Apabila ditangani secara dini, kerusakan hati pada penderita hepatitis C dapat dicegah dan dihambat. Karena itu, orang-orang yang berisiko tinggi tertular penyakit ini disarankan untuk menjalani pemeriksaan hepatitis C secara berkala. Misalnya, para pengguna obat-obatan terlarang, pekerja medis, serta orang yang pernah menjalani transfusi darah atau transplantasi organ.

Proses pemeriksaan ini dilakukan melalui tes darah. Ada 2 jenis tes darah yang dianjurkan untuk mendiagnosis penyakit ini, yaitu:

  • Tes antibodi. Keberadaan hepatitis C mengindikasikan bahwa Anda pernah terpapar virus tersebut, tapi belum berarti Anda masih menderita penyakit ini.
  • Tes Polymerase Chain Reaction atau PCR. Tes ini digunakan untuk memeriksa keberadaan virus hepatitis C dengan mendeteksi apakah virus masih aktif berkembang biak dalam tubuh Anda atau tidak. Hasil yang positif berarti tubuh Anda belum sepenuhnya memberantas virus dan infeksi sudah memasuki tahap kronis.

Jika kedua hasil tes di atas menunjukkan hasil positif, Anda akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan fungsi hati. Proses ini dapat dilakukan melalui tes darah, USG, dan biopsi. Tes-tes ini bertujuan untuk memeriksa tingkat kerusakan yang terjadi pada organ hati serta jenis virus hepatitis C. Genotipe virus hepatitis C terbagi dalamĀ 6 jenis dan masing-masing memiliki respons berbeda terhadap langkah-langkah pengobatannya.