Perbedaan serangan jantung dan GERD sering kali sulit dikenali karena keduanya sama-sama menyebabkan nyeri dada. Sayangnya, salah memahami gejala dari kedua kondisi ini bisa berujung fatal. Hal ini karena serangan jantung memerlukan penanganan darurat, sedangkan GERD umumnya masih bisa diatasi dengan obat lambung.
Nyeri dada yang muncul tiba-tiba kerap membuat panik. Tidak sedikit yang mengira gejala tersebut hanya karena asam lambung naik. Padahal, tidak jarang nyeri dada menandakan serangan jantung. Memahami perbedaan serangan jantung dan GERD sangat penting, agar penanganan sesuai dan tidak terlambat.

Perbedaan Serangan Jantung dan GERD
Perbedaan serangan jantung dan GERD memang tidak mudah dikenali. Namun, ada sejumlah ciri khas yang bisa Anda perhatikan untuk membantu membedakannya, seperti:
1. Letak dan tipe nyeri dada
Pada serangan jantung, nyeri dada biasanya muncul di tengah atau agak ke kiri dada. Rasa nyeri ini sering digambarkan seperti ditekan benda berat, tertindih, atau tercekik. Nyeri dapat berlangsung lebih dari beberapa menit, terasa terus-menerus, dan bisa menyebar ke lengan kiri, punggung, leher, bahkan ke rahang.
Kadang nyeri disertai rasa tidak nyaman atau sensasi tertekan yang sangat mengganggu.
Sementara itu, pada GERD, nyeri umumnya berupa sensasi panas, perih, atau terbakar di tengah dada (heartburn). Rasa panas ini sering muncul setelah makan banyak, atau mengonsumsi hidangan berlemak, pedas, dan asam, serta bisa bertambah parah saat posisi tubuh membungkuk atau berbaring.
Nah, perbedaan serangan jantung dan GERD yang paling signifikan ialah nyeri GERD biasanya tidak menyebar ke lengan atau rahang.
2. Reaksi terhadap pengobatan
Perbedaan berikutnya adalah reaksi tubuh terhadap penanganan awal. Jika nyeri dada membaik setelah minum obat antasida, kemungkinan besar penyebabnya adalah GERD. Pada kondisi GERD, gejala akan berkurang secara perlahan setelah lambung netral kembali.
Sebaliknya, saat serangan jantung, nyeri dada tidak membaik bahkan setelah minum obat antasida. Malahan, rasa nyeri bisa menetap atau semakin parah meski sudah beristirahat dan mencoba pengobatan rumahan.
Itulah sebabnya, perbedaan serangan jantung dan GERD dari reaksi obat harus benar-benar diperhatikan, terutama jika obat antasida tidak meredakan gejala.
3. Gejala penyerta
Serangan jantung biasanya disertai gejala lain yang cukup khas dan serius. Selain nyeri dada, penderitanya bisa mengalami sesak napas, jantung berdebar-debar, lemas, keringat dingin, kulit pucat, mual, muntah, hingga pusing atau pingsan.
Terkadang, serangan jantung juga disertai kecemasan hebat atau perasaan bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Sebaliknya, pada GERD, gejala penyerta lebih ringan, misalnya adanya rasa asam atau pahit di mulut akibat naiknya asam lambung, batuk kering atau batuk saat malam hari, serta suara serak karena iritasi pita suara.
Gejala tambahan pada GERD cenderung berkaitan dengan saluran pencernaan bagian atas, bukan gejala sistemik seperti pada serangan jantung.
4. Faktor risiko
Mengenali faktor risiko bisa membantu mengenali perbedaan serangan jantung dan GERD. Orang yang berisiko tinggi terkena serangan jantung biasanya memiliki kondisi tertentu, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, obesitas, minim aktivitas fisik, berusia di atas 40 tahun, atau riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
Sementara itu, GERD lebih rentan dialami oleh mereka yang memiliki pola makan tidak teratur, sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, asam, atau pedas, minum kopi atau alkohol secara berlebihan, obesitas, stres, serta kebiasaan merokok dan sering makan larut malam.
GERD juga dapat dipicu oleh kehamilan atau kondisi yang menyebabkan tekanan pada perut meningkat.
Kapan Harus Waspada
Tidak semua nyeri dada menandakan serangan jantung, ya. Meski begitu, ada beberapa tanda yang harus diwaspadai agar perbedaan serangan jantung dan GERD bisa segera dikenali dengan tepat, di antaranya:
- Nyeri dada sangat berat atau seperti ditekan
- Nyeri menjalar ke lengan kiri, punggung, leher, atau rahang
- Disertai sesak napas, keringat dingin, mual, muntah, lemas, atau pingsan
- Tidak membaik setelah istirahat maupun setelah minum antasida
Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, secepatnya cari pertolongan medis atau kunjungi IGD rumah sakit terdekat walau Anda punya riwayat asam lambung. Semakin cepat penanganan diberikan, semakin besar harapan untuk pulih.
Jangan tunda hanya karena merasa yakin keluhan berasal dari lambung, sebelum memastikan perbedaan serangan jantung dan GERD melalui pemeriksaan medis. Untuk memastikan nyeri dada disebabkan oleh serangan jantung atau GERD, dokter akan melakukan pemeriksaan, termasuk pemeriksaan fisik dan penunjang, seperti EKG dan tes enzim jantung.
Tips Membedakan Serangan Jantung dan GERD
Agar bisa mengenali perbedaan serangan jantung dan GERD secara akurat, ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan:
- Catat kapan nyeri dada timbul dan faktor pemicunya.
- Perhatikan gejala lain yang muncul bersamaan.
- Jangan menunda konsultasi dengan dokter jika ragu.
- Jangan sembarangan minum obat tanpa saran dokter, terutama bila nyeri dada terasa berat atau memburuk.
Perlu diingat, serangan jantung tidak selalu muncul dengan gejala yang parah. Nyeri ulu hati ringan pun bisa menandakan gejala awal serangan jantung. Oleh karena itu, jangan sepelekan keluhan nyeri dada. Cermati dengan teliti perbedaan serangan jantung dan GERD, agar Anda bisa segera menentukan langkah selanjutnya.
Gejala serangan jantung dan GERD memang tumpang tindih. Jadi, penting untuk mengetahui perbedaan serangan jantung dan GERD secara detail. Jika Anda mengalami nyeri dada yang mencurigakan, terutama yang berat, menjalar, atau disertai sesak, segera datangi fasilitas kesehatan terdekat.
Apabila masih ragu dengan perbedaan serangan jantung dan GERD, konsultasikan melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan jawaban yang tepat.