Hepatitis C tidak selalu harus diobati. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, hampir 50% penderita hepatitis C akan sembuh sendiri akibat sistem kekebalan tubuh yang baik.

Begitu juga bila infeksi sudah menjadi kronis, tidak semua hepatitis C akan mengakibatkan komplikasi. Oleh karena itu, dokter gastroenterologi akan menentukan perlu atau tidaknya pengobatan.

Bila dokter menentukan diperlukan pengobatan, target dari pengobatan tersebut adalah sembuh, bukan sekadar menekan pertumbuhan virus. Dengan pengobatan terkini, lebih dari 90% penderita dapat sembuh dari hepatitis C.

Pengobatan tersebut meliputi:

  • Obat antivirus
    Obat ini umumnya perlu dikonsumsi 12 minggu, tergantung kondisi pasien. Jika diperlukan, dokter bisa memberikan beberapa jenis obat antivirus. Obat antivirus yang dapat mengobati hepatitis C antara lain adalah sofosbuvir, simeprevir, dan ritonavir.
  • Vaksinasi hepatitis A dan hepatitis B
    Vaksin hepatitis B dan hepatitis A dilakukan untuk mencegah penderita hepatitis C terkena hepatitis A atau B. Hepatitis A dan hepatitis B dapat menimbulkan kerusakan hati tambahan dan memperparah komplikasi dari hepatitis C kronis.

Selain mendapat pengobatan, pasien hepatitis C akan dianjurkan dokter untuk melakukan perubahan gaya hidup, seperti:

  • Berolahraga secara teratur
  • Berhenti merokok
  • Tidak minum alkohol lagi
  • Makan makanan dengan gizi seimbang
  • Tidak berbagi penggunaan barang pribadi, seperti sikat gigi dan alat cukur
  • Menghindari konsumsi obat tanpa anjuran dokter

Pada pasien yang sudah mengalami komplikasi dari hepatitis C, yaitu sirosis atau kanker hati, dokter dapat menyarankan untuk melakukan cangkok hati. Dokter bedah akan menukar hati pasien yang rusak dengan sebagian organ hati dari donor. Setelah cangkok hati, beberapa pasien perlu meminum obat antivirus agar infeksi tidak menyebar pada organ hati yang baru.