Sampai sekarang, ada banyak mitos puasa yang masih dipercaya sebagian masyarakat, mulai dari puasa dapat memicu stres sampai puasa bikin makan jadi berlebihan. Mari ketahui mitos puasa apa saja yang sebaiknya tidak kamu percaya, agar kamu mendapatkan manfaat puasa secara maksimal.

Puasa tidak hanya semata-mata dilakukan dalam rangka menunaikan ibadah saja. Faktanya, puasa sudah dibuktikan bermanfaat bagi kesehatan oleh banyak penelitian dan telah dijadikan salah satu metode diet yang disebut puasa intermiten.

Jangan Percaya Sederet Mitos Puasa Ini! - Alodokter

Meski begitu, di balik banyaknya manfaat puasa, masih ada orang yang percaya berbagai anggapan salah tentang dampak berpuasa. Padahal, kebanyakan mitos tentang puasa tidak terbukti kebenarannya.

Fakta dari Mitos tentang Puasa

Berikut ini adalah berbagai mitos puasa dan fakta di baliknya yang penting kamu ketahui:

1. Puasa mengganggu proses metabolisme tubuh

Banyak yang percaya jika makan dengan frekuensi sering bisa meningkatkan metabolisme tubuh. Dari anggapan inilah puasa dinilai akan mengaktifkan mode kelaparan dan membuat proses metabolisme tubuh jadi lebih lambat.

Padahal, kenyataannya tidak demikian. Menjalani puasa dalam rentang waktu yang tepat dan tidak berlebihan justru bisa meningkatkan metabolisme. Peningkatan metabolisme tentunya akan meningkatkan pembakaran kalori dan lemak. Dengan begitu, bisa terjadi penurunan berat badan.

2. Olahraga saat puasa membuat tubuh jadi lemas

Anggapan ini tidaklah benar. Selama dilakukan dengan cara yang tepat, olahraga saat puasa justru bisa membuat tubuh lebih bugar dan fit, bahkan bisa membantu mengontrol berat badan.

Supaya tidak kelelahan dan mudah haus, pilihlah jenis olahraga dengan intensitas rendah, seperti berjalan kaki, bersepeda santai, atau yoga, dan jangan dilakukan secara berlebihan.

3. Puasa memicu stres dan susah fokus

Puasa dipercaya dapat meningkatkan kadar hormon stres, yaitu kortisol, dan membuat susah fokus akibat tidak adanya asupan karbohidrat. Namun faktanya, kedua anggapan ini tidaklah benar.

Puasa justru bisa menjaga kadar kortisol tetap normal, meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, dan menjaga tekanan darah stabil. Jika dilakukan dengan cara yang tepat, puasa juga diketahui bisa menjaga kesehatan otak dan sistem saraf, hingga meningkatkan konsentrasi.

4. Puasa saat menyusui dapat mengganggu pertumbuhan bayi

Jika ibu menyusui dalam keadaan sehat, maka tidak ada salahnya untuk berpuasa. Jumlah ASI yang diproduksi juga tidak akan berkurang, kok.

Selama puasa, tubuh masih bisa menggunakan cadangan lemak guna memproduksi ASI. ASI yang diproduksi selama puasa juga diketahui tidak akan berkurang nilai gizinya, sehingga pertumbuhan bayi tidak akan terganggu. Jadi, Busui tidak perlu khawatir berlebihan, ya.

Namun, jika Busui memiliki kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter, agar puasa yang akan dijalani nantinya tetap aman bagi Busui dan Si Kecil.

5. Puasa bikin makan berlebihan

Memang sih tidak sedikit orang yang jadi makan berlebihan saat berbuka puasa. Akibatnya, banyak dari mereka yang merasakan perut kembung, begah, hingga mengeluhkan naiknya berat badan.

Padahal sebenarnya, penelitan membuktikan bahwa sebagian besar orang yang berpuasa justru memiliki jumlah asupan kalori yang lebih rendah jika dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa. Jadi, anggapan bahwa puasa bikin makan jadi berlebihan ini memang sangat tergantung pada masing-masing orang.

Supaya kamu tidak makan berlebihan saat berbuka puasa, biasakan untuk makan sesuai dengan porsi normalmu saja dan selalu mulai buka puasamu dengan minum air putih.

6. Sahur boleh dilewatkan

Anggapan satu ini merupakan salah besar. Faktanya, sahur penting untuk dilakukan, karena sahur merupakan bekalmu untuk menjalani puasa selama seharian penuh. Pilihlah menu sahur yang mengandung gizi seimbang, termasuk protein, karbohidrat kompleks, dan lemak sehat.

Kini kamu sudah tahu kebenaran mitos puasa yang beredar di masyarakat. Agar ibadah puasamu lancar dan kamu pun mendapatkan manfaatnya secara maksimal, kamu harus lebih kritis dalam memilah informasi.

Bila kamu ingin mencari kebenaran sebuah informasi atau memastikan agar bisa berpuasa dengan aman, sesuai kondisi kesehatanmu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.