Jenis pengobatan yang akan dijalani penderita hepatitis C tergantung pada tingkat kerusakan hati, serta genotipe virus yang diidapnya. Sementara tingkat kesembuhannya tergantung pada beberapa faktor, terutama genotipe virus hepatitis C yang diidap dan jenis pengobatan yang dijalani pasien.

Tetapi jika positif terdiagnosis mengidap hepatitis C, Anda belum tentu membutuhkan langkah pengobatan. Sebagian besar hepatitis C akut dapat sembuh tanpa penanganan khusus. Dokter akan menganjurkan tes darah untuk memantau apakah sistem kekebalan tubuh pasien berhasil memberantas virus selama beberapa bulan.

Apabila virus tetap ada, dokter umumnya akan memberikan obat pegylated interferon dan ribavirin. Obat-obatan tersebut akan diberikan lewat suntikan mingguan selama 48 minggu. Jika dibutuhkan, dokter juga akan menganjurkan obat-obat lain seperti simeprevir, sofobuvir, daclatasvir, kombinasi ledipasvir dan sofosbuvir, serta kombinasi ombitaisvir, paritaprevir dan ritonavir.

Sama seperti obat lain, obat-obatan hepatitis C berpotensi menyebabkan efek samping. Misalnya, tidak nafsu makan, anemia, demam, mual, depresi, gatal-gatal pada kulit, kecemasan, sulit berkonsentrasi, serta sulit mengingat sesuatu.

Saat ini telah dikembangkan jenis obat antivirus baru yang lebih efektif. Obat terbaru hepatitis C disebut direct antiviral agent (DAA) yang terbukti lebih aman, efektif, dan dapat ditoleransi tubuh. Waktu penyembuhan hepatitis C dengan DAA juga lebih singkat, yaitu sekitar 4 bulan.

Obat-obatan hepatitis C (khususnya ribavirin) berpotensi membahayakan janin. Karena itu pengobatan hepatitis C pada ibu hamil umumnya dilakukan setelah pengidap melahirkan.

Obat-obatan hepatitis C (khususnya ribavirin) berpotensi membahayakan janin. Karena itu pengobatan hepatitis C pada ibu hamil umumnya dilakukan setelah pengidap melahirkan.

Di samping penanganan medis, Anda juga bisa melakukan langkah-langkah sederhana untuk membatasi kerusakan yang terjadi pada hati. Misalnya, menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang. berolahraga dengan teratur, berhenti merokok, serta menghindari konsumsi minuman beralkohol.

Harap diingat bahwa jika pernah mengidap dan sembuh dari hepatitis C, bukan berarti tubuh Anda memiliki kekebalan sepenuhnya terhadap virus tersebut. Meski sudah pulih, penderita hepatitis C harus berhati-hati karena tetap memiliki risiko untuk kembali terinfeksi penyakit yang sama.